BERITA TERKINI
Airlangga: Asia Tenggara Perlu Antisipasi Dampak Konflik Global terhadap Energi dan Harga Komoditas

Airlangga: Asia Tenggara Perlu Antisipasi Dampak Konflik Global terhadap Energi dan Harga Komoditas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai kawasan Asia Tenggara perlu mengantisipasi dampak konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, yang berpotensi memicu krisis energi serta lonjakan harga komoditas dan pangan di negara-negara ASEAN.

Menurut Airlangga, untuk pertama kalinya setelah pandemi, kinerja perekonomian ASEAN menghadapi risiko perlambatan akibat konflik global. Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan ke-27 ASEAN Economic Community Council (AECC) atau Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN yang digelar di Dusit Thani, Cebu, Filipina, pada 7 Mei 2026.

“Filipina selaku Ketua ASEAN tahun 2026 ini, melalui pertemuan ini merespons dampak konflik dan perang di Selat Hormuz ke negara-negara ASEAN,” kata Airlangga, Kamis (7/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Menteri Perdagangan dan Industri Filipina Maria Cristina Aldeguer-Roque meminta pandangan para Menteri Ekonomi ASEAN untuk mengatasi dampak perang yang menyebabkan hambatan ketersediaan energi dan produk berbahan dasar minyak mentah di kawasan.

Sementara itu, Kepala Ekonomi ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Dong He memaparkan risiko kebijakan domestik Amerika Serikat yang dinilai dapat memicu disrupsi pasokan energi dan pestisida ke kawasan. Kondisi itu disebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi dan transportasi, serta menekan nilai tukar.

Dong He juga menyebut kenaikan tersebut dapat memicu lonjakan inflasi di kawasan ASEAN hingga level tertinggi sejak pandemi. Ia menambahkan, situasi itu mengindikasikan ASEAN menghadapi tekanan stagflationary atau pertumbuhan ekonomi yang stagnan terkuat sejak 2011. Karena itu, kawasan disarankan menyiapkan kebijakan untuk meredam gejolak tersebut.

Airlangga menekankan pentingnya langkah konkret dan penguatan ketahanan regional untuk mengatasi disrupsi akibat perang dan konflik global. Ia menyebut sejumlah langkah yang dapat ditempuh, antara lain memperkuat ketahanan energi, mengoptimalkan platform kerja sama yang sudah ada, serta memperkuat perdagangan antarnegara anggota ASEAN dan dengan mitra strategis.

“Untuk mengatasi disrupsi, diperlukan ketahanan energi, optimalisasi platform kerja sama yang ada, dan fokus pada penguatan perdagangan antar anggota ASEAN dengan mitra strategis, seperti ASEAN Plus One FTAs dan the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) serta memanfaatkan kerja sama ketahanan energi seperti ASEAN Power Grid (APG) and ASEAN Framework Agreement on Petroleum Security (APSA),” tutur Airlangga.

Ia juga menilai pemanfaatan sentralitas ASEAN diperlukan untuk membangun ketahanan rantai pasok (supply chain resilience) di kawasan. Selain itu, ASEAN didorong menghadapi dinamika perdagangan global dengan memperkuat kerja sama regional, khususnya di sektor energi, pangan, dan rantai pasok, demi menjaga stabilitas ekonomi.

Airlangga menambahkan, penguatan ketahanan energi dapat dilakukan melalui diversifikasi sumber dan jalur pasokan, penguatan mekanisme cadangan energi, serta percepatan implementasi kerja sama regional. Di sisi perdagangan, ia menekankan pentingnya diversifikasi mitra dagang dengan memanfaatkan jaringan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan kerja sama yang telah ada, sambil tetap memprioritaskan peningkatan perdagangan intra-ASEAN.