Yogyakarta, 2 April 2026 — Perang modern kerap tidak hanya hadir sebagai kekerasan yang terjadi di medan konflik, tetapi juga sebagai kekerasan yang dijelaskan, dibenarkan, dan pada akhirnya diterima sebagai sesuatu yang tampak rasional. Dalam dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan serta asimetri kekuasaan, perang dipahami bukan semata produk ketimpangan struktur global, melainkan juga hasil dari cara manusia berpikir, merasa, dan mengambil keputusan.
Tulisan ini menyoroti perang sebagai interaksi kompleks antara relasi kekuasaan, ketergantungan sumber daya, dan bias kognitif-moral para aktor kunci. Sejumlah kerangka analisis digunakan untuk membaca dinamika tersebut, antara lain Resource Dependence Theory, Stakeholder Theory, dan Stakeholder Salience Framework, yang dipadukan dengan pendekatan dari Neurosains Kognitif dan Neuroetika.
Dalam kerangka itu, ketegangan Iran–Israel serta keterlibatan Amerika Serikat diposisikan sebagai ilustrasi bagaimana keputusan individu dan dinamika yang disebut sebagai “otak kolektif” dunia dapat mendorong eskalasi konflik. Ketegangan semacam ini tidak berhenti pada pertarungan kepentingan, melainkan juga pertarungan narasi—tentang siapa yang benar, siapa yang bertahan, dan siapa yang dianggap layak diserang.
Di balik narasi yang saling berhadapan, konsekuensi perang tetap nyata: nyawa manusia hilang, sistem sosial runtuh, dan dampaknya menjalar melampaui batas geografis konflik. Dalam perspektif kajian perdamaian, situasi ini kerap dipahami sebagai bentuk kekerasan struktural, yakni penderitaan yang tidak hanya dihasilkan oleh tindakan langsung, tetapi juga oleh sistem yang menopangnya.
Dampak tersebut dapat muncul dalam bentuk yang tidak selalu langsung dikenali sebagai “perang”, seperti kenaikan harga energi, tekanan ekonomi global, dan meningkatnya kecemasan kolektif. Rangkaian efek ini dipandang sebagai perpanjangan dari konflik, yang memperluas penderitaan ke wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kekerasan.
Pada akhirnya, kegelisahan utama yang diangkat adalah adanya sesuatu yang ganjil dalam cara dunia modern memahami perang: kehancuran disaksikan, tetapi penjelasan yang terdengar logis kerap lebih dominan. Dalam situasi seperti ini, semakin besar skala kekerasan, semakin canggih pula cara kekerasan itu diterangkan—hingga tampak masuk akal.

