Sebuah tulisan bertanggal 13 Maret 2026 memetakan kemungkinan dampak krisis global yang dikaitkan dengan eskalasi konflik AS–Israel versus Iran. Uraian tersebut menempatkan situasi internasional itu dalam konteks menjelang malam-malam ganjil akhir Ramadhan—yang disebut sebagai pintu menuju Lailatul Qadar—seraya menekankan pentingnya kesiapsiagaan di berbagai lapisan, mulai dari negara hingga individu.
Penulis menggambarkan kondisi global yang disebut sedang berada pada titik genting dan mengajukan pertanyaan tentang konsekuensi bila konflik terus meningkat. Menurut tulisan itu, dampak tidak hanya akan terasa pada level geopolitik, tetapi juga berpotensi merembet ke komunitas, keluarga, dan individu. Pemetaan skenario disampaikan sebagai upaya persiapan menghadapi kemungkinan terburuk, bukan untuk menakut-nakuti.
Level negara: risiko krisis energi, ekonomi, hingga tekanan geopolitik
Pada level negara, tulisan tersebut menegaskan negara memikul tanggung jawab utama melindungi warga. Namun, dalam skenario terburuk, negara bisa gagal menjalankan fungsi itu. Ada tiga skenario yang dipaparkan.
Pertama, skenario “eskalasi nuklir terbatas”. Dalam gambaran ini, Israel disebut dapat mengaktifkan “Samson Option” dengan target fasilitas nuklir Iran di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Dampak yang diproyeksikan meliputi penyebaran radiasi di kawasan Teluk yang memicu evakuasi massal, serta risiko meluasnya penggunaan senjata nuklir oleh pihak lain. Pada saat yang sama, rantai pasokan minyak dunia disebut berpotensi terputus, dengan proyeksi harga minyak bisa melonjak hingga 300 dolar AS per barel.
Dalam skenario tersebut, negara-negara Teluk diperkirakan dapat memutus hubungan diplomatik, Turki akan terdorong merespons karena kedekatan geografis dan dampak radiasi, sementara Rusia dan China disebut berpotensi terlibat langsung karena adanya personel mereka di Iran. Untuk Indonesia, tulisan itu memproyeksikan krisis ekonomi berat sebagai negara pengimpor minyak, dengan risiko subsidi BBM “jebol”, inflasi dua digit, dan tekanan pada nilai tukar rupiah.
Kedua, skenario “perang regional total”. Jika Iran merespons dengan serangan besar ke Israel dan pangkalan AS, konflik dinilai dapat meluas ke Timur Tengah dengan keterlibatan Hizbullah di Lebanon, Ansarullah di Yaman, serta milisi di Irak dan Suriah. Dampak yang dipetakan antara lain penutupan total Selat Hormuz yang disebut menghentikan 20% pasokan minyak dunia, hancurnya infrastruktur vital di negara-negara Teluk, gelombang pengungsi ke Yordania, Turki, dan Eropa, serta resesi global yang disebut terdalam sejak Depresi Besar 1930-an.
Bagi Indonesia, tulisan itu menyebut dampak tambahan di luar ekonomi, termasuk potensi kesulitan pemulangan 58 ribu jemaah umrah yang disebut masih tertahan di berbagai bandara, serta risiko hilangnya mata pencaharian ribuan WNI di kawasan Teluk dan terhentinya remitansi.
Ketiga, skenario “runtuhnya tatanan global”. Konflik dinilai dapat berkembang menjadi perang terbuka AS–China melalui keterlibatan China di Iran, yang dalam tulisan itu disebut sebagai “Perang Dunia III”. Dampak yang diproyeksikan meliputi hancurnya rantai pasok global, kolapsnya sistem keuangan, kemungkinan dolar AS kehilangan status mata uang cadangan, serta perang siber yang melumpuhkan infrastruktur vital, termasuk di Indonesia. Dalam kondisi itu, negara-negara disebut akan dipaksa memilih blok, sementara Indonesia diproyeksikan menghadapi tekanan besar terhadap prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Dalam bagian rekomendasi, tulisan tersebut mendorong pemerintah menyiapkan skenario darurat nasional, termasuk evakuasi WNI, stabilisasi harga pangan, pengamanan infrastruktur vital, penguatan pertahanan siber, serta pengamanan cadangan pangan dan energi. Disebut pula perlunya memperluas jejaring diplomasi dengan negara-negara yang tidak memihak.
