Bursa saham di kawasan Asia-Pasifik pada Rabu (28/1/2026) mayoritas dibuka menguat, mengikuti penguatan Wall Street di Amerika Serikat (AS) setelah indeks S&P 500 ditutup di level tertinggi sepanjang masa. S&P 500 naik 0,41% dan berakhir di 6.978,60, didukung kenaikan saham Apple dan Microsoft.
Di kawasan Asia, indeks S&P/ASX 200 Australia naik 0,12% pada perdagangan awal dan berada di jalur mencatatkan kenaikan untuk sesi keempat berturut-turut. Pada hari yang sama, Australia dijadwalkan merilis data inflasi kuartal keempat, dengan inflasi utama diperkirakan mencapai 3,6%, yang disebut sebagai level tertinggi dalam enam kuartal terakhir.
Di Korea Selatan, indeks Kospi dan Kosdaq melanjutkan penguatan dan kembali mencetak rekor baru pada perdagangan awal. Kospi naik 1,27% dan Kosdaq menguat 1,55%.
Sementara itu, pasar saham Jepang bergerak berlawanan arah. Indeks Nikkei 225 turun 0,79% dan Topix melemah 0,97%. Di pasar valuta asing, yen menguat ke level tertinggi dalam hampir tiga bulan terhadap dolar AS pada Selasa malam, sempat menyentuh 152,08 di tengah ekspektasi intervensi yang beredar terkait mata uang tersebut.
Di Hong Kong, kontrak berjangka indeks Hang Seng berada di 27.186, lebih tinggi dibanding penutupan terakhir Hang Seng Index (HSI) di 27.126,95.
Pergerakan di Asia berlangsung di tengah perhatian investor terhadap agenda bank sentral AS. Kontrak berjangka S&P 500 tercatat hampir stagnan menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve serta laporan kinerja dari perusahaan-perusahaan teknologi besar. Bank sentral AS secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan tetap stabil pada kisaran target 3,5% hingga 3,75%, sementara pelaku pasar menanti petunjuk terkait arah kebijakan moneter jangka panjang.
Di Wall Street pada perdagangan sebelumnya, Nasdaq Composite naik 0,91%. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average turun 408,99 poin atau 0,83% dan ditutup di 49.003,4.
Di Indonesia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebelumnya dibuka melemah pada Selasa (27/1/2026), turun ke 8.974 dari penutupan 8.975. Berdasarkan data RTI, pada pukul 09.40 WIB IHSG turun 0,59% atau 55 poin ke level 8.920,13.
Analis Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai pelemahan IHSG terutama dipicu aksi ambil untung (profit taking) dan rotasi portofolio investor. Ia juga menyebut adanya arus keluar dana asing (foreign outflow), antisipasi penyesuaian indeks MSCI (MSCI rebalancing), serta sentimen regional yang mendorong pasar masuk ke mode risk off di tengah valuasi IHSG yang dinilai sudah relatif mahal.
Dari sisi sektoral, tekanan pada IHSG disebut terutama berasal dari sektor energi dan perbankan. Menurut Wafi, koreksi yang terjadi masih tergolong sehat dalam konteks tren jangka menengah. Ia memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan koreksi dalam jangka pendek, dengan area penurunan hingga 8.800 yang dinilai masih wajar dan tidak mengubah tren bullish utama.

