Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Beijing kembali menyita perhatian pasar global, termasuk pelaku industri aset digital. Namun, analis on-chain XWIN Japan di CryptoQuant menilai sorotan utama pasar bukan semata pada peluang membaiknya hubungan Amerika Serikat dan Tiongkok, melainkan pada perubahan infrastruktur keuangan global yang kian terhubung dengan Bitcoin dan aset digital.
Dalam analisisnya, XWIN Japan menyebut kunjungan tersebut membuka peluang détente ekonomi terbatas antara dua ekonomi terbesar dunia. Sejumlah pembahasan disebut mencakup pembelian pesawat, sektor energi, pertanian, hingga wacana pembentukan forum investasi dan perdagangan baru. Meski demikian, ketegangan terkait AI, semikonduktor, Taiwan, dan Iran dinilai masih menjadi hambatan besar dalam hubungan kedua negara.
Menurut XWIN Japan, pasar perlu melihat isu yang lebih mendasar, yakni bagaimana Bitcoin dan aset digital mulai terintegrasi ke sistem keuangan global. Ia juga menilai pasar keliru bila berharap Tiongkok segera melonggarkan kebijakan terkait kripto. Otoritas di negara itu disebut justru memperketat pembatasan terhadap aktivitas aset digital, termasuk tokenisasi aset dunia nyata (RWA) dan stablecoin berbasis yuan.
Kondisi tersebut dinilai membuat peluang lonjakan permintaan Bitcoin secara langsung dari Tiongkok masih relatif kecil dalam waktu dekat. Meski begitu, pasar tetap memberi perhatian besar karena arah perkembangan regulasi dan infrastruktur finansial digital dipandang semakin jelas.
Di Amerika Serikat, regulasi terkait stablecoin dan layanan kustodian kripto disebut mulai menunjukkan kepastian yang lebih matang. Sementara itu, Hong Kong terus memperluas infrastruktur keuangan digital yang terregulasi melalui lisensi stablecoin dan proyek mBridge.
Institusi besar dan rantai pasok mining ikut diperhatikan
XWIN Japan juga menyoroti kehadiran sejumlah perusahaan besar dalam agenda kunjungan tersebut. Nama-nama seperti Apple, Tesla, BlackRock, Visa, Mastercard, hingga Boeing dinilai mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam sistem pembayaran dan keuangan global berbasis teknologi digital.
Institusi seperti BlackRock dan Goldman Sachs disebut terus memperluas pengembangan Bitcoin ETF serta produk tokenisasi aset finansial. Di sisi lain, Visa dan Mastercard juga disebut mempercepat pengembangan jaringan pembayaran berbasis stablecoin.
Selain sektor keuangan, rantai pasok industri mining Bitcoin turut menjadi perhatian. Walaupun pertumbuhan hashrate global kini disebut mulai didominasi Amerika Utara, pasokan ASIC, semikonduktor, dan rare earth masih sangat bergantung pada Tiongkok.
Jika hubungan kedua negara mereda, ekspansi investasi mining dan pertumbuhan hashrate berpotensi meningkat lebih cepat. Sebaliknya, jika tensi kembali meningkat, biaya perangkat dan keterlambatan distribusi dapat memberi tekanan baru bagi para miner Bitcoin secara global.
Level US$82.500 dinilai krusial bagi arah harga
Di tengah perhatian terhadap dinamika geopolitik tersebut, sejumlah analis teknikal menyoroti posisi harga Bitcoin yang dinilai berada di area krusial. Analis GainMuse melihat Bitcoin bergerak di batas atas pola bullish wedge pada time frame 4 jam, setelah candle terakhir membentuk wick panjang di atas area resistance sebelumnya.
GainMuse menilai level US$82.500 menjadi pemicu utama untuk menentukan validitas breakout. Jika harga mampu bertahan di atas area tersebut, momentum dinilai berpotensi mendorong Bitcoin menuju US$83.500. Namun, jika gagal bertahan dan turun di bawah US$81.500, struktur wedge berisiko berubah menjadi jebakan bagi pembeli yang terlambat masuk, dengan potensi koreksi menuju area US$80.500.
Pandangan serupa disampaikan analis Ali Martinez yang menilai indikator Simple Moving Average (SMA) 200 hari di level US$82.500 menjadi resistance penting bagi Bitcoin. Menurutnya, breakout di atas area itu dapat membuka peluang reli menuju US$94.000.
Jika kembali mengalami penolakan di area tersebut, Bitcoin disebut berpotensi menguji ulang support SMA 50 hari di sekitar US$75.000, setara Rp1,3 miliar.
Dengan kondisi itu, pergerakan Bitcoin dalam beberapa hari ke depan diperkirakan masih sensitif terhadap sentimen geopolitik global serta perkembangan arus modal institusional. Secara keseluruhan, perhatian pasar terhadap kunjungan Trump ke Beijing dinilai bukan lagi semata soal diplomasi AS-Tiongkok, melainkan bagaimana regulasi stablecoin, ekspansi Bitcoin ETF, jaringan pembayaran digital, serta rantai pasok mining membentuk arah jangka panjang Bitcoin.