China memulai dua penyelidikan terhadap praktik dagang Amerika Serikat (AS) menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada pertengahan Mei. Langkah ini disebut sebagai respons atas penyelidikan serupa yang sebelumnya dibuka pemerintahan Trump terhadap China.
Kementerian Perdagangan China mengumumkan penyelidikan tersebut pada Jumat (27/3). Dalam pernyataannya, juru bicara kementerian menyatakan China “sangat tidak puas” dan “menentang dengan tegas” tindakan AS, merujuk pada penyelidikan Pasal 301 yang dimulai pada 11 Maret.
Pertemuan Trump dan Xi dijadwalkan berlangsung di China pada pertengahan Mei, setelah sebelumnya sempat tertunda akibat perang AS-Israel terhadap Iran. Meski hubungan dua ekonomi terbesar dunia ini dinilai relatif stabil usai saling balas tarif tahun lalu, China telah mengisyaratkan penolakan terhadap langkah baru AS.
Dari pihak AS, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menilai penyelidikan China bersifat simbolis. Ia menyebut China sebagai pihak yang mengganggu rantai pasok dan perdagangan produk ramah lingkungan. Greer menambahkan, tujuan AS tetap mengarah pada stabilitas ekonomi dan perdagangan yang seimbang dengan China, sejalan dengan kesepakatan AS–China yang dicapai tahun lalu di Busan, Korea.
Ketegangan baru juga muncul menyusul serangan AS terhadap Iran, yang disebut sebagai mitra diplomatik China. Di luar itu, hubungan kedua negara masih dibayangi sejumlah isu, termasuk surplus perdagangan China yang mencetak rekor serta penjualan senjata AS ke Taiwan—wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari teritorinya.
Beijing belum mengonfirmasi rencana kunjungan Trump ke China. Namun, masing-masing penyelidikan yang baru diumumkan ini memiliki tenggat waktu enam bulan dan dapat diperpanjang enam bulan, yang memberi Beijing dasar hukum untuk tindakan balasan serta tambahan pengaruh menjelang pembicaraan apa pun.
Salah satu penyelidikan China yang diajukan secara terpisah terhadap Meksiko pada September disebut telah berakhir pada Senin (23/3). Dalam kesimpulannya, Beijing menyatakan tarif Meksiko terhadap barang China merupakan hambatan perdagangan dan berjanji mengambil langkah untuk melindungi kepentingan perusahaan China, tanpa merinci bentuk langkah tersebut.
Dua penyelidikan terbaru menargetkan praktik dagang AS yang menurut Beijing mengganggu rantai pasok global. Ruang lingkupnya mencakup pembatasan masuknya barang China ke pasar AS, kontrol ekspor teknologi canggih, serta pembatasan investasi bilateral di sektor-sektor penting.
Penyelidikan lainnya secara khusus menyoroti apa yang digambarkan China sebagai hambatan AS terhadap perdagangan produk ramah lingkungan. Ini termasuk pembatasan ekspor barang-barang terbarukan China ke AS dan pembatasan kerja sama dalam teknologi ramah lingkungan.
Kementerian Perdagangan China menyatakan sejumlah langkah yang masuk dalam kedua penyelidikan itu berpotensi melanggar aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan perjanjian yang telah ditandatangani kedua negara.
Sebelumnya, Perwakilan Dagang AS pada awal bulan ini memulai investigasi Pasal 301 terhadap China dan 15 negara lain atas dugaan kelebihan kapasitas manufaktur. Sehari setelahnya, AS membuka penyelidikan terpisah terhadap 60 negara, termasuk China, terkait larangan impor barang yang diproduksi dengan kerja paksa.
Menteri Perdagangan China Wang Wentao menyampaikan kekhawatiran serius atas penyelidikan-penyelidikan tersebut. Dalam pertemuan di Kamerun, Wang mengutip pernyataan Xi Jinping dan menyebut perdagangan sebagai penopang hubungan, serta mendesak AS menghindari kompetisi yang tidak sehat dan menerapkan konsensus yang dicapai dalam pertemuan pemimpin sebelumnya di Busan serta pembicaraan setelahnya.
Pejabat kedua negara, termasuk Greer dan Menteri Keuangan AS Scott Bessent, juga dilaporkan bertemu di Paris pada awal bulan ini untuk meletakkan dasar bagi pertemuan mendatang. Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas kemungkinan pembentukan panel penegakan perdagangan untuk membantu menangani sengketa, sebuah mekanisme yang oleh Greer disebut sebagai Dewan Perdagangan AS–China.

