Wakil Perdana Menteri Vietnam Nguyen Hoa Binh menghadiri Forum Bisnis Vietnam–Amerika Serikat di New York, Minggu (23/3), yang membahas upaya menarik modal dan mempromosikan investasi di Pusat Keuangan Internasional Vietnam (Vietnam International Financial Center/VIFC). Kegiatan ini menjadi agenda pembuka dalam rangkaian kunjungan dan perjalanan kerja Nguyen Hoa Binh ke Amerika Serikat.
Dalam forum tersebut, para peserta mendengarkan paparan dari pimpinan lembaga Vietnam dan pemerintah kota mengenai rencana VIFC yang akan dikembangkan di Ho Chi Minh City dan Da Nang. Materi yang dibahas mencakup mekanisme kebijakan, kerangka hukum preferensial, serta peluang investasi bagi investor dan mitra dari AS. Sejumlah pelaku usaha dan pakar keuangan AS juga menyampaikan pengalaman pengembangan pusat keuangan internasional, diikuti diskusi tentang langkah menarik arus modal, memperkuat keterhubungan VIFC dengan sistem keuangan global, dan mendorong kerja sama investasi.
Nguyen Hoa Binh menyampaikan apresiasi kepada Warburg Pincus atas koordinasi dan penyelenggaraan forum. Ia menilai rekam jejak Warburg Pincus—yang disebut sebagai salah satu investor terbesar dan paling lama beroperasi di Vietnam—menjadi contoh mengenai peluang keuntungan dan keamanan modal AS di pasar Vietnam, dengan nilai penyaluran investasi lebih dari US$2 miliar dalam satu dekade terakhir.
Menurut Nguyen Hoa Binh, forum berlangsung dalam konteks yang dinilai memiliki makna penting bagi hubungan kedua negara. Ia menyebut kunjungan kenegaraan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam ke Amerika Serikat pada Februari 2026 telah menetapkan arah strategis baru untuk memperdalam Kemitraan Strategis Komprehensif Vietnam–AS. Dalam kerangka itu, kerja sama ekonomi, keuangan, dan investasi teknologi tinggi disebut sebagai fokus yang diharapkan menjadi pendorong fase kerja sama berikutnya.
Ia juga menyinggung tantangan ekonomi global yang dinilai kian kompleks, termasuk ketegangan geopolitik dan dinamika yang sulit diprediksi di sejumlah kawasan, yang berdampak pada rantai pasok global dan keamanan energi.
Vietnam dan AS menandai lebih dari 30 tahun normalisasi hubungan diplomatik sejak 1995, dan pada 2023 meningkatkan hubungan menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif. Nguyen Hoa Binh menyebut sektor keuangan dan investasi termasuk pilar yang mendorong hubungan bilateral ke tingkat lebih tinggi.
Dalam data yang dipaparkan, pada 2025 nilai perdagangan bilateral disebut meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Dari sisi investasi, AS berada di peringkat ke-11 dari 153 negara dan wilayah yang berinvestasi di Vietnam, dengan lebih dari 1.530 proyek aktif dan total modal terdaftar melampaui US$12,4 miliar. Sebaliknya, Vietnam memiliki 271 proyek investasi aktif di AS dengan total modal terdaftar lebih dari US$1,4 miliar.
Nguyen Hoa Binh menilai kekuatan AS di bidang keuangan, sains dan teknologi, energi terbarukan, industri makanan, serta infrastruktur selaras dengan strategi Vietnam dalam menarik investasi asing. Ia juga menyebut kehadiran dan minat perusahaan seperti Boeing, Apple, Intel, dan NVIDIA sebagai indikasi kepercayaan terhadap lingkungan investasi di Vietnam.
Ia memaparkan capaian ekonomi Vietnam setelah hampir 40 tahun reformasi. Pada 2025, ukuran ekonomi diperkirakan sekitar US$510 miliar, menempati peringkat ke-32 dunia dan ke-4 di ASEAN. Pendapatan per kapita diproyeksikan sekitar US$5.000 per tahun. FDI kumulatif yang ditarik diperkirakan hampir US$526 miliar, menempatkan Vietnam di antara 15 negara berkembang teratas dalam menarik FDI secara global. Total omzet perdagangan diproyeksikan sekitar US$900 miliar, dan Vietnam disebut termasuk 20 ekonomi paling terbuka di dunia. Vietnam juga telah menandatangani 17 perjanjian perdagangan bebas dengan lebih dari 60 negara dan wilayah.
