NATO dan Uni Eropa sama-sama menjadi pilar penting di Eropa, namun memiliki peran berbeda. NATO berfungsi sebagai mekanisme pertahanan utama, sedangkan Uni Eropa merupakan organisasi integrasi politik dan ekonomi. Perbedaan fungsi itu tercermin dalam cara keduanya merespons Rusia, terutama setelah hubungan Rusia dan Barat memburuk dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam beberapa waktu terakhir, ketegangan militer di Eropa Timur disebut terus meningkat seiring langkah-langkah NATO yang memperkuat kehadiran di dekat perbatasan Rusia. Pada saat yang sama, sejumlah pejabat Uni Eropa justru mengirim sinyal untuk meredakan ketegangan melalui pernyataan dan kunjungan diplomatik ke Rusia. Kombinasi langkah yang tampak berlawanan ini memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan Eropa terhadap Moskow dan kemungkinan pemulihan hubungan Rusia–Eropa.
Salah satu simbol penguatan postur militer NATO adalah penempatan aset militer Amerika Serikat. Pada 25 April, dua jet tempur F-35A terbaru AS terbang ke Pangkalan Udara Amari dekat Tallinn, Estonia. Selama beberapa pekan, keduanya menjalani misi latihan bersama AS dan sekutu NATO. Komandan Angkatan Udara AS Evans menyebut pesawat tersebut sebagai representasi perubahan kemampuan. Pangkalan Amari sendiri berjarak sekitar 225 kilometer dari perbatasan Rusia, sehingga penempatan itu dipandang sebagai sinyal kedekatan NATO dengan wilayah Rusia.
Selain itu, NATO melanjutkan rangkaian latihan dan pengerahan pasukan di kawasan sekitar Rusia. Pada 5–15 Maret, tujuh negara NATO menggelar latihan gabungan “Poseidon 2017” di perairan Rumania di Laut Hitam bagian barat. Akhir Maret, pasukan multinasional NATO mulai berkumpul di pangkalan militer Orzysz di perbatasan Polandia untuk penugasan enam bulan. Pada 17 April, latihan “Summer Shield” yang melibatkan 12 negara NATO dimulai di Latvia, dengan skenario pertahanan terhadap senjata pemusnah massal dan rudal. Sebelum latihan di Latvia berakhir, NATO kembali memulai latihan lain di Jerman, termasuk merekrut personel yang dapat berbahasa Rusia.
Rusia merespons peningkatan aktivitas NATO dengan langkah-langkahnya sendiri. Pada 28 Maret, Presiden Vladimir Putin menandatangani perintah untuk menaikkan jumlah personel angkatan bersenjata Rusia dari 1,885 juta menjadi 1,903 juta pada Juli. Pada 31 Maret, kapal selam multiguna bertenaga nuklir kelas Yasen kedua, “Kazan”, diluncurkan di Severodvinsk. Angkatan Laut Rusia juga menggelar latihan di Laut Baltik dan Laut Hitam di tengah latihan-latihan NATO, membentuk situasi saling berhadapan di kawasan.
Di tengah eskalasi militer, jalur diplomasi Uni Eropa menunjukkan nada berbeda. Moskow menyambut kunjungan Wakil Presiden Komisi Eropa sekaligus Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan, Federica Mogherini. Dalam sambutannya, Mogherini menyatakan Uni Eropa dan Rusia pernah bekerja dalam perspektif kemitraan strategis dan Uni Eropa ingin kembali ke situasi tersebut. Saat bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov pada 24 April, Mogherini juga mengatakan Uni Eropa tidak berencana menjatuhkan sanksi kepada Rusia “selamanya” dan tetap bersedia mengembangkan kerja sama.
Hubungan Rusia–Uni Eropa memburuk tajam setelah krisis Ukraina yang membuat relasi kedua pihak turun ke titik terendah sejak Perang Dingin. Dalam laporan ini disebutkan, ketegangan dan pertentangan itu membuat kedua pihak membayar harga besar, sehingga pesan yang lebih hangat dari pejabat Uni Eropa dinilai sebagian kalangan dapat membuka pintu dialog.
Namun, perbedaan sikap antara NATO dan Uni Eropa menimbulkan dilema: siapa yang lebih mencerminkan hubungan Eropa dengan Rusia. Dalam kerangka Uni Eropa, negara-negara yang disebut “Eropa lama” seperti Jerman, Prancis, dan Italia digambarkan memiliki kedekatan ekonomi dengan Rusia dan cenderung ingin mengendalikan krisis agar hubungan tidak terus memanas. Di sisi lain, dinamika keamanan dan langkah NATO yang terus menguat di Eropa Timur dinilai dapat menghambat peluang penghangatan hubungan Rusia–Uni Eropa.
Kunjungan Kanselir Jerman Angela Merkel ke Rusia pada 2 Mei menjadi salah satu sinyal penting. Jerman disebut sebagai negara Uni Eropa yang paling dekat dengan Rusia, dan pada 2014 Merkel berperan dalam komunikasi antara Rusia dan Barat. Meski begitu, sejumlah pengamat memperkirakan kunjungan tersebut lebih bertujuan mengurangi ketegangan ketimbang memecahkan kebuntuan.
Salah satu sumber ketegangan baru adalah penempatan 450 tentara Jerman ke Lithuania pada Februari sebagai bagian dari rencana NATO meningkatkan pasukan garis depan melawan Rusia. Dalam laporan ini, langkah itu disebut sebagai pertama kalinya Rusia “melihat” militer Jerman dikirim ke dekat wilayahnya sejak Perang Dunia II. Sebagai respons simbolik, Kementerian Pertahanan Rusia disebut membangun replika gedung Reichstag di pinggiran Moskow dan melatih pemuda Rusia untuk menyerangnya, memicu kontroversi dan memunculkan tafsir bahwa Rusia memandang Jerman sebagai “musuh hipotetis”.
