BERITA TERKINI
Citrini Research Susun Skenario Krisis 2028: Saat AI Mengerek Produktivitas, Konsumsi Manusia Justru Ambruk

Citrini Research Susun Skenario Krisis 2028: Saat AI Mengerek Produktivitas, Konsumsi Manusia Justru Ambruk

Firma riset investasi Citrini Research bersama analis Alap Shah menyusun sebuah “eksperimen pemikiran” yang menggambarkan potensi krisis ekonomi global pada Juni 2028. Dalam skenario tersebut, tingkat pengangguran disebut melonjak hingga 10,2 persen dan pasar saham mengalami penurunan tajam.

Rangkaian gagasan itu dituangkan dalam laporan berjudul The 2028 Global Intelligence Crisis, berupa memo makroekonomi fiktif yang seolah ditulis pada 30 Juni 2028. Citrini Research menekankan bahwa dokumen tersebut bukan prediksi pasti dan bukan pula narasi kiamat, melainkan simulasi risiko ekstrem jika AI berkembang melampaui ekspektasi dan menggantikan manusia terlalu cepat sebelum sistem ekonomi beradaptasi.

Dalam skenario itu, periode “masa keemasan” terjadi pada 2026 ketika AI dinilai mendorong produktivitas dan efisiensi perusahaan. Sentimen positif terhadap AI mengangkat pasar saham, dengan sektor teknologi menjadi motor utama. Per Oktober 2026, S&P 500 digambarkan mendekati 8.000 dan Nasdaq menembus 30.000.

Namun, euforia tersebut disertai gelombang awal pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak awal 2026. Sejumlah perusahaan mengurangi tenaga kerja karena sebagian fungsi dianggap dapat digantikan sistem AI dan otomatisasi, memunculkan istilah human obsolescence. Bagi pemegang saham, PHK massal dipotret sebagai pemangkasan biaya yang memperlebar margin keuntungan, sementara keuntungan itu kembali diputar untuk membeli komputasi AI, GPU, serta infrastruktur pusat data.

Citrini Research menggambarkan kondisi ini sebagai ilusi pertumbuhan: output riil per jam meningkat pesat, tetapi fondasi konsumsi manusia mulai rapuh. Laporan tersebut menekankan bahwa mesin tidak berbelanja, sementara konsumsi manusia disebut menyokong sekitar 70 persen ekonomi. Ketika kluster GPU mampu menghasilkan output setara 10.000 pekerja kantoran, skenario itu menyebutnya sebagai “pandemi ekonomi”.

Dari situ muncul istilah “Ghost GDP” atau PDB Hantu: output produksi tercatat tinggi, tetapi uang tidak berputar dalam ekonomi riil karena kelas menengah dan pekerja kerah putih kehilangan pendapatan, menahan belanja, dan memperlambat perputaran uang.

Laporan itu juga merinci “lingkaran setan” efisiensi perusahaan: kemampuan AI meningkat sehingga kebutuhan pekerja berkurang; PHK menghapus pendapatan; konsumsi turun; perusahaan ritel dan barang konsumsi tertekan; lalu perusahaan kembali memangkas pekerja dan berinvestasi lebih besar pada AI; siklus berulang karena AI makin murah dan canggih. Citrini Research menilai krisis semacam ini berbeda dari resesi siklikal karena bersifat struktural—bukan dipicu suku bunga atau gelembung aset, melainkan oleh menyusutnya nilai ekonomi kecerdasan manusia.

Dalam skenario tersebut, pekerjaan kerah putih seperti programmer, analis, konsultan, dan manajer produk termasuk yang paling terdampak. Citrini Research menggambarkan bahwa 20 persen kelompok berpenghasilan tertinggi—yang disebut menyumbang sekitar 65 persen belanja konsumsi—kehilangan pekerjaan atau mengalami pemotongan gaji besar, sehingga basis konsumen menyusut drastis.

Di sisi lain, AI membuat pengembangan dan peluncuran fitur perangkat lunak menjadi jauh lebih mudah dan murah. Namun, ketika semua perusahaan memiliki akses ke AI yang mumpuni, diferensiasi produk digambarkan melemah dan persaingan berubah menjadi perang harga yang menekan margin keuntungan.

