Wakil Menteri Luar Negeri Vietnam Dang Hoang Giang menyatakan kunjungan kerja Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man ke luar negeri menjadi perjalanan resmi pertama setelah Kongres Nasional Partai ke-14 pada Januari 2026, pemilihan anggota Majelis Nasional ke-16, serta konsolidasi aparatur negara untuk periode baru. Menurutnya, agenda ini merupakan langkah implementasi pedoman kebijakan luar negeri Kongres Partai ke-14 sekaligus upaya menegaskan posisi dan pemikiran kebijakan luar negeri Vietnam yang baru.
Dang Hoang Giang menekankan kunjungan tersebut memiliki arti penting baik pada level multilateral maupun bilateral. Di ranah multilateral, Vietnam ingin menunjukkan dukungan terhadap multilateralisme dan supremasi hukum internasional, serta menegaskan penghormatan dan kontribusi bertanggung jawabnya terhadap Inter-Parliamentary Union (IPU). Sementara pada sisi bilateral, kunjungan diharapkan memperdalam hubungan dengan negara-negara mitra dan membantu mengamankan dukungan internasional serta sumber daya eksternal bagi tujuan pembangunan Vietnam.
Dalam kerangka IPU, ia menyebut Majelis Nasional Vietnam selama ini aktif mendorong kerja sama, mengusulkan inisiatif, dan memberikan kontribusi substansial terhadap kegiatan organisasi tersebut. Vietnam juga disebut telah berpartisipasi dalam berbagai mekanisme kepemimpinan dan tata kelola IPU serta memperoleh kepercayaan tinggi dari parlemen negara anggota. Landasan ini dinilai penting untuk melanjutkan peran Vietnam di IPU-152.
Dang Hoang Giang menyoroti tema IPU-152, “Memupuk Harapan, Menjamin Perdamaian, dan Melindungi Keadilan bagi Generasi Mendatang,” yang menurutnya mencerminkan keprihatinan inti komunitas internasional di tengah situasi dunia yang kompleks dan bergejolak. Dalam forum tersebut, Ketua Majelis Nasional disebut akan menyampaikan pidato penting, berbagi visi Vietnam mengenai isu global dan regional, serta mengusulkan solusi untuk mendorong kerja sama antarparlemen demi pemeliharaan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan.
Selain itu, delegasi Vietnam direncanakan berdiskusi dengan parlemen negara lain mengenai peta jalan untuk meningkatkan efektivitas legislasi dan pengawasan, serta mendorong kerja sama multilateral dalam mencapai tujuan bersama.
Di sela konferensi, Ketua Majelis Nasional juga dijadwalkan mengadakan pertemuan dan pertukaran dengan para pemimpin parlemen negara lain, pimpinan IPU, dan organisasi internasional. Melalui pertemuan ini, Vietnam akan menyampaikan informasi tentang pencapaian pembangunan sosial-ekonomi setelah 40 tahun reformasi, visi pembangunan era baru, serta target menjadi negara berkembang dengan industri modern dan pendapatan menengah tinggi pada 2030, dan negara maju berpendapatan tinggi pada 2045. Pada saat yang sama, Vietnam akan menyampaikan pesan mengenai pedoman kebijakan luar negeri Kongres Partai ke-14.
Dang Hoang Giang menambahkan, kunjungan kerja ini diharapkan memberi dorongan baru bagi hubungan Vietnam dengan mitra-mitra penting, termasuk Turki dan Italia. Untuk Turki, kunjungan ini disebut sebagai lawatan pertama Ketua Majelis Nasional Vietnam dalam delapan tahun, yang dipandang sebagai kesempatan memperkuat kepercayaan politik, memperdalam kerja sama antarlembaga legislatif, dan mendorong hubungan bilateral secara lebih substantif.
Sementara untuk Italia, kunjungan diposisikan sebagai peluang mewujudkan Deklarasi Bersama para pemimpin tingkat tinggi kedua negara tentang penguatan Kemitraan Strategis Vietnam-Italia serta rencana aksi kerja sama bertahap. Diharapkan, kemitraan strategis tersebut dapat menjadi lebih mendalam, substantif, dan efektif di berbagai bidang. Dalam rangkaian agenda ini, Ketua Majelis Nasional juga disebut akan bertemu Paus Leo XIV dan Perdana Menteri Vatikan, Pietro Parolin.
