Program Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) menandatangani Memorandum of Agreement (MoA) dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) pada Selasa (31/3/2026). Kerja sama ini disebut sebagai upaya memperkuat jalur akademik di tengah meningkatnya eskalasi konflik global yang dinilai berdampak pada ekonomi dan kehidupan masyarakat.
Direktur Pascasarjana Unisma, M. Mas’ud Said, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam meredam dampak konflik yang meluas lintas negara. Menurutnya, perang modern tidak hanya terjadi di wilayah fisik, tetapi ikut memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari energi, pangan, ekonomi, hingga pendidikan.
“Kita sedang menghadapi konflik besar di dunia. Dampaknya bukan hanya antarnegara, tapi sampai ke energi, pangan, ekonomi, bahkan kehidupan keluarga. Ini yang harus dijawab oleh kampus,” ujar Mas’ud, Rabu (1/4/2026).
Ia menambahkan, dampak konflik dapat dirasakan hingga tingkat rumah tangga. Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan terhadap anggaran negara, serta terganggunya proses pendidikan disebut sebagai konsekuensi yang dirasakan masyarakat.
Dalam kerja sama tersebut, Unisma dan UiTM menyepakati penguatan kajian ilmiah, terutama terkait resolusi konflik dan perdamaian dunia. Mas’ud menyebut kolaborasi antarkampus dipandang strategis untuk membangun kekuatan kolektif berbasis ilmu pengetahuan.
“Kami ingin memperdalam penulisan kajian ilmiah tentang konflik dan bagaimana mencari resolusinya. Tidak ada manusia yang ingin perang, semua ingin damai, tapi cara yang ditempuh sering kali keliru,” katanya.
Selain riset, kolaborasi ini mencakup pertukaran akademik dan kegiatan pengabdian masyarakat lintas negara. Mahasiswa dan dosen dari kedua institusi direncanakan terlibat dalam aktivitas sosial, mulai dari pesantren hingga pembangunan desa, sebagai bagian dari implementasi kerja sama.
“Kami saling mengirim mahasiswa dan dosen. Mereka belajar langsung di masyarakat, begitu juga kami ke sana. Ini bukan hanya akademik, tapi menyatukan cara pandang,” ujar Mas’ud.
Mas’ud juga menyoroti peran kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara, dalam menjaga stabilitas global. Ia menilai solidaritas negara-negara di ASEAN relatif solid dibanding sejumlah kawasan lain yang dinilai terpecah karena aliansi.
“ASEAN sampai hari ini relatif solid. Ini berbeda dengan beberapa kawasan lain yang justru terpecah karena aliansi. Asia harus menjadi contoh bahwa negara bertetangga bisa kuat jika bersatu,” katanya.
Menurutnya, konflik antarnegara tidak bisa sepenuhnya dihindari, namun dapat dikelola melalui dialog dan kesepakatan bersama. Ia menilai kontribusi akademisi penting untuk menghadirkan gagasan damai melalui kajian ilmiah.
Di sisi lain, kerja sama dengan UiTM juga disebut sebagai bagian dari strategi Unisma untuk memperkuat posisi menuju perguruan tinggi berkelas dunia pada 2027. Mas’ud menyatakan jejaring internasional menjadi salah satu elemen penting dalam membangun reputasi global sekaligus memperluas kontribusi kampus.
“World Class University itu harus punya jaringan kuat. Kolaborasi seperti ini menjadi salah satu indikator penting, sekaligus jalan untuk berkontribusi lebih luas,” pungkasnya.

