BERITA TERKINI
CEO Exxon: Pasar Belum Sepenuhnya Memperhitungkan Dampak Konflik Iran pada Pasokan Minyak

CEO Exxon: Pasar Belum Sepenuhnya Memperhitungkan Dampak Konflik Iran pada Pasokan Minyak

CEO Exxon Mobil Darren Woods menilai pasar energi global belum sepenuhnya mencerminkan dampak gangguan pasokan akibat konflik Iran, termasuk potensi penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.

Dalam laporan kinerja kuartal I perusahaan yang dikutip dari CNBC, Woods mengatakan lonjakan harga minyak saat ini masih belum menggambarkan skala disrupsi yang sebenarnya. Ia menjelaskan, pada fase awal konflik pasokan minyak masih relatif stabil karena ditopang oleh kapal tanker yang sudah terlanjur berlayar, pelepasan cadangan strategis, serta pemanfaatan stok komersial.

Namun, Woods menilai kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Ia memperingatkan pasar belum merasakan dampak penuh dari gangguan besar pada pasokan minyak dan gas global.

Menurut Woods, jika penutupan Selat Hormuz berlanjut, tekanan terhadap harga minyak berpotensi semakin besar, terutama ketika cadangan mulai menipis. Ia menilai fluktuasi harga yang terjadi saat ini—naik ketika eskalasi meningkat dan turun ketika muncul harapan perdamaian—belum mencerminkan kondisi pasokan yang sesungguhnya.

Woods juga memperkirakan distribusi minyak dari kawasan Teluk Persia baru dapat kembali normal dalam waktu satu hingga dua bulan setelah jalur tersebut dibuka kembali. Ia menyebut proses reposisi kapal tanker dan distribusi ulang pasokan ke berbagai negara tujuan menjadi faktor yang membuat pemulihan tidak terjadi seketika.

Selain itu, setelah konflik mereda, negara-negara dan pelaku industri diperkirakan akan kembali mengisi cadangan strategis maupun stok komersial. Kondisi ini berpotensi mendorong permintaan dan memperkuat kenaikan harga.

Dari sisi operasional, Exxon memproyeksikan produksi di Timur Tengah dapat turun hingga 750.000 barel per hari dibandingkan tahun 2025 apabila penutupan Selat Hormuz berlanjut hingga kuartal II. Perusahaan menyebut sekitar 15% dari total produksinya telah terdampak, sementara distribusi ke kilang global diperkirakan turun sekitar 3%.

Gangguan juga dilaporkan terjadi pada fasilitas gas alam cair (LNG) di Qatar yang sebagian dimiliki Exxon, setelah serangan Iran merusak dua lini produksi. Fasilitas tersebut sebelumnya disebut menyumbang sekitar 3% produksi hulu perusahaan.

Meski harga minyak global dilaporkan telah naik sekitar 57% sejak konflik dimulai, pergerakan saham Exxon cenderung stagnan. Woods menilai kondisi ini menunjukkan pasar masih menunggu kepastian arah konflik sebelum sepenuhnya merefleksikan dampaknya terhadap sektor energi global.