Menurutnya, Vietnam semakin diakui sebagai lingkungan investasi yang menarik serta negara yang ramah, damai, dan aman untuk keputusan investasi jangka panjang. Ia juga menyoroti tenaga kerja muda yang dinamis dan kreatif sebagai salah satu modal untuk merespons tuntutan teknologi baru.
Dalam periode mendatang, pemerintah Vietnam disebut akan menjalankan sejumlah tugas utama, termasuk mendorong ekonomi swasta sebagai penggerak penting, mempercepat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, inovasi, dan transformasi digital, serta memperkuat integrasi dan kerja sama internasional dengan fokus pada ekonomi digital dan pertumbuhan hijau. Vietnam juga menyatakan akan terus mendorong investasi infrastruktur strategis dan proyek nasional utama, seperti kereta cepat Utara–Selatan, bandara, pelabuhan, tenaga nuklir, dan energi terbarukan, dengan target mendukung komitmen Net Zero pada 2050.
Nguyen Hoa Binh menegaskan pembentukan pusat keuangan internasional dipandang sebagai kebijakan penting dan terobosan reformasi kelembagaan untuk memobilisasi sumber daya keuangan dan sumber daya manusia berkualitas tinggi. Ia menyebut langkah ini diarahkan untuk mendukung transformasi model pertumbuhan, restrukturisasi ekonomi, dan peningkatan produktivitas serta daya saing nasional.
Ia menyampaikan bahwa Vietnam telah membangun kerangka kebijakan untuk mengoperasikan pusat keuangan dan menghubungkannya dengan sistem keuangan global. Majelis Nasional menerbitkan Resolusi No. 222/2025/QH15 sebagai dokumen hukum pertama yang menjadi landasan pengembangan pusat keuangan internasional dengan model “satu pusat, dua destinasi” di Da Nang dan Ho Chi Minh City, yang disebut saling melengkapi tanpa bersaing.
Vietnam juga mengesahkan Undang-Undang tentang Pengadilan Khusus di Pusat Keuangan untuk membentuk mekanisme penyelesaian sengketa sesuai praktik internasional. Pada 2025, pemerintah menerbitkan delapan keputusan untuk memandu pelaksanaan Resolusi No. 222, yang mengatur berbagai bidang seperti jasa keuangan, perbankan, valuta asing, pertanahan, lingkungan, imigrasi, tempat tinggal, bursa komoditas, mekanisme arbitrase internasional, serta uji coba terkontrol (sandbox).
Struktur organisasi VIFC juga ditetapkan, termasuk Dewan Eksekutif, Kantor Eksekutif di kedua kota, dan Kantor Pengawasan. Dewan Eksekutif bersama badan eksekutif di dua kota disebut tengah menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan, mempromosikan investasi, menarik lembaga keuangan dan dana investasi, serta memperbarui tren global dan belajar dari pengalaman internasional untuk menyempurnakan kerangka kelembagaan agar operasional berjalan efisien dan konsisten di kedua lokasi.
Dalam forum itu, Nguyen Hoa Binh mengundang pelaku usaha dan investor AS untuk terus mendampingi Vietnam, khususnya Da Nang dan Ho Chi Minh City, dalam pembangunan, pengoperasian, dan pengembangan VIFC. Ia juga berharap investor AS dapat menjadi pihak perintis sekaligus penghubung untuk menarik investor besar lainnya agar berpartisipasi.
Bidang kerja sama yang disebut meliputi pengembangan infrastruktur keuangan modern (pembayaran, penyimpanan, transaksi), pengembangan sumber daya manusia berkualitas tinggi, inovasi di keuangan hijau, fintech, dan aset digital, serta kerja sama penerapan standar keuangan internasional dan penguatan pengawasan guna menjaga keamanan sistem keuangan. Ia juga mendorong dialog dan konsultasi kebijakan berdasarkan pengalaman pengembangan pusat keuangan internasional di AS dan di berbagai negara.
“Vietnam berkomitmen untuk mendampingi, mendukung, dan menciptakan kondisi yang paling menguntungkan bagi investor asing pada umumnya dan bisnis AS pada khususnya untuk berinvestasi dan menjalankan bisnis dengan sukses di Pusat Keuangan Internasional Vietnam,” kata Nguyen Hoa Binh. Ia menyatakan keyakinan bahwa dengan upaya kedua pihak, VIFC dapat menjadi pilar penting dalam hubungan Vietnam–AS dan memberi manfaat bagi perekonomian serta masyarakat kedua negara.

