BERITA TERKINI
Wall Street Melemah Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Data Tenaga Kerja AS yang Mengecewakan

Wall Street Melemah Dipicu Lonjakan Harga Minyak dan Data Tenaga Kerja AS yang Mengecewakan

Bursa saham Amerika Serikat menutup perdagangan akhir pekan di zona merah, memperpanjang tren pelemahan mingguan. Tekanan pasar dipicu oleh lonjakan harga minyak serta rilis data tenaga kerja yang berada di bawah ekspektasi.

Pada penutupan perdagangan Jumat, tiga indeks utama mencatat penurunan tajam. Dow Jones Industrial Average turun 453,19 poin atau 0,95% ke level 47.501,55. Sepanjang pekan, Dow terkoreksi 3%.

S&P 500 melemah 1,33% dan berakhir di 6.740,02, dengan penurunan mingguan 2%. Sementara Nasdaq Composite merosot 1,59% ke posisi 22.387,68, mencatat pelemahan mingguan 1,2%.

Pelemahan pasar turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang menembus US$90 per barel. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi tekanan inflasi yang lebih tinggi.

Dari sisi korporasi, saham BlackRock turun 7% dan mencatat hari perdagangan terburuknya sejak awal April. Penurunan terjadi setelah perusahaan manajemen investasi tersebut memutuskan membatasi penarikan dana dari salah satu private credit fund untuk pertama kalinya.

Berdasarkan laporan, HPS Corporate Lending Fund menyampaikan hanya akan melakukan pembelian kembali hingga 5% dari total sahamnya pada kuartal ini, sesuai batas minimum komitmen perusahaan. Keputusan itu menjadi sorotan karena permintaan penebusan investor mencapai 9,3%. Ini merupakan kuartal pertama dalam empat tahun sejarah reksa dana tersebut ketika permintaan penarikan melampaui ambang 5%. Sentimen tersebut turut menekan kinerja saham BlackRock yang tercatat turun 9,9% sejak awal tahun.

Tekanan terhadap pasar ekuitas juga datang dari data ketenagakerjaan terbaru Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Nonfarm payrolls secara tak terduga tercatat turun 92.000 pekerjaan pada Februari, berbanding terbalik dengan perkiraan ekonom yang sebelumnya memproyeksikan penambahan 50.000 pekerjaan. Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4% dari 4,3%.

Kepala Ekonom Goldman Sachs Jan Hatzius menilai pertumbuhan pasar tenaga kerja saat ini tergolong lemah. Ia menyebut AS masih berada dalam lingkungan “low hire, low fire” atau rendah perekrutan dan rendah pemutusan hubungan kerja. Hatzius juga menilai sejumlah kejutan pada data ekonomi belakangan mulai mengarah pada risiko stagflasi, yakni kondisi inflasi tinggi yang terjadi bersamaan dengan stagnasi ekonomi dan pengangguran.

Sejalan dengan itu, Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly menyatakan pelemahan data tenaga kerja Februari menambah kompleksitas dalam perumusan kebijakan bank sentral. Menurutnya, pasar tenaga kerja yang mulai melunak, di tengah inflasi yang masih di atas target 2%, membuat posisi The Fed menjadi lebih menantang. Meski demikian, Daly mengingatkan pasar agar tidak menarik kesimpulan berlebihan hanya dari satu bulan data.

Di tengah tekanan yang melanda bursa, saham penyedia peralatan jaringan optik Ciena justru menguat hampir 3% pada perdagangan Jumat. Kenaikan didorong langkah Bank of America yang menaikkan peringkat saham Ciena menjadi buy dari sebelumnya neutral. Analis Bank of America Tal Liani melihat potensi kenaikan lebih dari 18% dengan target harga baru US$355, seiring meningkatnya belanja cloud dan kebutuhan perangkat keras jaringan optik untuk mendukung operasional pusat data kecerdasan buatan (AI). Siklus belanja modal ini diproyeksikan berlanjut hingga 2027, dengan Ciena yang disebut memiliki pangsa pasar dominan di sektor optik.