Menurut Dang Hoang Giang, Italia dan Turki merupakan mitra tradisional, lama, dan terkemuka Vietnam di kawasan Eropa dan Timur Tengah. Ia menyebut hubungan persahabatan dan kerja sama multifaset dengan kedua negara terus diperkuat dan menghasilkan sejumlah capaian positif.
Dalam aspek politik, ia mengatakan kepercayaan terus menguat melalui kunjungan dan kontak di berbagai tingkat serta penerapan mekanisme kerja sama bilateral. Di forum multilateral dan parlemen, Vietnam disebut menjaga koordinasi erat dengan Italia dan Turki, saling mendukung, serta memiliki pendekatan serupa pada sejumlah isu internasional dan regional. Vietnam juga telah membentuk kelompok persahabatan parlementer dengan Italia dan Turki.
Di bidang ekonomi, Italia disebut sebagai mitra dagang terbesar ketiga Vietnam di Uni Eropa, sementara Vietnam menjadi mitra dagang terbesar Italia di ASEAN. Nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 7,3 miliar dolar AS pada 2025, meningkat hampir 115% dibandingkan 2013. Italia juga disebut sebagai anggota Uni Eropa pertama di Kelompok Tujuh (G7) yang meratifikasi Perjanjian Perlindungan Investasi Vietnam-UE (EVIPA).
Adapun Turki disebut sebagai salah satu mitra dagang utama Vietnam di Timur Tengah dan dipandang sebagai pintu gerbang ekspor Vietnam ke Timur Tengah serta Eropa Selatan. Nilai perdagangan bilateral Vietnam–Turki mencapai hampir 2,3 miliar dolar AS pada 2025. Turki juga disebut sebagai investor penanaman modal asing langsung (FDI) terbesar kedua dari Timur Tengah di Vietnam, dengan 49 proyek FDI aktif hingga Desember 2025 dan total modal terdaftar hampir 1,8 miliar dolar AS.
Dang Hoang Giang menilai kedua ekonomi bersifat saling melengkapi dan sama-sama berperan sebagai penghubung penting antar kawasan serta organisasi kerja sama multilateral yang diikuti kedua negara.
Kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, pariwisata, serta pertukaran antarmasyarakat juga disebut terus dipromosikan. Untuk Vietnam–Italia, ia mencontohkan Program Kerja Sama Ilmu Pengetahuan dan Teknologi periode 2024–2026. Di bidang budaya, sejumlah kegiatan seperti hari atau pekan budaya, pertunjukan seni, pameran fotografi, pemutaran film, hingga peragaan busana disebut rutin digelar, termasuk pertunjukan “Journey Connecting Heritage”, pameran foto “Italia dan Vietnam: 50 Tahun Persahabatan dan Kerja Sama”, promosi pariwisata Vietnam di Milan, serta Festival Film Italia di Vietnam.
Untuk hubungan dengan Turki, Vietnam disebut menghargai kemitraan tersebut, termasuk melalui dukungan bantuan 100.000 dolar AS dan pengiriman tim penyelamat saat gempa bumi pada Februari 2023. Prioritas kerja sama saat ini mencakup peningkatan pertukaran antarmasyarakat, penyederhanaan prosedur visa, serta perluasan kolaborasi pada bidang potensial seperti energi terbarukan, pertanian, transformasi digital, serta ilmu pengetahuan dan teknologi.
Meski telah ada capaian, Dang Hoang Giang menilai ruang kerja sama Vietnam dengan Italia dan Turki masih besar. Vietnam menyatakan harapan untuk meningkatkan hubungan dengan Italia melalui semua saluran—Partai, Negara, dan Parlemen—serta bidang-bidang utama seperti ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Sementara dengan Turki, fokus disebut pada penguatan kerja sama legislasi, keamanan, ekonomi, dan pertanian halal.
Dengan landasan hubungan tradisional dan kerja sama yang telah terbangun, Dang Hoang Giang menyatakan keyakinannya bahwa kunjungan kerja Ketua Majelis Nasional Tran Thanh Man akan menghasilkan banyak capaian positif, memperkuat dan memperluas kerja sama Vietnam dengan Italia dan Turki. Pertemuan dengan Paus dan Perdana Menteri Vatikan juga diharapkan semakin memperkuat hubungan yang disebut tengah berkembang pesat antara Vietnam dan Takhta Suci, sekaligus membuka peluang baru untuk mendukung aspirasi pembangunan Vietnam serta berkontribusi pada perdamaian, stabilitas, kerja sama, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan dan dunia.