BERITA TERKINI
WTO Peringatkan Perang Dagang AS–China Berisiko Tekan Perdagangan Global

WTO Peringatkan Perang Dagang AS–China Berisiko Tekan Perdagangan Global

Kepala Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Ngozi Okonjo-Iweala, menyatakan kekhawatiran atas dampak perang dagang yang dipicu kebijakan tarif impor timbal balik yang diterapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai kebijakan tersebut berpotensi menekan perdagangan global secara signifikan, terutama di kawasan Amerika Utara.

Dalam konferensi pers pada Rabu (16/4), Okonjo-Iweala mengutip data terbaru WTO yang memperkirakan perdagangan di Amerika Utara akan turun lebih dari 10%. “Penurunan ini diperkirakan akan sangat tajam di Amerika Utara,” ujarnya.

WTO, dalam laporan yang dirilis Kamis (17/4), memproyeksikan perdagangan global pada 2025 akan menyusut 0,2%. Proyeksi ini berbalik arah dari perkiraan sebelumnya yang memperkirakan perdagangan global tumbuh 2,7%.

WTO juga menilai ketegangan perdagangan antara AS dan China menjadi faktor pendorong penurunan tersebut. Perdagangan bilateral kedua negara diproyeksikan merosot hingga 91%, terutama untuk produk-produk teknologi seperti telepon pintar.

Okonjo-Iweala menekankan perlunya langkah cepat untuk merespons dampak ketegangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu. WTO disebut tengah mempertimbangkan menggelar pertemuan darurat dengan negara-negara anggotanya untuk membahas langkah mitigasi.

“Prospek perdagangan global telah memburuk tajam akibat lonjakan tarif dan ketidakpastian kebijakan perdagangan,” kata Okonjo-Iweala.

Menurut WTO, ketidakpastian kebijakan tersebut telah melemahkan kepercayaan bisnis, menekan investasi, dan menghambat pertumbuhan ekonomi global. Sejalan dengan itu, WTO menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 dari 2,8% menjadi 2,2%.

Dalam analisisnya, WTO menyebut ketidakpastian kebijakan perdagangan memengaruhi pengambilan keputusan bisnis secara global. Laporan itu menambahkan bahwa kemampuan perusahaan dalam mengelola ketidakpastian akan menentukan apakah momentum ekonomi global yang terlihat pada 2024 dapat berlanjut.

WTO juga menyoroti bahwa tarif yang diterapkan AS selama pemerintahan Trump dinilai bertentangan dengan prinsip WTO yang mengharuskan semua anggota menerima perlakuan perdagangan yang setara. China pun mendesak WTO menyelidiki dampak kebijakan tersebut.

Di tengah perlambatan globalisasi dan meningkatnya proteksionisme, WTO menghadapi tantangan untuk memainkan peran lebih aktif dalam meredakan ketegangan perdagangan internasional. Dalam pernyataan resminya kepada WTO, Beijing menyatakan, “Tarif bukanlah solusi atas ketidakseimbangan perdagangan, sebaliknya, kebijakan ini akan menjadi bumerang dan merugikan AS sendiri.”