Kelompok Tani Mane Bala di Desa Kabuna, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, berupaya menekan biaya operasional pertanian yang dinilai semakin tinggi. Salah satu beban terbesar datang dari kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) untuk menggerakkan mesin pompa air yang digunakan dalam kegiatan penyiraman.
Ketua Kelompok Tani Mane Bala, Arnoldus Naiusu, mengatakan pengeluaran untuk BBM masih menjadi persoalan utama bagi petani. Menurutnya, biaya harian yang harus dikeluarkan untuk menjalankan pompa air kerap memberatkan, sehingga keuntungan yang diperoleh tidak sepenuhnya dapat dinikmati petani.
“Saat ini biaya untuk bahan bakar pompa air masih sangat mahal, setiap hari kami harus mengeluarkan uang lebih,” kata Arnoldus saat dihubungi pada Minggu, 25 Januari 2026.
Ia menjelaskan, biaya operasional tersebut dinilai tidak seimbang karena sebagian keuntungan bersih petani habis untuk menutup belanja BBM mesin penyiram. “Kalau satu liter tidak cukup untuk pakai satu Minggu,” ujarnya.
Kondisi itu mendorong kelompok tani mulai melirik sumber energi alternatif sebagai solusi jangka panjang. Meski belum menerapkan energi terbarukan, Arnoldus menyatakan optimistis pemanfaatan energi surya dapat dipadukan dengan sistem irigasi tetes untuk membantu efisiensi kerja dan menekan biaya operasional.
Menurutnya, potensi sinar matahari di wilayah NTT cukup melimpah untuk dikonversi menjadi listrik. Ia berharap ada dukungan berupa bantuan atau akses terhadap panel surya agar sistem irigasi tetes dapat berjalan otomatis tanpa ketergantungan pada bensin.
“Harapan kami ke depan ada bantuan atau akses untuk panel surya. Kalau tenaga surya sudah masuk, sistem irigasi tetes kami akan berjalan otomatis tanpa beban biaya bensin lagi. Itu impian besar kami di kelompok tani,” tuturnya.
Arnoldus juga menilai dukungan pemerintah penting dalam penyediaan infrastruktur energi bersih. Ia berharap transisi energi dapat membantu meningkatkan taraf hidup petani, terutama di wilayah perbatasan.