Puncak krisis dalam memo fiktif itu terjadi pada 2028, saat ekonomi yang bergantung pada konsumsi menemui jalan buntu karena jutaan pekerja kerah putih yang tergantikan tidak lagi memiliki pendapatan. Citrini Research menuliskan metrik fiktif berupa penurunan porsi pendapatan tenaga kerja terhadap PDB dari 56 persen menjadi 46 persen dalam waktu singkat. Tingkat pengangguran disebut menembus 10,2 persen dan memicu aksi jual besar-besaran. Dalam skenario terburuk, indeks saham digambarkan anjlok hingga 57 persen dan menyeret valuasi kembali ke level sekitar 3.500, yang disebut setara titik terendah pada November 2022.

Laporan itu menggambarkan paradoks: produksi barang dan jasa menjadi sangat murah dan melimpah, tetapi manusia tidak mampu membelinya karena kehilangan pendapatan. Dampak pengangguran massal kemudian menjalar dari sektor teknologi ke sektor lain, termasuk pasar kredit dan perumahan, dengan cicilan KPR mulai retak dan risiko gagal bayar massal meningkat.

Bisnis perangkat lunak sebagai layanan (SaaS) disebut menjadi salah satu korban awal. Alat coding agen AI seperti Claude Code atau Codex digambarkan memungkinkan perusahaan mereplikasi sistem SaaS bernilai ratusan ribu dolar AS dalam hitungan minggu, sehingga vendor terpaksa memangkas harga hingga 30 persen.

Efek domino kemudian meluas ke pasar kredit swasta senilai 2,5 triliun dolar AS. Dalam skenario tersebut, pada April 2027 Moody’s menurunkan peringkat utang perusahaan software dan memicu kepanikan pasar. Negara yang mengandalkan ekspor jasa TI seperti India digambarkan terpukul, dengan Rupee turun 18 persen dan pemerintah meminta bantuan IMF.

Di tingkat konsumen, agen AI pribadi digambarkan menjadi standar baru dalam pengambilan keputusan. Agen belanja berbasis open-source seperti Qwen disebut mampu membandingkan harga otomatis, membatalkan langganan tidak terpakai, menegosiasikan premi asuransi, dan memilih opsi termurah, sehingga model bisnis yang bergantung pada friksi dan kelengahan konsumen runtuh.

Laporan itu juga menyoroti dampak pada perbankan dan penerbit kartu kredit. Agen AI yang teliti digambarkan sengaja menghindari jaringan biaya kartu kredit (interchange fees) sebesar 2–3 persen dari penjual, yang pada gilirannya menggerus model bisnis yang mendanai program poin dan cashback. Sektor perantara lain seperti platform pemesanan perjalanan dan agen real estate juga digambarkan tertekan karena agen AI konsumen dapat menyusun rencana perjalanan tanpa perantara, sementara komisi real estate turun menjadi di bawah 1 persen.

Citrini Research menyimpulkan bahwa apa yang sering disebut sebagai “hubungan personal” dalam bisnis dalam skenario ini banyak bergantung pada friksi transaksi. Mesin tidak digambarkan memiliki loyalitas merek, melainkan mengejar harga terendah.

Negara pun disebut ikut terseret karena penerimaan pajak banyak berasal dari pajak penghasilan dan payroll manusia. Ketika porsi pendapatan tenaga kerja terhadap PDB turun dari 56 persen menjadi 46 persen dalam empat tahun, penerimaan negara tergerus, sementara beban jaring pengaman sosial dan subsidi meningkat, memicu defisit. Dalam konteks itu, muncul wacana pajak komputasi AI dan skema pembagian hasil AI sebagai jaring pengaman baru.

Melalui The 2028 Global Intelligence Crisis, Citrini Research menempatkan skenario tersebut sebagai peringatan tentang paradoks teknologi: kecerdasan mesin yang melimpah dapat berujung pada krisis jika tidak diimbangi kemampuan konsumsi manusia dan penyesuaian struktur sosial-ekonomi. Skenario itu, menurut Citrini Research, masih berada “di atas kertas”, tetapi dimaksudkan sebagai pengingat bahwa disrupsi AI tanpa adaptasi dapat mengguncang fondasi finansial modern.