Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengingatkan generasi muda agar tidak bertahan pada kemampuan lama. Menurutnya, anak muda yang enggan menambah keterampilan atau mempelajari skill baru berisiko kehilangan peluang kerja dan tersisih dari persaingan pasar kerja yang kian ketat.
Pesan itu disampaikan Yassierli saat memberikan kuliah umum di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, Senin (9/2/2026). Ia menekankan bahwa untuk bersaing di tingkat lokal maupun global, tenaga kerja tidak cukup mengandalkan satu kompetensi. “Untuk menang dalam persaingan lokal dan global, kita tidak cukup mengandalkan satu kompetensi. Be unique, be different, be a champion. Model kompetensi itu tidak lagi tunggal, sudah bergeser,” ujarnya.
Yassierli menjelaskan, perubahan teknologi dan dinamika ekonomi global telah menggeser kebutuhan industri. Sejumlah sektor baru terus berkembang, mulai dari ekonomi digital dan kreatif, pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), care economy, hingga ekonomi berkelanjutan. Kondisi ini, kata dia, menuntut tenaga kerja yang lebih adaptif, terutama generasi muda yang akan memasuki atau baru memulai dunia kerja.
Dalam konteks tersebut, Yassierli menilai paradigma “cukup satu keahlian” sudah tidak relevan. Ia menyebut sekitar 59 persen pekerja di dunia diperkirakan perlu mempelajari keterampilan baru agar tetap sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Perubahan juga terlihat pada model kompetensi di dunia kerja. Jika sebelumnya seseorang dianggap cukup menjadi pakar di satu bidang, kini dibutuhkan kemampuan berlapis dan saling terhubung. Yassierli mencontohkan model T-Shaped, yakni mendalam di satu bidang sekaligus memahami bidang lain. Selain itu ada Pi-Shaped yang memiliki dua keahlian utama, serta M-Shaped atau multi-spesialisasi terintegrasi sebagai gambaran skill set yang perlu dibangun generasi muda.
Untuk mendukung pengembangan kompetensi, Yassierli mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan terus memperkuat peran Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai pusat pelatihan vokasi yang adaptif. Menurutnya, BLK tidak lagi hanya berfokus pada keterampilan konvensional, tetapi juga diarahkan untuk mencetak talenta yang relevan dengan kebutuhan masa kini.
Ia menambahkan, peningkatan kompetensi secara berkelanjutan membutuhkan growth mindset. Yassierli menyebut sekitar 50 persen jenis pekerjaan di sektor industri diprediksi akan berubah dalam 10 tahun ke depan, sehingga kemampuan untuk terus belajar ulang menjadi keharusan. “Tantangan kita saat ini adalah pekerja yang tidak mau belajar hal baru. Padahal, growth mindset adalah kunci manusia beradaptasi. Teruslah belajar di balai-balai kami,” katanya.
Selain soal kompetensi, Yassierli juga menyoroti peluang yang terbuka bagi daerah. Ia menilai ekonomi digital tidak lagi terpusat di kota-kota besar. Dengan sekitar 70 persen pengguna digital baru berasal dari daerah, Kabupaten Lahat dinilai memiliki potensi untuk mengembangkan UMKM dan ekonomi kreatif.
Karena itu, Yassierli mendorong kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan untuk memperkuat ekosistem ketenagakerjaan dan pengembangan talenta di daerah. Ia menegaskan persoalan ketenagakerjaan tidak dapat diselesaikan oleh satu kementerian saja, melainkan memerlukan inisiatif pemerintah daerah sebagai penggerak utama.

