Ketergantungan sejumlah negara terhadap pendanaan International Monetary Fund (IMF) kembali menjadi perhatian di tengah tekanan ekonomi global. Data terbaru menunjukkan puluhan negara masih mengandalkan IMF sebagai lender of last resort atau pemberi pinjaman terakhir untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Berdasarkan laporan IMF per 24 April 2026, negara dengan utang terbesar kepada IMF adalah Argentina dengan total lebih dari US$60 miliar. Nilai tersebut hampir empat kali lipat lebih besar dibandingkan negara dengan utang terbesar berikutnya.
Beban utang Argentina dikaitkan dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan, termasuk inflasi tinggi, pelemahan mata uang, serta ketergantungan historis terhadap program-program IMF.
Setelah Argentina, Ukraina menempati posisi berikutnya dengan utang sebesar US$15,48 miliar, disusul Mesir sebesar US$10,67 miliar.
Sejumlah negara berkembang lain juga tercatat memiliki utang kepada IMF, seperti Pakistan dan Ekuador. Dari kawasan Afrika, beberapa negara seperti Pantai Gading, Kenya, dan Ghana turut masuk dalam daftar, dengan porsi utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang bervariasi.
Tingginya utang tersebut mencerminkan ketergantungan pada pembiayaan eksternal di tengah tekanan ekonomi domestik dan situasi global yang menantang.