Bandar Lampung — Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Lampung, Bimo Epyanto, menilai konflik global di Timur Tengah berisiko memengaruhi pertumbuhan ekonomi, baik secara nasional maupun di Lampung. Menurutnya, dampak yang muncul terutama berasal dari kenaikan biaya energi dan logistik, serta tekanan terhadap nilai tukar.
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Bincang Literasi Bersama Media bertajuk “Perkembangan serta Prospek Ekonomi dan Inflasi Provinsi Lampung” yang digelar di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Rabu, 6 Mei 2026, dengan tema World Book Day 2026.
Bimo menjelaskan, dampak negatif konflik dinilai lebih dominan dibandingkan potensi keuntungan dari kenaikan harga komoditas (windfall). Ia menyebut sektor industri sebagai yang paling terdampak dalam situasi tersebut.
Ia menambahkan, pemerintah merespons kondisi ini melalui realokasi belanja APBN serta efisiensi konsumsi energi. Sementara itu, pelaku usaha turut merasakan dampak tidak langsung akibat pelemahan nilai tukar, kenaikan harga energi, dan biaya impor, terutama pada sektor yang bergantung pada transaksi global.
Secara umum, Bimo mengatakan dampak konflik geopolitik Amerika Serikat–Timur Tengah terhadap pelaku usaha di Lampung bersifat tidak langsung dan tidak merata. “Kita (Lampung) masih memiliki sumber-sumber ekonomi yang ketergantungannya rendah terhadap luar negeri, walaupun kita akui ada beberapa sektor yang terdampak,” ujarnya.
Berdasarkan survei Kantor Perwakilan BI Provinsi Lampung Triwulan I 2026, sektor industri pengolahan terdampak melalui kenaikan biaya bahan baku impor dan fluktuasi nilai tukar, terutama pada industri berbasis bahan kimia. Sektor pertanian dan peternakan juga terdampak akibat kenaikan biaya impor bibit dan pakan, serta fluktuasi harga komoditas global.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan menghadapi kenaikan biaya suku cadang impor serta potensi peningkatan biaya operasional. Adapun sektor akomodasi dan penyediaan makan minum terdampak karena kewajiban pembayaran dalam dolar AS yang meningkatkan beban biaya ketika rupiah melemah.
Di sisi lain, BI mencatat sejumlah sektor relatif lebih aman. Sektor pertanian domestik yang berbasis pasar lokal dinilai minim terdampak karena ketergantungan impor rendah. Industri pengolahan berbasis bahan baku lokal juga disebut mengalami dampak terbatas. Sektor transportasi domestik yang mengandalkan sumber daya dalam negeri turut dinilai lebih tahan, meski tetap membutuhkan stabilitas nilai tukar.
Secara keseluruhan, pelaku usaha menilai stabilitas nilai tukar lebih penting dibandingkan level kurs tertentu dan tetap optimistis pelemahan rupiah bersifat sementara.
Untuk menjaga daya beli masyarakat, Bimo menyampaikan pemerintah menyalurkan berbagai stimulus fiskal, seperti bantuan sosial dan insentif, termasuk untuk kendaraan listrik guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak. BI bersama Pemerintah Provinsi Lampung juga mendalami perkembangan harga yang cenderung meningkat dalam beberapa waktu terakhir untuk menyiapkan langkah meredam gejolak harga.
“Belakangan ini memang ada perkembangan yang cenderung meningkat dan sedang kami dalami bersama Pemprov untuk mengambil langkah menekan gejolak harga. Ini upaya kami untuk terus secara konsisten menjaga stabilitas ekonomi daerah,” kata Bimo.