Delegasi Vietnam yang dipimpin Direktur Departemen Kerja Sama Internasional Kementerian Pendidikan dan Pelatihan, Nguyen Thu Thuy, berpartisipasi dalam upaya mempromosikan dan memperluas kerja sama pendidikan internasional dalam ajang APAIE 2026. Kehadiran Vietnam juga melibatkan perwakilan dari 17 lembaga pendidikan tinggi terkemuka.
Ketua APAIE, Venky Shankararaman, menyampaikan apresiasi atas partisipasi delegasi Vietnam yang disebut sebagai jumlah perwakilan universitas terbesar yang pernah hadir. Ia menilai banyak negara di kawasan Asia-Pasifik, khususnya Asia Tenggara, ingin memperkuat kerja sama dengan universitas-universitas Vietnam. Shankararaman juga mengusulkan agar Sekretariat APAIE menyelenggarakan lokakarya peningkatan kapasitas kerja sama pendidikan internasional di Vietnam, melanjutkan kegiatan serupa yang sebelumnya digelar di New Delhi (India) dan Indonesia, untuk mendukung pelatihan dosen terkait internasionalisasi.
Dalam kesempatan itu, Shankararaman turut berbagi pengalamannya mengajar mahasiswa Vietnam. Ia menilai para mahasiswa tersebut sebagai pembelajar yang cerdas, ramah, berpengetahuan luas, dan rajin, serta memberikan kesan baik pada rekan-rekan internasional.
Nguyen Thu Thuy menyatakan APAIE 2026 memiliki arti strategis bagi Vietnam, seiring kematangan dan perkembangan sistem pendidikan tinggi negara tersebut. Menurutnya, delegasi Vietnam akan berfokus pada peningkatan konektivitas dan perluasan kerja sama internasional di bidang pendidikan, sekaligus memperdalam hubungan tradisional untuk menciptakan lebih banyak peluang bagi mahasiswa, dosen, dan ilmuwan Vietnam maupun negara lain, terutama di kawasan Asia-Pasifik.
Ia menyebut Vietnam saat ini memiliki sekitar 2,2 juta mahasiswa yang belajar di dalam negeri dan sekitar 200.000 mahasiswa yang menempuh pendidikan di universitas-universitas besar di berbagai negara. Partisipasi kementerian bersama 17 perguruan tinggi dalam APAIE 2026 dinilai turut membangun citra positif, mempromosikan potensi, dan membantu dunia memahami pendidikan Vietnam.
Menurut Nguyen Thu Thuy, keikutsertaan Vietnam di APAIE 2026 juga menjadi kesempatan untuk menarik mitra-mitra utama dunia dalam menjajaki peluang investasi serta memperluas kerja sama di Vietnam. Ia menekankan Vietnam tidak hanya mengirim mahasiswa ke luar negeri, tetapi juga berupaya memperkenalkan keunggulan sistem pendidikannya agar Vietnam dapat dipertimbangkan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan internasional baru di kawasan maupun global. Vietnam, lanjutnya, telah memobilisasi lembaga dan bisnis domestik seiring penguatan kerja sama internasional untuk meningkatkan kualitas pendidikan menuju standar internasional, termasuk melalui lebih dari 500 program pelatihan bersama di berbagai tingkatan dengan universitas dan mitra dari berbagai negara.
Nguyen Thu Thuy menambahkan, kementerian memprioritaskan penguatan program pelatihan kolaboratif internasional terutama pada bidang teknologi tinggi, teknologi inti, dan sektor prioritas Vietnam, seperti kecerdasan buatan, teknologi semikonduktor, energi hijau, bioteknologi, dan kereta api cepat. Ia juga menyebut kementerian berupaya menciptakan kondisi bagi universitas internasional dan universitas Vietnam untuk bertukar kredit, menuju pengakuan gelar bersama, serta memfasilitasi pertukaran tenaga kerja lintas batas.
Ia menyampaikan keyakinan bahwa Vietnam dan Hong Kong memiliki kedekatan geografis dan kesamaan budaya yang membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa Vietnam untuk mengikuti pertukaran akademik, penelitian kolaboratif, dan pelatihan kejuruan. Vietnam juga berharap dapat menarik lebih banyak dosen, administrator, ilmuwan, dan ahli dari universitas di berbagai negara, khususnya dari Hong Kong.
Sejumlah pimpinan perguruan tinggi Vietnam yang hadir turut memaparkan fokus kerja sama masing-masing. Rektor Universitas Van Lang, Tran Thi My Dieu, mengatakan APAIE mempertemukan banyak universitas bergengsi, organisasi pendidikan, dan mitra penelitian dari seluruh dunia. Karena itu, Universitas Van Lang akan menitikberatkan strategi internasionalisasi, komitmen, serta peningkatan standar keunggulan akademik internasional untuk menghasilkan nilai nyata bagi masyarakat melalui proyek, riset, pembelajaran, dan pertukaran antarpemangku kepentingan.
Wakil Rektor Universitas Teknologi di bawah Universitas Nasional Vietnam Kota Ho Chi Minh, Pham Tran Vu, menyebut institusinya memiliki ratusan mitra global dan berharap partisipasi dalam APAIE dapat memperluas jejaring kerja sama. Ia mengatakan universitas menargetkan peningkatan penerimaan mahasiswa internasional ke Vietnam melalui skema studi penuh waktu, studi satu semester, maupun pertukaran budaya dan bahasa jangka pendek.
Rektor Universitas Pertambangan dan Geologi, Tran Thanh Hai, menilai APAIE sebagai peluang untuk memperluas kerja sama, menandatangani nota kesepahaman, serta mempromosikan kolaborasi pendidikan internasional. Dalam bidang riset, universitas tersebut akan mencari program kerja sama berkualitas tinggi untuk mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir, terutama pada bidang yang menjadi kekuatan kampus seperti inovasi dan transformasi digital.
Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Phenikaa, Nguyen Phu Khanh, menyatakan universitasnya memiliki berbagai program dukungan bagi mahasiswa internasional yang belajar di Vietnam. Selain dukungan finansial seperti beasiswa dan asrama, mahasiswa juga mendapat dukungan untuk terlibat dalam proyek riset, magang, dan kewirausahaan. Ia menyebut Universitas Phenikaa saat ini menerima mahasiswa internasional penuh waktu dari Amerika Serikat, Finlandia, dan Laos, serta mahasiswa yang mengikuti studi satu semester atau program pertukaran jangka pendek.
Di sela acara, Nguyen Thu Thuy bertemu dengan Direktur Biro Pendidikan Hong Kong, Choi Yuk-lin, untuk bertukar pandangan mengenai situasi terkini dan peningkatan kerja sama pendidikan tinggi antara kedua pihak. Presentasi Nguyen Thu Thuy mengenai kebijakan pendidikan internasional Vietnam dalam rangka konferensi dan pameran tersebut disebut mendapat perhatian besar dari para peserta.
APAIE 2026 dijadwalkan berlangsung hingga 27 Februari.

