BERITA TERKINI
BI: Suku Bunga Global Berpotensi Tetap Tinggi, AS Diperkirakan Tak Cepat Turunkan Bunga

BI: Suku Bunga Global Berpotensi Tetap Tinggi, AS Diperkirakan Tak Cepat Turunkan Bunga

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan perekonomian global pada 2026 masih akan berada dalam era suku bunga tinggi, terutama di Amerika Serikat (AS). Ia menilai ketidakpastian global tetap tinggi, salah satunya dipengaruhi arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Destry mengatakan Presiden AS Donald Trump dipandang memiliki kecenderungan lebih dovish, yakni ingin mendorong perekonomian lebih cepat melalui penurunan suku bunga. Dalam konteks itu, terjadi pergantian pimpinan bank sentral AS dari Jerome Powell kepada Kevin Warsh.

Namun, Destry melihat pandangan pejabat baru tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan perkiraan awal pasar. Meski sebelumnya ada ekspektasi suku bunga akan segera turun, data ekonomi AS masih menunjukkan penguatan.

“Sehingga market juga (berpandangan) kayaknya AS nggak akan secepat itu menurunkan suku bunga, jadi kami masih akan menghadapi suku bunga tinggi di luar, khususnya di AS,” ujar Destry dalam agenda Economic Outlook 2026, Selasa (10/2/2026).

Seperti diketahui, Trump memilih mantan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh untuk memimpin bank sentral AS ketika masa kepemimpinan Jerome Powell berakhir pada Mei. “Saya sudah mengenal Kevin sejak lama, dan saya yakin dia akan dikenang sebagai salah satu Ketua Fed terhebat, mungkin yang terbaik. Di atas segalanya, dia adalah sosok yang ideal, dan dia tidak akan pernah mengecewakan Anda,” kata Trump saat mengumumkan langkah tersebut.

Posisi Ketua The Fed memerlukan konfirmasi dari Senat AS. Selama ini, The Fed dipandang sebagai kekuatan penstabil di pasar keuangan global, terutama karena independensinya dari politik.

Di sisi lain, upaya Trump untuk menguji independensi tersebut turut menjadi sorotan, termasuk keputusan Departemen Kehakiman pada Januari untuk membuka penyelidikan kriminal terhadap Powell. Situasi ini berpotensi membuat proses konfirmasi di Senat menjadi menantang bagi pengganti Powell.

Kondisi tersebut juga membuka kemungkinan Powell tetap berada di The Fed setelah masa jabatannya sebagai ketua berakhir. Powell sebelumnya menyebut penyelidikan kriminal itu sebagai dalih untuk menekan bank sentral agar menetapkan kebijakan moneter sesuai keinginan presiden.