Ketegangan antara Rusia dan Ukraina kembali memicu ancaman sanksi dari negara-negara Eropa, dengan Amerika Serikat (AS) dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) turut mengambil posisi dalam dinamika konflik tersebut. Situasi ini menempatkan Eropa pada dilema: mendorong hukuman keras terhadap Moskow, namun sekaligus menghadapi risiko dampak balik pada energi dan sektor keuangan.
Rusia dilaporkan masih menempatkan lebih dari 100.000 pasukan di perbatasan Ukraina. Langkah itu memicu protes dari negara-negara Barat yang menilai Moskow tengah bersiap melakukan invasi ke wilayah bekas Uni Soviet tersebut. AS merespons dengan menyiagakan 8.500 personel angkatan bersenjata untuk dapat dikerahkan ke Eropa sewaktu-waktu.
Sejumlah opsi sanksi disebut mengemuka dari Eropa dan sekutu Barat apabila Rusia melancarkan serangan, mulai dari kontrol ekspor, pembatasan teknologi, hingga upaya memotong Rusia dari sistem keuangan dunia. Presiden AS juga menyatakan akan menjatuhkan sanksi yang menargetkan Presiden Rusia Vladimir Putin secara pribadi dan memperingatkan adanya konsekuensi besar.
Namun, pemberian sanksi terhadap Rusia bukan tanpa tantangan. Uni Eropa (UE) pernah menjatuhkan sanksi terkait invasi ilegal Rusia ke Krimea pada 2014. Sanksi tersebut disebut berdampak pada pelemahan ekonomi Rusia, tetapi balasan Moskow—termasuk larangan impor makanan—juga menekan sejumlah negara UE.
Kali ini, salah satu pertimbangan utama UE adalah ketahanan energi. Eropa memiliki ketergantungan besar pada pasokan gas Rusia. Sekitar 35% gas alam Eropa berasal dari Rusia, dengan distribusi yang antara lain melalui pipa yang melintas dari Belarus dan Polandia ke Jerman, Nord Stream 1 langsung ke Jerman, serta jalur lain melalui Ukraina.
Analis komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menilai pasar dapat melihat ekspor gas alam Rusia ke Eropa Barat berkurang signifikan, baik melalui Ukraina maupun Belarus, apabila sanksi diberlakukan. Ia juga memperkirakan harga gas berpotensi kembali tinggi seperti pada kuartal IV-2021.
Tekanan ini datang saat Eropa masih menghadapi krisis energi akibat pasokan yang langka, yang membuat harga gas tetap tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada kenaikan biaya bagi rumah tangga dan industri. Data Refinitiv juga disebut dalam laporan tersebut. Dalam konteks yang sama, inflasi Eropa meningkat menjadi 5% pada Desember 2021, dari tingkat yang biasanya stabil di kisaran 2–2,5%.
Musim dingin memperbesar urgensi pasokan energi karena permintaan untuk pemanas meningkat. Pengalaman masa lalu menunjukkan gangguan pasokan dapat berdampak luas. Pada musim dingin 2008–2009, perselisihan Rusia-Ukraina sempat menghentikan aliran gas dan membuat sebagian Eropa mengalami kesulitan akibat cuaca dingin.
Selain energi, sanksi juga berpotensi mengguncang sektor keuangan. Risiko terutama muncul jika Rusia dinonaktifkan dari sistem pembayaran internasional. Bank Sentral Eropa (ECB) memperingatkan pemberi pinjaman dengan eksposur signifikan ke Rusia agar mempersiapkan diri bila sanksi diberlakukan. ECB menilai langkah tersebut dapat meningkatkan risiko bagi bank-bank internasional dengan eksposur besar ke Rusia, termasuk Citi di AS, Société Générale di Prancis, Raiffeisen di Austria, dan UniCredit di Italia.
Menurut Bank for International Settlements, bank-bank internasional memiliki sekitar US$ 121 miliar aset yang terutang oleh entitas berbasis di Rusia. Selain itu, terdapat US$ 128 miliar dalam bentuk pinjaman dan dana simpanan dari entitas Rusia ke bank asing. Risiko tambahan bagi bank-bank Eropa juga disebut dapat muncul apabila konflik memukul nilai tukar rubel, sehingga menekan valuasi anak perusahaan mereka di Rusia.
Di sisi lain, akar persoalan Rusia dan Ukraina dinilai kompleks. Sejak Perang Dingin berakhir, NATO memperluas wilayahnya ke timur dan disebut telah mencaplok tiga negara pecahan Uni Soviet, yang dipandang Rusia sebagai ancaman keamanan. Ukraina, sebagai negara pecahan Uni Soviet, mulai mendekat ke NATO dan memiliki janji untuk bergabung sejak 2008.
Setelah menggulingkan presiden pro-Rusia pada 2014, Ukraina semakin dekat secara politik dengan Barat, termasuk menggelar latihan militer bersama NATO dan menerima pengiriman senjata seperti rudal anti-tank Javelin dari AS dan pesawat tak berawak dari Turki. Presiden Rusia Vladimir Putin disebut khawatir Ukraina dapat menjadi landasan peluncuran rudal NATO yang ditargetkan ke Rusia seiring menguatnya hubungan Kyiv dengan aliansi tersebut. Pada saat yang sama, Putin juga disebut memiliki ambisi mempertahankan pengaruh Moskow di bekas negara-negara Uni Soviet.
Dengan ancaman sanksi yang menguat dan ketergantungan energi yang besar, Eropa menghadapi keputusan yang berisiko tinggi. Langkah yang diambil terhadap Rusia berpotensi memengaruhi stabilitas harga energi, inflasi, dan ketahanan sektor keuangan di kawasan.

