Airbus menilai pasar penerbangan Asia-Pasifik memasuki fase pengembangan yang mendorong pembukaan lebih banyak rute baru ke destinasi dengan lalu lintas penumpang lebih rendah. Kondisi ini dinilai akan meningkatkan kebutuhan terhadap pesawat lorong tunggal berukuran kecil.
Dalam Singapore Airshow yang dibuka pada 3 Februari, Airbus menyampaikan optimisme terhadap prospek pesawat A220 di kawasan tersebut. Pesawat berbadan sempit ini diproyeksikan menjadi pelengkap bagi keluarga A320 yang sudah lebih dulu populer di pasar.
Wakil Presiden Senior Pemasaran Airbus, Joost Van der Heijden, menyatakan A220 telah mengubah pola pengembangan jaringan penerbangan di Amerika Utara dan Eropa. Menurutnya, kombinasi ukuran, jangkauan, dan fasilitas kabin membuat A220 dapat dioperasikan secara efektif pada rute jarak jauh dengan permintaan yang rendah—segmen yang dinilai tidak ekonomis bila menggunakan pesawat lorong tunggal yang lebih besar.
Airbus memperkirakan skenario serupa akan terjadi di Asia-Pasifik seiring bertambahnya pasar-pasar khusus serta dibukanya rute sekunder. Dengan kapasitas sekitar 100 hingga 160 penumpang, A220 disebut menawarkan keseimbangan antara daya angkut dan jangkauan yang sesuai untuk kebutuhan tersebut.
Airbus mencontohkan, kemampuan A220 memungkinkan penerbangan langsung yang menghubungkan destinasi wisata pantai di Vietnam dengan wilayah pegunungan Hokkaido di Jepang tanpa perlu transit. Saat ini, Qantas dan Air Niugini dari Australia disebut sebagai operator terkemuka untuk jenis pesawat ini di kawasan Asia-Pasifik.

