Gejolak konflik global kembali memunculkan kekhawatiran baru: ancaman krisis pangan yang datang bukan melalui senjata, melainkan melalui terganggunya pasokan dan naiknya harga kebutuhan pokok. Ketika jalur energi dan distribusi dunia terguncang, dampaknya dapat merembet hingga ke rumah tangga, memengaruhi apa yang tersedia di meja makan.
Salah satu titik yang kerap disorot dalam eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran adalah Selat Hormuz. Selat yang berada di wilayah Iran itu disebut sebagai salah satu jalur energi terpenting dunia, dilintasi sekitar 20 juta barel per hari minyak dan produk minyak. Kapal pengangkut minyak dari negara-negara Timur Tengah melewati Selat Hormuz sebelum menuju berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam situasi perang, Iran disebut melakukan penutupan jalur tersebut. Meski kapal Pertamina dilaporkan telah dibiarkan melintas, gangguan alur di kawasan itu secara historis kerap memicu lonjakan harga energi. Kenaikan harga energi kemudian berpotensi merembet ke biaya pupuk dan pada akhirnya memengaruhi harga pangan.
Ketahanan pangan berkaitan langsung dengan kesehatan publik. Gangguan pada produksi, distribusi, maupun akses pangan dapat berdampak pada status gizi masyarakat. Dalam kerangka paling sederhana, setiap gejolak global pada akhirnya menguji satu hal: apakah masyarakat masih bisa memperoleh makanan yang cukup, aman, dan bergizi.
Kerentanan Indonesia dinilai meningkat karena ketergantungan pada komoditas impor, terutama gandum dan kedelai. Ketika pasokan atau harga komoditas global terguncang, pilihan pangan masyarakat bisa menyempit dan risiko masalah gizi seperti anemia, wasting, atau kekurangan mikronutrien berpotensi meningkat.
Di titik inilah diversifikasi pangan kembali mengemuka sebagai strategi penting. Ketergantungan pada satu sumber karbohidrat, termasuk beras, dinilai berisiko. Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal seperti sagu yang tumbuh di daerah basah, sorgum yang tahan kekeringan, talas dan singkong yang dapat dipanen berulang, hingga berbagai umbi-umbian yang selama ini belum mendapat peran besar dalam sistem pangan nasional.
Pangan lokal dipandang bukan sekadar alternatif, melainkan bentuk “asuransi biologis” menghadapi ketidakpastian global. Sejumlah pangan lokal juga disebut memiliki nilai gizi yang tidak kalah dari komoditas impor: sagu sebagai sumber energi, sorgum yang kaya serat dan antioksidan, singkong yang berpotensi sebagai pangan fungsional, serta umbi-umbian nonberas yang dinilai memiliki indeks glikemik lebih ramah bagi metabolisme.
Namun, manfaat tersebut dinilai baru akan terasa jika pangan lokal ditempatkan sebagai pilar utama, bukan sekadar pelengkap. Bagi kalangan gizi, diversifikasi pangan juga berarti memperluas ragam zat gizi. Semakin bervariasi konsumsi pangan, semakin kecil risiko kekurangan nutrisi makro dan mikro. Sebaliknya, pola makan yang monoton membuat tubuh tidak memperoleh spektrum nutrisi yang dibutuhkan untuk menjaga imunitas dan kesehatan jangka panjang.
Krisis global juga dipandang sebagai alarm karena gangguan energi dapat mengerek harga pupuk, sementara harga pupuk berpengaruh terhadap produksi. Ketika produksi turun, kelompok masyarakat miskin disebut menjadi pihak pertama yang merasakan dampaknya. Karena itu, isu pangan tidak hanya diposisikan sebagai persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kesehatan bangsa.
Sejumlah program penguatan pangan lokal dan stabilisasi harga disebut menunjukkan meningkatnya kesadaran bahwa krisis global perlu dihadapi dengan strategi domestik. Penguatan rantai pasok dalam negeri dinilai dapat menekan risiko gejolak gizi di masyarakat. Dalam konteks pengendalian inflasi, Bank Indonesia disebut turut memperkuat rantai pasok, terutama untuk menekan inflasi pada komponen Komponen Bergejolak (Volatile Food) yang dominan dipengaruhi kejutan seperti panen, gangguan alam, serta perkembangan harga komoditas pangan domestik dan internasional.
Di sisi konsumsi, perubahan kebiasaan makan menjadi salah satu pekerjaan besar. Paduan sorgum, jagung, umbi, lauk nabati seperti tempe, tahu dan kacang-kacangan, protein hewani terjangkau seperti telur atau ikan, serta sayur dan buah lokal musiman disebut dapat membantu menjaga kecukupan energi dan mikronutrien ketika harga komoditas impor meningkat.
Penguatan pangan lokal juga dikaitkan dengan peran pelaku usaha, termasuk UMKM, dalam menyediakan alternatif bahan pangan dan protein. Data UKMIndonesia.id mencatat UMKM menyerap sekitar 97% tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 60% PDB. Digitalisasi, termasuk penggunaan QRIS, disebut dapat memperluas pasar dan menekan biaya transaksi. Memperkuat UMKM pengolah bahan lokal dinilai dapat memperluas akses pangan bergizi yang terjangkau sekaligus mengurangi eksposur terhadap impor.
Pada akhirnya, diversifikasi pangan berbasis lokal dipandang bukan sekadar upaya menjaga tradisi, melainkan strategi gizi, ekonomi, dan ketahanan. Fokusnya adalah memastikan rantai pasok lebih tangguh dan keluarga tidak bergantung pada satu sumber karbohidrat maupun protein, sehingga piring di rumah tangga tetap terisi cukup dan bergizi di tengah ketidakpastian global.

