BERITA TERKINI
Azerbaijan Jajaki Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Indonesia

Azerbaijan Jajaki Kerja Sama Energi Terbarukan dengan Indonesia

Pemerintah Azerbaijan menyatakan minat untuk memperluas kerja sama energi terbarukan dengan Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Fokus ini sejalan dengan komitmen kepemimpinan Presiden Ilham Aliyev yang mendorong Azerbaijan menuju ekonomi yang lebih hijau dan lebih terdiversifikasi.

Hal tersebut disampaikan Duta Besar Azerbaijan untuk Indonesia, Ramil Rzayev, dalam wawancara eksklusif di Jakarta, Kamis, 22 Januari 2026. Ramil juga menyebut hubungan Azerbaijan dan Indonesia terus berkembang di berbagai sektor sejak kedua negara menjalin hubungan diplomatik pada 1992.

Menurut Ramil, hubungan kedua negara dibangun di atas nilai bersama, penghormatan terhadap kedaulatan, serta keinginan untuk perdamaian dan pembangunan. Ia menuturkan, Azerbaijan dan Indonesia saling mendukung dalam berbagai forum internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dan Gerakan Non-Blok.

Di tingkat masyarakat, ia menilai pertukaran budaya, penelitian akademis, dan liputan media turut berkembang. Sementara secara politik, kedua negara menjaga komunikasi di berbagai tingkatan dan terus memperluas saluran kerja sama.

Dalam bidang perdagangan, Ramil menyebut kerja sama menunjukkan dinamika yang menjanjikan. Ia mengatakan nilai perdagangan bilateral pada 2024 mencapai sekitar USD265 juta, yang disebutnya sebagai angka terbesar yang tercatat dengan Indonesia di kawasan Azerbaijan hingga saat ini. Meski demikian, ia menilai capaian tersebut belum sepenuhnya mencerminkan potensi yang masih dapat dikembangkan.

Azerbaijan, kata Ramil, menawarkan peluang kerja sama di sektor pertanian, pengolahan makanan, logistik, proyek energi terbarukan, dan pengembangan pariwisata. Sementara Indonesia dinilai memiliki kekuatan pada industri halal, makanan olahan, tekstil, dan keuangan Islam, yang menurutnya dapat melengkapi tujuan Azerbaijan.

Terkait energi terbarukan, Ramil menegaskan sektor ini menjadi prioritas strategis Azerbaijan. Ia menyampaikan bahwa negaranya mengadopsi pendekatan nasional untuk memperluas kapasitas tenaga surya, angin, dan air, serta mengintegrasikan keberlanjutan dalam proyek konstruksi. Ia juga menyinggung pengembangan wilayah Karabakh dan Zangezur Timur sebagai zona hijau dan cerdas.

Ramil turut menyoroti peran Azerbaijan di panggung iklim internasional sebagai tuan rumah dan presidensi COP 29 di Baku. Menurutnya, COP 29 menekankan komitmen pada pembiayaan iklim, transaksi energi, transisi, dan kerja sama teknologi hijau.

Ia menyebut Azerbaijan telah bekerja sama dengan sejumlah aktor internasional dalam proyek energi terbarukan berskala besar, dan melihat adanya peluang saling melengkapi dengan Indonesia, terutama dalam model biomassa dan panas bumi. Ramil mengatakan kerja sama dapat mencakup penelitian bersama, transfer teknologi, serta program peningkatan kapasitas.

Selain energi, Ramil memaparkan fokusnya sebagai duta besar untuk memperkuat hubungan bilateral, yakni melalui dialog politik, diplomasi ekonomi, diplomasi budaya dan pendidikan, serta kerja sama di forum multilateral. Ia menyebut putaran terakhir konsultasi politik bilateral berlangsung di Jakarta pada Desember 2022, dan pihaknya tengah menyiapkan konsultasi berikutnya di Baku pada Maret mendatang.

Dalam diplomasi ekonomi, ia menyampaikan Azerbaijan terus menarik investor dan membangun kembali serta memodernisasi wilayah yang telah dibebaskan. Ramil mengatakan saat ini terdapat lebih dari 20 perusahaan Indonesia yang beroperasi di Azerbaijan, serta membuka peluang investasi lebih lanjut, termasuk di energi terbarukan, pengolahan hasil pertanian, logistik, dan sektor halal.

Mengenai mobilitas warga, Ramil menjelaskan saat ini warga Azerbaijan dan Indonesia dapat memperoleh visa saat kedatangan ketika berkunjung ke masing-masing negara. Ia juga menyebut pengunjung Indonesia dapat mengajukan e-visa melalui Layanan Asan, dan berharap ke depan terdapat solusi positif yang memungkinkan penerapan rezim bebas visa.

Dalam wawancara itu, Ramil juga menyinggung peringatan 20 Januari 1990 yang dikenal sebagai Januari Kelam di Baku. Ia menyatakan peristiwa tersebut menjadi salah satu babak tergelap dalam sejarah Azerbaijan sekaligus titik balik perjuangan kemerdekaan. Ia menyebut pada malam 19 hingga 20 Januari 1990, pasukan Soviet memasuki Baku dan wilayah lain, menewaskan 147 warga sipil, melukai ratusan orang, serta lebih dari 800 orang ditangkap secara ilegal. Menurutnya, pada 1994 parlemen Azerbaijan mengakui peristiwa tersebut sebagai tindakan agresi militer dan kejahatan terhadap rakyat Azerbaijan.

Ditanya soal kemungkinan kunjungan kenegaraan Presiden Ilham Aliyev ke Indonesia, Ramil mengatakan kunjungan tingkat tinggi merupakan elemen penting untuk memperkuat hubungan bilateral. Ia menuturkan bahwa pihaknya kini fokus pada pencapaian hasil yang substansial, termasuk memperluas perdagangan, meluncurkan proyek bersama, dan menyiapkan kerangka kelembagaan. Ia menambahkan pengumuman resmi akan disampaikan oleh kedua pemerintah ketika waktu dan agenda telah ditetapkan.

Ramil menutup dengan menyampaikan apresiasi atas persahabatan Azerbaijan dengan Indonesia dan harapan agar kerja sama di bidang perdagangan, budaya, pendidikan, serta aksi iklim dapat terus berlanjut demi kesejahteraan masyarakat kedua negara.