Chief Executive Officer (CEO) Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) Sultan Al Jaber mengecam keras potensi pembatasan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang selama ini disebut menjadi salah satu alat tekanan geopolitik Iran. Ia menilai langkah tersebut sebagai bentuk “terorisme ekonomi” karena berisiko mengganggu jalur energi global dan menimbulkan dampak luas bagi berbagai negara.
“Iran menyandera Selat Hormuz. Setiap negara harus membayar tebusannya baik di pom bensin, di toko bahan makanan hingga di apotek,” kata Al Jaber, dikutip dari Reuters.
Al Jaber menekankan Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia. Menurutnya, gangguan terhadap jalur ini tidak hanya memengaruhi harga minyak, tetapi juga biaya hidup masyarakat secara global serta stabilitas ekonomi dunia. Ia menyatakan tidak seharusnya ada negara yang diizinkan mengguncang ekonomi global melalui cara-cara seperti itu.
Ia juga menyebut solusi jangka panjang untuk menstabilkan pasar adalah memastikan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Al Jaber menilai akses yang terbuka dan aman menjadi satu-satunya cara untuk menjaga kelancaran pasokan energi dan stabilitas harga global.
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia. Ketegangan di kawasan tersebut telah memicu volatilitas tinggi di pasar energi seiring perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran.
Di sisi lain, CEO BlackRock Larry Fink menilai bahwa sekalipun konflik mereda, risiko terhadap jalur perdagangan dan keamanan energi tetap tinggi jika tidak ada tindakan terhadap manuver Iran di Selat Hormuz. Ia memperkirakan ancaman terhadap jalur pelayaran kapal tanker energi itu dapat membuat harga minyak bertahan lama di atas US$100 hingga US$150, yang menurutnya akan berdampak besar terhadap perekonomian global.
Fink menambahkan, lonjakan harga energi ke kisaran tersebut hampir pasti mendorong dunia ke dalam resesi, mengingat efek berantai terhadap inflasi, daya beli, dan pertumbuhan ekonomi.
Harga minyak dilaporkan bergerak sangat volatil sejak dimulainya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. International Energy Agency menyebut gangguan yang terjadi sebagai yang terbesar dalam sejarah, mencerminkan skala dampaknya terhadap pasar energi global.
Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan pembicaraan negosiasi damai masih berlangsung dengan Iran. Washington menyebut pembicaraan bersifat produktif dan berpotensi berujung pada kesepakatan dengan Teheran.
Menurut laporan, proposal berisi 15 poin yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menekankan pentingnya penghentian pengembangan teknologi nuklir oleh Iran. Trump disebut menginginkan Iran menghancurkan stok uranium yang diperkaya tinggi dan menghentikan program pengayaan uranium. Iran juga diminta membatasi program rudal balistik serta menghentikan dukungan terhadap sekutu regional di Timur Tengah.
Iran dilaporkan masih meninjau proposal untuk mengakhiri konflik dengan Israel dan Amerika Serikat. Sebelumnya, Teheran sempat memberikan respons negatif dan menyatakan tidak ada negosiasi dengan Washington.
Laporan terkait sempat menekan harga minyak, namun tingkat ketidakpastian yang tinggi membuat pasar tetap sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik, terutama terkait potensi eskalasi lanjutan.

