JAKARTA — Bertepatan dengan Tahun Baru 2025, aliran gas Rusia ke Uni Eropa (UE) berhenti setelah Ukraina menolak memperpanjang kontrak transit gas melalui wilayahnya. Namun, penghentian jalur tersebut tidak serta-merta membuat Rusia kehilangan pasar.
Sejumlah analis memperkirakan Rusia justru akan memperluas pasokan gas ke kawasan Asia Tengah dalam beberapa tahun mendatang. Peningkatan pasokan diproyeksikan berada di kisaran 10–15 miliar meter kubik.
Wakil Kepala Dana Keamanan Energi Nasional, Alexey Grivach, mengatakan pekerjaan tengah dilakukan bersama Kazakhstan dan Uzbekistan untuk meningkatkan kapasitas jaringan pipa gas Asia Tengah–Tengah dengan memanfaatkan teknologi aliran balik.
“Potensi peningkatan dapat mencapai 10–12 miliar meter kubik per tahun,” ujar Grivach, seperti dikutip kantor berita Rusia TASS, Kamis (9/1/2025).
Sementara itu, analis Finam Sergey Kaufman memperkirakan peningkatan kapasitas tersebut dapat mencapai 12–15 miliar meter kubik per tahun. Selain Asia Tengah, Rusia juga disebut berpeluang mempertimbangkan kembali penjajakan rute jaringan pipa gas menuju India.
Di sisi lain, Rusia diperkirakan akan meningkatkan ekspor gas pipa ke China. Pasokan melalui jaringan pipa Power of Siberia disebut berpotensi melampaui kapasitas desain 38 miliar meter kubik pada 2025. Gazprom juga dilaporkan telah mencapai volume pasokan tahunan maksimum melalui pipa tersebut lebih cepat dari jadwal dan menandatangani perjanjian tambahan dengan mitra di China.