Level komunitas: ancaman konflik sosial dan rapuhnya solidaritas
Pada level komunitas, krisis besar dipandang dapat menguji solidaritas sosial. Skenario pertama adalah krisis pangan yang memicu konflik horizontal, termasuk perebutan sumber daya seperti air, makanan, dan bahan bakar. Kota besar disebut berpotensi menghadapi antrean panjang di SPBU dan pasar yang bisa memicu kerusuhan, dengan kelompok rentan seperti buruh harian, pedagang kecil, dan pengemudi ojek online disebut paling awal terdampak.
Skenario kedua adalah polarisasi sosial akibat konflik global yang memiliki dimensi keagamaan. Tulisan itu menyebut potensi memanasnya perbedaan sikap di masyarakat, termasuk terkait isu “Board of Peace” (BoP) dan konsekuensi pelabelan politik yang dapat memicu ketegangan di tingkat lokal. Penulis menekankan pentingnya menjaga persatuan.
Skenario ketiga adalah runtuhnya jaringan sosial seperti arisan, pengajian, dan gotong royong akibat krisis berkepanjangan, ketika orang semakin fokus pada bertahan hidup. Sebagai langkah antisipasi, tulisan itu mengusulkan penguatan ketahanan pangan lokal, aktivasi gotong royong, menjaga komunikasi sehat di tingkat RT/RW agar informasi tidak provokatif, serta penguatan forum-forum keagamaan sebagai pusat ketahanan sosial dan spiritual.
Level keluarga: tekanan ekonomi dan risiko disintegrasi
Di level keluarga, tulisan tersebut menggambarkan rumah tangga sebagai benteng terakhir, namun rentan goyah oleh tekanan ekonomi dan psikologis. Skenario pertama adalah krisis ekonomi rumah tangga akibat inflasi dan potensi PHK, yang dapat menguras tabungan, menumpuk utang, memicu anak putus sekolah, hingga kehilangan tempat tinggal karena gagal membayar cicilan atau sewa.
Skenario kedua adalah stres berkepanjangan yang disebut dapat memicu kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dengan anak-anak dipandang sebagai kelompok paling rentan. Skenario ketiga adalah disintegrasi keluarga, misalnya karena orang tua harus bekerja di tempat lain, perceraian akibat tekanan ekonomi, atau anak terlantar.
Langkah yang disarankan meliputi menyiapkan dana darurat hingga enam bulan, hidup lebih sederhana dan mengurangi utang, membangun komunikasi keluarga yang sehat, memperkuat pendidikan agama di rumah, serta menyiapkan rencana darurat dan tas siaga berisi dokumen penting, makanan, air, dan obat-obatan.
Level individu: kehilangan pekerjaan, kesehatan mental, hingga krisis iman
Pada level individu, krisis digambarkan sebagai ujian yang dapat memunculkan masalah berlapis. Skenario pertama adalah kehilangan pekerjaan yang bukan hanya menghilangkan pendapatan, tetapi juga identitas dan harga diri. Skenario kedua adalah gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, hingga PTSD. Tulisan itu menyebut sistem kesehatan di Indonesia belum siap menghadapi lonjakan kasus.
Skenario ketiga, yang disebut paling berat, adalah “kehilangan iman” ketika tekanan berkepanjangan memicu keputusasaan. Sebagai respons, penulis mengajukan sejumlah langkah: memperkuat hubungan spiritual, menjaga kesehatan fisik, mengelola stres melalui dukungan sosial dan aktivitas yang menenangkan, memperbanyak istighfar dan taubat, memperkuat ilmu agama, serta menghindari sikap putus asa.
Malam-malam akhir Ramadhan sebagai momentum refleksi
Bagian penutup tulisan menekankan malam-malam ganjil akhir Ramadhan—21, 23, 25, 27, dan 29—sebagai “malam penentuan” yang dikaitkan dengan keyakinan tentang penetapan takdir tahunan pada Lailatul Qadar. Penulis menautkan urgensi doa dan ikhtiar dengan situasi global serta ketahanan bangsa, komunitas, keluarga, dan individu.
Uraian tersebut juga memuat contoh doa yang dapat dipanjatkan pada Lailatul Qadar, termasuk doa memohon ampunan, keselamatan bangsa, pertolongan bagi yang tertindas, keteguhan iman, dan kesabaran menghadapi ujian. Pada akhirnya, tulisan itu menutup dengan ajakan mempersiapkan diri menghadapi ketidakpastian, sembari berharap terhindar dari skenario terburuk.

