Amerika Serikat dan Iran dilaporkan semakin mendekati kesepakatan untuk mengakhiri konflik di kawasan Teluk. Seorang sumber dari Pakistan yang berperan sebagai mediator menyebut kedua pihak tengah merampungkan memorandum satu halaman berisi poin-poin utama penghentian perang.
Sumber tersebut mengonfirmasi laporan media AS Axios, yang sebelumnya mengungkap rencana kesepakatan dengan mengutip sejumlah pejabat dan pihak yang mengetahui jalannya negosiasi. “Kami akan segera menuntaskan ini. Kami semakin dekat,” ujar sumber itu. Pakistan disebut menjadi tuan rumah satu-satunya pembicaraan damai bulan lalu dan terus menyampaikan proposal di antara kedua pihak.
Kabar potensi kesepakatan langsung memengaruhi pasar global. Harga minyak mentah acuan dunia Brent tercatat anjlok lebih dari 8% hingga mendekati US$100 per barel. Optimisme meredanya konflik yang mengganggu pasokan energi juga disebut mendorong penguatan pasar saham global serta penurunan imbal hasil obligasi.
Hingga saat ini, Gedung Putih dan pejabat Iran belum memberikan komentar resmi. Namun CNBC melaporkan Kementerian Luar Negeri Iran sedang mengevaluasi proposal 14 poin yang diajukan AS.
Axios juga melaporkan pemerintahan Donald Trump menilai kesepakatan semakin dekat, beberapa jam setelah Trump menghentikan sementara misi angkatan laut untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Menurut laporan tersebut, rancangan kesepakatan mencakup sejumlah poin, di antaranya Iran menyetujui moratorium pengayaan nuklir, AS mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran, pembebasan miliaran dolar dana Iran yang dibekukan, serta pelonggaran pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. AS disebut menunggu respons Iran terhadap sejumlah poin krusial dalam waktu 48 jam.
Memorandum kesepahaman berisi 14 poin itu dinegosiasikan oleh utusan AS, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, dengan pejabat Iran, baik secara langsung maupun melalui mediator. Jika disepakati, dokumen tersebut disebut akan menandai berakhirnya konflik dan membuka periode negosiasi lanjutan selama 30 hari untuk menyusun perjanjian lebih rinci terkait pembukaan jalur pelayaran, pembatasan program nuklir Iran, serta pencabutan sanksi AS.
Selama periode negosiasi lanjutan itu, pembatasan Iran terhadap pelayaran dan blokade AS disebut akan dilonggarkan secara bertahap. Namun, jika perundingan gagal, AS disebut dapat kembali memberlakukan blokade atau melanjutkan aksi militer.
Sebelumnya, Trump menghentikan sementara misi militer bertajuk “Project Freedom” yang bertujuan mengawal kapal melalui Selat Hormuz. Misi tersebut dinilai belum berhasil memulihkan lalu lintas pelayaran, bahkan memicu serangan baru dari Iran terhadap kapal dan target di negara tetangga. Dalam pernyataannya di media sosial, Trump menyebut penundaan dilakukan karena adanya “kemajuan besar” dalam negosiasi.
Konflik disebut pecah pada 28 Februari. Sejak itu, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal selain miliknya. Sebagai respons, AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran pada April.
Selama konflik berlangsung, serangan drone dan rudal Iran dilaporkan menghantam sejumlah kapal, termasuk kapal kargo Korea Selatan. Iran juga dilaporkan menyerang target di Uni Emirat Arab, termasuk pelabuhan minyak utama di luar Selat Hormuz yang sebelumnya menjadi jalur alternatif ekspor energi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan Teheran masih menginginkan “kesepakatan yang adil dan komprehensif”, meski belum menanggapi langsung pernyataan terbaru Trump.