Transformasi ekonomi Indonesia saat ini diarahkan pada penguatan struktur industri yang lebih terintegrasi melalui optimalisasi sumber daya alam di dalam negeri. Pemerintah secara bertahap menggeser orientasi dari ekspor bahan mentah menuju pengolahan bernilai tambah melalui kebijakan hilirisasi yang disusun secara sistematis. Dalam agenda ini, Badan Pengelola Investasi Danantara diposisikan sebagai instrumen utama untuk mengelola modal sekaligus menggerakkan sektor industri prioritas, serta menjadi penghubung masuknya investasi global yang berkelanjutan ke dalam ekosistem ekonomi nasional.
Peran Danantara turut disorot dalam kunjungan kenegaraan Presiden ke Amerika Serikat. Dalam forum bisnis US Chamber of Commerce di Washington D.C., Presiden menegaskan Indonesia sebagai tujuan investasi yang kompetitif, stabil, dan menjanjikan. Komitmen itu diperkuat dengan penandatanganan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang disebut memberi kepastian hukum dan akses pasar lebih luas bagi kedua negara, serta menjadi sinyal kesiapan Indonesia mengintegrasikan rantai pasoknya dengan ekonomi global melalui kemitraan yang setara.
Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga CEO Danantara, Rosan P. Roeslani, menyatakan kesepakatan ART membuka peluang transaksi strategis di berbagai sektor, mulai dari penerbangan hingga ketahanan energi. Di antaranya rencana pembelian unit pesawat Boeing serta peningkatan kerja sama impor energi yang diproyeksikan mencapai angka signifikan per tahun. Danantara, menurutnya, dihadirkan untuk memastikan investasi yang masuk tidak berhenti pada capaian statistik, melainkan menghasilkan nilai tambah bagi ekonomi domestik melalui transfer teknologi dan penguatan infrastruktur industri.
Di dalam negeri, pemerintah menargetkan replikasi keberhasilan hilirisasi nikel ke komoditas strategis lain, terutama bauksit. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengingatkan pelarangan ekspor bijih nikel sejak 2020 telah mendorong kenaikan nilai ekspor produk turunannya hingga sepuluh kali lipat dalam waktu singkat. Keberhasilan itu disebut menjadi acuan untuk pengelolaan bauksit, mengingat Indonesia memiliki cadangan yang melimpah secara global dan pengembangan industri aluminium nasional dinilai penting bagi kedaulatan ekonomi.
Melalui Danantara dan MIND ID, pemerintah menyiapkan peta jalan integrasi rantai pasok bauksit–alumina–aluminium. Salah satu langkahnya adalah pembangunan fasilitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, yang dirancang untuk mengurangi ketergantungan impor alumina dan memperkuat basis produksi aluminium dalam negeri. Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan proyek-proyek tersebut sebagai kontribusi dalam memperkuat kedaulatan negara di sektor mineral.
Pemerintah menilai dampak ekonomi hilirisasi berpotensi besar. Secara perhitungan, pengolahan bijih bauksit menjadi aluminium disebut dapat meningkatkan nilai tambah hingga 70 kali lipat. Kenaikan nilai ini diproyeksikan berdampak pada peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan negara, dan cadangan devisa. Selain itu, industri manufaktur diharapkan memperoleh kepastian pasokan bahan baku dengan harga lebih kompetitif, yang pada gilirannya dapat memperluas lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Di luar mineral konvensional, Danantara juga mulai diarahkan ke sektor yang lebih maju, yakni pengembangan unsur tanah jarang atau rare earth elements (REE). Melalui kolaborasi strategis dengan mitra internasional seperti New Energy Metals Holdings Ltd, Indonesia mengevaluasi potensi rantai pasok global yang mencakup sumber daya niobium dan REE, yang disebut menjadi komponen penting bagi teknologi masa depan, termasuk kendaraan listrik, energi terbarukan, dan industri pertahanan tingkat lanjut.
Kepala Badan Industri Mineral, Brian Yuliarto, menyatakan kemitraan semacam ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan dunia terhadap kapasitas industri Indonesia. Dengan Danantara sebagai platform pembiayaan dan partisipasi investasi, Indonesia menargetkan pembangunan pusat pemrosesan hilir yang kompetitif di pasar mineral kritis global. Arah ini disebut sejalan dengan misi Presiden untuk menjadikan Danantara motor penggerak inisiasi proyek-proyek hilirisasi baru setiap tahun, termasuk proyek inovatif seperti pengolahan sampah menjadi energi.
Dalam berbagai kesempatan, Presiden juga menyampaikan keyakinan bahwa fundamental ekonomi Indonesia berada dalam kondisi sehat, ditopang pertumbuhan stabil, inflasi terkendali, dan disiplin fiskal yang terjaga. Dengan menggabungkan kekuatan sumber daya alam, stabilitas politik, serta visi industrialisasi, Indonesia berupaya memperkuat posisinya dalam rantai pasok global. Pemerintah menegaskan kebijakan hilirisasi yang didukung Danantara ditujukan agar pengelolaan kekayaan alam memberi nilai tambah bagi perekonomian nasional.

