Memasuki awal 2026, sejumlah negara mulai bersiap menghadapi potensi krisis global. Perlambatan ekonomi, disrupsi teknologi, serta ketidakpastian global mendorong dunia usaha melakukan penyesuaian. Dalam situasi seperti ini, lapangan kerja formal cenderung semakin selektif, dan lulusan baru menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.
Di Indonesia, persoalan pengangguran terdidik masih menjadi tantangan. Setiap tahun, perguruan tinggi meluluskan ribuan sarjana baru, sementara pertumbuhan lapangan kerja formal tidak selalu sejalan. Bahkan dalam kondisi ekonomi yang relatif stabil, sebagian lulusan masih kesulitan terserap. Ketika tekanan ekonomi meningkat, tantangan tersebut dinilai berpotensi semakin besar.
Masalah ini tidak hanya terkait ketersediaan pekerjaan, tetapi juga cara perguruan tinggi mempersiapkan mahasiswanya. Selama ini, pendidikan tinggi dinilai masih dominan membekali mahasiswa untuk memasuki pasar kerja formal. Pendekatan tersebut pernah relevan, namun menjadi kurang adaptif ketika dunia kerja bergerak semakin dinamis dan penuh ketidakpastian.
Perhatian juga tertuju pada mahasiswa program sarjana pendidikan. Jalur karier yang paling sering diperkenalkan masih berfokus pada sekolah formal, sementara daya tampung sekolah terbatas dan persaingan kian ketat. Di sisi lain, kebutuhan layanan pendidikan di masyarakat terus berkembang, baik melalui pendidikan nonformal maupun berbasis digital.
Dalam konteks itu, edupreneurship dipandang sebagai salah satu alternatif. Konsep ini menempatkan pendidikan bukan hanya sebagai profesi, tetapi juga ruang penciptaan nilai dan solusi. Dengan kompetensi pedagogik yang dimiliki, lulusan sarjana pendidikan dinilai memiliki peluang mengembangkan berbagai layanan edukasi sesuai kebutuhan masyarakat.
Namun, peluang tersebut disebut perlu ditopang pengalaman belajar yang kontekstual. Pembelajaran di perguruan tinggi tidak cukup berhenti pada penguasaan teori, melainkan perlu memberi ruang praktik yang melatih kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan mengambil keputusan. Pembelajaran berbasis proyek serta praktik kewirausahaan pendidikan menjadi pendekatan yang dinilai relevan.
Melalui pengalaman praktik, mahasiswa dapat memahami bahwa usaha edukasi tidak selalu membutuhkan modal besar. Kelas literasi anak, bimbingan belajar skala kecil, kursus daring, hingga konten edukasi digital dapat dimulai secara bertahap. Model usaha semacam ini relatif fleksibel dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi ekonomi.
Di tengah potensi krisis global 2026, penguatan edupreneurship di lingkungan kampus dipandang memiliki makna strategis. Lulusan yang mampu menciptakan usaha edukasi dinilai tidak hanya lebih siap menghadapi ketidakpastian, tetapi juga berpeluang membuka ruang belajar dan kerja bagi masyarakat di sekitarnya.
Pada akhirnya, tantangan pengangguran terdidik dinilai perlu direspons dengan pendekatan yang lebih adaptif. Perguruan tinggi, khususnya program sarjana pendidikan, dipandang memiliki peran penting dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga siap menciptakan peluang. Di tengah ketidakpastian global, kemampuan beradaptasi dan menciptakan nilai disebut menjadi bekal utama bagi lulusan untuk bertahan dan berkontribusi.

