BERITA TERKINI
BRI: Volatilitas Pasar Global Mereda pada April 2026, Namun Inflasi dan Risiko Geopolitik Masih Membayangi

BRI: Volatilitas Pasar Global Mereda pada April 2026, Namun Inflasi dan Risiko Geopolitik Masih Membayangi

JAKARTA — Volatilitas pasar keuangan global mulai mereda pada April 2026 seiring pelaku pasar secara bertahap memasukkan risiko geopolitik Timur Tengah ke dalam harga aset. Meski begitu, meredanya gejolak pasar belum berarti risiko global telah selesai, karena tekanan inflasi masih meningkat dan suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama.

Hal tersebut tercermin dalam BRI Monthly Economic Update April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, Macroeconomics & Financial Market Analytics Department. Dalam laporan itu, BRI mencatat indeks volatilitas VIX turun 8,36 poin secara bulanan, sementara indeks MOVE turun 23,98 poin. Penurunan ini menunjukkan pasar mulai melakukan pricing in terhadap risiko konflik di Timur Tengah.

Namun, BRI menilai tingkat volatilitas masih tergolong tinggi secara year to date. Artinya, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya hilang dari perhatian investor. Persepsi risiko investasi global yang tercermin dari CDS 5 tahun juga menurun secara serempak, terutama di negara berkembang dan kawasan Timur Tengah.

Turunnya persepsi risiko tersebut ikut mendorong arus dana asing kembali ke pasar negara berkembang. Setelah mengalami net outflows sebesar US$71,92 miliar pada Maret 2026, emerging markets mencatat net inflows sebesar US$24,73 miliar pada April 2026.

Di sisi ekonomi riil, prospek global justru memburuk. IMF pada April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,1% dari sebelumnya 3,3%. Tekanan lebih besar dinilai dirasakan negara berkembang yang lebih sensitif terhadap kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan pengetatan kondisi finansial global.

Revisi proyeksi pertumbuhan juga tidak merata. Sejumlah negara mengalami penurunan proyeksi, terutama Filipina dan Inggris, sementara beberapa negara seperti Malaysia justru direvisi naik. BRI menilai perbedaan ini menunjukkan dampak konflik global sangat bergantung pada ketahanan domestik, struktur ekonomi, dan ruang kebijakan masing-masing negara.

BRI menempatkan kenaikan inflasi global sebagai salah satu risiko utama. Estimasi inflasi CPI global meningkat dari sekitar 3,22% secara tahunan pada awal Maret 2026 menjadi 3,91% pada akhir April 2026. Kenaikan dipicu lonjakan harga energi dan biaya logistik di tengah konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Tekanan inflasi dinilai bersifat luas. Dari 63 negara yang diamati, 31 negara berada pada kuadran inflasi tinggi dan meningkat. Kondisi ini memperkuat risiko inflasi global menjadi lebih persisten dibanding perkiraan awal, sehingga ruang pelonggaran moneter menjadi terbatas dan skenario suku bunga tinggi lebih lama (higher for longer) kembali relevan.

Di Amerika Serikat, BRI mencatat perekonomian masih menunjukkan ketahanan. PDB AS tumbuh 2,0% secara quarter on quarter annualized pada kuartal I 2026, sementara ISM Manufacturing PMI berada pada level ekspansif 52,7 pada April 2026. Namun, tekanan inflasi meningkat, dengan inflasi CPI naik dari 2,4% pada Februari 2026 menjadi 3,3% pada Maret 2026, sedangkan inflasi PCE melonjak ke 3,5% dan menjauh dari target The Fed 2%.

Sejalan dengan itu, The Fed mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75% pada FOMC April 2026. Walau komunikasi pejabat The Fed disebut sedikit kurang hawkish dibanding Maret, arah kebijakan secara umum masih berada di zona hawkish. Pasar memperkirakan FFR bertahan di kisaran 3,75% hingga akhir 2026 dan baru turun terbatas ke 3,50% pada akhir 2027.

Sementara itu, China dinilai masih mencatat momentum positif. PDB kuartal I 2026 tumbuh 5,0% secara tahunan, lebih tinggi dari konsensus 4,8% dan meningkat dari 4,4% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan ditopang sektor industri, sedangkan penjualan ritel tetap positif meski belum berakselerasi kuat. PMI manufaktur China berada di 50,3 pada April 2026, sedikit turun dari 50,4 pada Maret namun masih ekspansif.

Meski demikian, BRI menilai pemulihan China belum seimbang. Sektor produksi masih solid, tetapi konsumsi domestik belum sepenuhnya kuat. Keberlanjutan pertumbuhan China dinilai bergantung pada stabilisasi permintaan domestik, yang akan memengaruhi prospek perdagangan global dan permintaan komoditas.

Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS (DXY) turun 1,90% secara bulanan menjadi 98,06 pada April 2026. Pada saat yang sama, Indeks Dolar Asia naik 1,14% ke 92,17, mencerminkan penguatan sejumlah mata uang negara berkembang. Namun rupiah justru melemah 2,06% secara bulanan dan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di antara peers pasar berkembang. BRI mencatat tekanan terhadap rupiah juga terlihat dari kenaikan rata-rata NDF di seluruh tenor, yang menunjukkan pelemahan dipengaruhi faktor global serta persepsi pasar terhadap risiko domestik.

Pasar saham global menguat pada April 2026, dengan bursa AS, Eropa, dan Asia mencatat kinerja positif. Namun IHSG bergerak berbeda. Pada akhir April 2026, IHSG melemah 1,30% secara bulanan ke level 6.957 dan terkoreksi 19,55% secara year to date. BRI menyebut tekanan dipicu sentimen risk off global, risiko geopolitik Timur Tengah, serta perkembangan domestik termasuk penundaan penyesuaian indeks MSCI ke Juni 2026. Investor asing masih membukukan net outflow sebesar US$1,11 miliar pada April 2026, meski lebih rendah dibanding US$1,26 miliar pada Maret.

Di pasar obligasi domestik, kondisi menunjukkan perbaikan. Yield SBN bergerak campuran pada April 2026: tenor pendek 1–5 tahun naik, sementara yield tenor panjang menurun. Pasar SBN mencatat net inflows asing sebesar US$0,58 miliar pada April 2026, berbalik dari net outflows US$1,56 miliar pada Maret. CDS 5 tahun Indonesia turun 9,71 bps menjadi 91,57 bps, menandakan persepsi risiko mulai mereda, meski kepemilikan domestik tetap mendominasi pasar SBN.

Harga komoditas global bergerak bervariasi. Harga minyak Brent turun 3,7% secara bulanan ke US$114 per barel pada April 2026, namun masih naik 87,3% sepanjang tahun berjalan akibat disrupsi di Selat Hormuz. Batu bara turun 6,0% secara bulanan ke US$134 per ton tetapi naik 24,7% secara year to date. Gas alam turun 3,4% secara bulanan. Emas turun tipis 1,1% ke US$4.668,1 per ons troi, meski masih naik 6,9% sejak awal tahun. Pada komoditas pangan, kedelai dan gandum naik, sedangkan CPO dan beras gabah turun.

Dari dalam negeri, inflasi Indonesia pada Maret 2026 sedikit melandai namun tetap tinggi di 3,48% secara tahunan. Tekanan utama berasal dari administered prices yang mencapai 6,08% secara tahunan, sementara inflasi inti relatif stabil di 2,52% dan inflasi volatile goods turun ke 4,24%. BRI menilai tekanan inflasi fundamental belum meningkat kuat dan dorongan permintaan domestik terhadap inflasi masih terbatas.

Indeks Keyakinan Konsumen pada Maret 2026 tetap berada di zona optimistis, meski turun dari 125,2 pada Februari menjadi 122,9. Penurunan terbesar terjadi pada komponen ekspektasi ke depan. Momentum Ramadan dan Idul Fitri masih menopang konsumsi, tercermin dari porsi pendapatan untuk konsumsi yang naik menjadi 72,2% pada Maret 2026. Namun sikap berjaga-jaga dinilai masih terlihat melalui pergeseran preferensi menabung ke tabungan dan deposito.

Aktivitas dunia usaha juga menunjukkan perlambatan. Penjualan ritel menguat pada Februari 2026 namun diperkirakan melambat pada Maret. Survei Kegiatan Dunia Usaha BI menunjukkan ekspansi usaha melambat pada kuartal I 2026 dengan nilai SBT turun menjadi 10,11% dari 10,61% pada kuartal sebelumnya. Kredit baru juga melambat, dengan SBT penyaluran kredit baru turun dari 88,9% pada kuartal IV 2025 menjadi 38,7% pada kuartal I 2026.

Dari sektor eksternal, surplus perdagangan naik menjadi US$1,27 miliar pada Februari 2026 dari US$0,95 miliar pada Januari. Namun pertumbuhan ekspor melambat menjadi 1,01% secara tahunan, sementara impor tumbuh 10,85%. Utang luar negeri Indonesia meningkat menjadi US$437,86 miliar pada Februari 2026, tumbuh 2,45% secara tahunan, terutama berasal dari pemerintah dan bank sentral. Cadangan devisa turun ke US$148,2 miliar pada Maret 2026 dari US$151,9 miliar pada Februari, dipengaruhi pembayaran utang luar negeri dan stabilisasi rupiah, tetapi masih setara 6,0 bulan impor.

Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada RDG April 2026, sejalan dengan prioritas menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global. BI juga tetap mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial pro growth, dengan insentif KLM yang diterima bank pada pekan pertama April 2026 tercatat Rp427,9 triliun.

BRI menyimpulkan, meski volatilitas global mereda, dunia belum kembali sepenuhnya tenang. Pasar mulai terbiasa dengan risiko, tetapi ekonomi riil masih dihadapkan pada inflasi tinggi, kebijakan suku bunga ketat, dan ketidakpastian geopolitik yang belum selesai.