Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengawali perdagangan perdana tahun 2026 dengan pergerakan yang cenderung tertahan pada Jumat (2/1/2026). Kehati-hatian investor terlihat menonjol, seiring sentimen negatif dari bursa Amerika Serikat (Wall Street) yang menutup akhir 2025 di zona merah. Pelaku pasar di Asia dinilai masih mencermati arah kebijakan ekonomi global sebelum mengambil langkah investasi yang lebih agresif.
Di Wall Street, tiga indeks utama kompak melemah pada perdagangan penutup 2025. Indeks S&P 500 turun 0,74%, Nasdaq Composite melemah 0,76%, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,63%.
Namun, secara tahunan, kinerja pasar saham AS pada 2025 tetap tercatat solid. Nasdaq membukukan kenaikan lebih dari 20%, sementara S&P 500 naik 16,39%. Kontras antara penguatan sepanjang tahun dan pelemahan pada hari terakhir perdagangan ikut membentuk suasana wait and see bagi investor Asia saat memasuki awal 2026.
Di kawasan Asia-Pasifik, aktivitas perdagangan pada hari pertama 2026 juga dipengaruhi oleh libur di sejumlah pasar utama. Bursa Jepang (Nikkei 225) dan China daratan (Shanghai Composite) masih libur Tahun Baru, sedangkan bursa Korea Selatan (Kospi) dijadwalkan memulai perdagangan lebih lambat dari biasanya.
Di pasar yang sudah dibuka, pergerakan indeks terpantau tipis. Indeks S&P/ASX 200 Australia nyaris stagnan dengan kenaikan 0,02%. Di Hong Kong, Indeks Hang Seng bergerak mendatar di level 25.630. Sementara itu, kontrak berjangka saham AS menunjukkan penguatan sekitar 0,1% hingga 0,15% pada pagi hari waktu Asia, memberi sinyal peluang rebound teknis dalam waktu dekat.
Di tengah pergerakan yang landai, Singapura menghadirkan sentimen yang lebih positif melalui rilis data ekonomi. Negara tersebut melaporkan pertumbuhan ekonomi 5,7% secara tahunan (YoY) pada kuartal IV-2025, melampaui ekspektasi pasar dan ditopang kinerja kuat sektor manufaktur. Data ini dipandang sebagai indikasi bahwa perekonomian Asia Tenggara masih memiliki daya tahan memasuki 2026.
Di Indonesia, pelaku pasar menanti pembukaan perdagangan perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI). Rupiah berada di kisaran Rp16.670 per dolar AS, sementara pasar juga menantikan arahan Presiden Prabowo Subianto yang dijadwalkan hadir dalam seremoni pembukaan perdagangan. Kehadiran para pemangku kebijakan ekonomi diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor domestik untuk mengawali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun baru.
Secara umum, awal 2026 di bursa Asia berlangsung hati-hati. Meski demikian, dasar ekonomi regional yang dinilai masih terjaga serta harapan pelonggaran kebijakan moneter global menjadi faktor yang diperkirakan dapat mendorong pasar bergerak lebih dinamis dalam pekan-pekan berikutnya.