Di tingkat NATO, Sekretaris Jenderal Jens Stoltenberg menyatakan aliansi akan meningkatkan kehadiran di Polandia serta Estonia, Latvia, dan Lituania. Laporan ini juga menggambarkan peningkatan skala dan frekuensi latihan NATO di negara-negara sekitar Rusia seperti Lithuania dan Polandia, serta pengembangan kekuatan lapis baja. Rusia, pada saat yang sama, meningkatkan penempatan militer di Kaliningrad, sepanjang perbatasan Rusia–Ukraina, dan di Krimea, serta menggelar latihan sebagai respons terhadap latihan NATO.
Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran tentang terbentuknya kembali garis konfrontasi yang ketat di Eropa Timur dan risiko munculnya “Perang Dingin” versi kawasan. Dalam laporan ini disebutkan, Jerman dan AS mengerahkan senjata berat serta empat batalion “pasukan elit” di kawasan, masing-masing sekitar 1.000 personel. Disebut pula bahwa AS dan NATO menempatkan peralatan berat yang dinilai cukup untuk memobilisasi tiga batalion. Sementara itu, laporan ini menyebut Rusia mengerahkan 300.000 personel di Ukraina dan Laut Baltik beserta alat beratnya.
Akar ketegangan modern Rusia–Barat dalam laporan ini ditautkan pada krisis Ukraina. Pada 21 November 2013, mantan Presiden Ukraina Viktor Yanukovych disebut menolak menandatangani perjanjian bergabung dengan Uni Eropa dan memilih mendekat ke Rusia, memicu protes dan instabilitas. Pada Februari 2014, pemerintah Ukraina digulingkan, lalu Rusia mengirim pasukan ke Krimea dan menganeksasinya. AS dan Uni Eropa kemudian menerapkan sanksi terhadap Rusia, mengeluarkan Rusia dari G8, dan Rusia membalas dengan sanksi ekonomi terhadap Eropa. Tiga tahun setelahnya, “simpul” masalah Ukraina disebut masih belum mencair.
Uni Eropa juga digambarkan berada dalam posisi sulit: tidak mudah melupakan isu Krimea, namun juga menanggung dampak ekonomi dari sanksi dan balasan sanksi. Mengutip penelitian Austrian Institute of Economic Research, laporan ini menyebut sanksi dan kontra-sanksi menyebabkan Uni Eropa kehilangan 17,6 miliar euro dan 400.000 pekerjaan pada 2015. Kondisi ini disebut memperberat ekonomi Uni Eropa yang stagnan, sementara perdagangan AS dengan Rusia dalam laporan ini disebut meningkat.
Di tengah dinamika itu, kebijakan Amerika Serikat menjadi faktor yang dinilai memengaruhi ruang gerak Eropa, mengingat kepemimpinan AS di NATO. Pada 11 April, Presiden Donald Trump menandatangani dokumen yang mengonfirmasi Montenegro bergabung dengan NATO, dan pada Mei negara itu resmi menjadi anggota ke-29. Ekspansi ini disebut sebagai perluasan pertama setelah Albania dan Kroasia bergabung pada 2009.
Trump juga beberapa kali menyampaikan pandangan keras tentang NATO dan Eropa, termasuk menyebut NATO “usang” dan terlalu mahal, serta mengkritik kontribusi negara anggota. Ia juga menyampaikan penilaian negatif terhadap kebijakan pemimpin Eropa dan menyebut Brexit sebagai hal yang “hebat”, serta menyerukan penghentian perundingan TTIP. Namun, terkait Rusia, Trump menyatakan ia memperkirakan dapat memiliki hubungan yang sangat baik dengan Putin dan Rusia. Sikap ini memunculkan kekhawatiran di Eropa tentang kemungkinan tercapainya kompromi AS–Rusia yang mengabaikan kepentingan Eropa, yang dalam laporan ini disebut sebagai ketakutan akan “Konferensi Yalta kedua”.
Meski demikian, “bulan madu” AS–Rusia yang dibayangkan tidak terjadi. Laporan ini menyinggung peluncuran 59 rudal Tomahawk AS ke Suriah pada 6 April, yang dinilai memperburuk hubungan kedua negara. Trump menyatakan hubungan AS dan Rusia berada pada titik terendah, sementara Putin mengatakan tingkat saling percaya dalam hubungan kerja Rusia–AS belum membaik dan bahkan memburuk, terutama di bidang militer.
Dalam perkembangan lain, Trump menyatakan NATO tidak lagi “usang” karena, menurutnya, aliansi telah membuat perubahan dan memerangi terorisme. Pada 24 April, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross bertemu Komisaris Perdagangan Uni Eropa Anna Malmstrom untuk membahas langkah mendorong perundingan TTIP, yang dalam laporan ini disebut mulai dibahas kembali. Media disebut menilai pemerintahan AS kembali ke jalur strategis tradisional yang pro-Uni Eropa dan anti-Rusia, meski arah kebijakan tetap dipenuhi ketidakpastian.
Laporan ini menyimpulkan bahwa, meskipun ada sinyal-sinyal diplomasi untuk membuka dialog Rusia–Uni Eropa, ketegangan struktural antara NATO dan Rusia serta ketergantungan keamanan Eropa pada AS membuat pemulihan hubungan tidak mudah. Dalam situasi yang berubah cepat, Rusia dan Eropa disebut masih mencari kemungkinan titik temu kepentingan, namun terlalu dini untuk memastikan apakah upaya ini akan menghasilkan penghangatan hubungan yang nyata.

