BANDUNG — Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (FGB ITB) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bersama Wakil Menteri Luar Negeri RI Arif Havas Oegroseno di Gedung Balai Pertemuan Ilmiah (BPI) ITB, Rabu (29/4/2026). Diskusi mengangkat tema “Strategi Diplomasi Teknologi Indonesia yang Berdaulat dan Adaptif”.
Ketua FGB ITB Prof. Ir. Mindriany Syafila, M.S., Ph.D. menyampaikan bahwa perubahan geopolitik yang bergerak cepat membuat keterkaitan teknologi dan diplomasi semakin tak terelakkan. Ia menilai bahasa sains kian penting untuk menjadi perhatian bersama, tidak hanya bagi akademisi, tetapi juga diplomat dan pengambil kebijakan.
“Ilmu pengetahuan dapat mempererat hubungan diplomasi dua negara. Karena itu, kami berharap kegiatan ini dapat menjadi jembatan, sehingga para akademisi yang akan melakukan kunjungan ke luar negeri juga memperoleh pemahaman diplomasi yang baik,” ujar Mindriany. Ia juga mengapresiasi kehadiran Arif Havas Oegroseno yang dinilai memiliki pemahaman kuat terkait isu sains, teknologi, dan industri.
Diskusi dimoderatori Guru Besar Kelompok Keahlian Kimia Fisika dan Anorganik FMIPA ITB Prof. Dr. Ismunandar. Dalam pengantarnya, ia menyoroti bahwa perkembangan sains, teknologi, dan media sosial membuka peluang baru bagi diplomasi, namun bersamaan dengan itu dunia menghadapi tantangan fragmentasi global dan melemahnya multilateralisme.
Menurut Ismunandar, dalam situasi tersebut sains dapat menjadi instrumen untuk membangun komunikasi lintas negara sekaligus memperkuat posisi strategis Indonesia. Ia mengarahkan pembahasan pada isu-isu seperti diplomasi sains Indonesia, peluang kerja sama, daya tawar strategis, formula diplomasi, hingga kedaulatan digital.
Dalam pemaparannya, Arif Havas Oegroseno menekankan menguatnya fenomena weaponization of technology atau penggunaan teknologi sebagai instrumen tekanan dalam hubungan internasional. Ia menyebut teknologi tidak lagi semata menjadi alat kemajuan, tetapi juga instrumen strategis dalam persaingan global.
Ia menjelaskan isu-isu seperti senjata nuklir, alat utama sistem persenjataan, semikonduktor, energi, pangan, hingga teknologi digital kini menjadi bagian dari dinamika geopolitik. Dalam konteks itu, setiap negara perlu memahami posisinya dan memperkuat kapasitas nasional agar tidak mudah tertekan oleh perubahan global.
“Semua bisa menjadi senjata, semua bisa menjadi alat penekan. Tinggal bagaimana kita memosisikan diri dalam dinamika global,” ujarnya.
Arif menambahkan Indonesia perlu membangun ketahanan dan kemandirian di sejumlah sektor strategis, antara lain energi, minyak dan gas, dirgantara, pangan, bahan bakar, serta semikonduktor. Menurutnya, kekuatan nasional di sektor-sektor tersebut akan menjadi bagian penting dari daya tawar Indonesia dalam diplomasi internasional.
Ia juga menyinggung perlunya penguatan sumber daya manusia untuk mendukung industri strategis. Salah satu tantangan yang disebutnya adalah kesiapan tenaga kerja teknis, termasuk lulusan sekolah menengah kejuruan, dalam menopang pengembangan industri dan teknologi nasional.
Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. turut menyampaikan pandangan dalam sesi diskusi. Ia menyoroti posisi Indonesia sebagai negara middle income sekaligus middle power yang menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Menurutnya, posisi itu membuka ruang strategis, namun juga menimbulkan tantangan untuk memenuhi kebutuhan nasional di tengah tekanan global.
Tatacipta juga mengangkat refleksi tentang ketahanan negara menghadapi kemungkinan tekanan eksternal, termasuk embargo. Ia mempertanyakan sejauh mana Indonesia dapat belajar dari pengalaman negara lain yang tetap mengembangkan kemampuan sains dan teknologinya meski menghadapi tekanan internasional.
Melalui FGD ini, FGB ITB mendorong penguatan pemahaman sivitas akademika mengenai hubungan ilmu pengetahuan, teknologi, dan diplomasi. Forum tersebut juga menjadi ruang pertemuan perspektif akademik dan kebijakan luar negeri dalam membaca peluang Indonesia di tengah perubahan geopolitik dunia, sekaligus diharapkan memperkuat kontribusi ITB dalam membangun ekosistem sains dan teknologi yang relevan bagi kepentingan bangsa dan posisi Indonesia di tingkat global.