Anggota DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) menilai dinamika geopolitik global yang kian memanas menjadi ujian bagi relevansi Pancasila, baik sebagai dasar ideologi maupun sebagai arah kebijakan luar negeri Indonesia.
Menurut Bamsoet, dunia saat ini bergerak menuju tatanan multipolar yang ditandai konflik terbuka, perang ekonomi, dan perebutan sumber daya. Dampaknya, kata dia, turut dirasakan di dalam negeri, mulai dari tekanan harga energi hingga meningkatnya ketidakpastian ekonomi nasional.
“Pancasila harus ditempatkan sebagai kompas strategis bangsa dalam menghadapi tekanan geopolitik global,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (1/4).
Pernyataan itu disampaikan Bamsoet saat memberikan kuliah pada Program Pascasarjana Studi Damai dan Resolusi Konflik, Fakultas Keamanan Nasional, Universitas Pertahanan (Unhan), yang digelar secara daring di Jakarta, Rabu (1/4).
Bamsoet, yang juga Ketua ke-15 MPR, menyoroti eskalasi konflik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia menyebut situasi tersebut berdampak langsung pada stabilitas energi dunia.
Ia menambahkan, Indonesia yang masih mengimpor sekitar 25 persen kebutuhan minyak dan 30 persen LPG dari kawasan Timur Tengah dinilai rentan terhadap gejolak harga energi global.
Bamsoet juga mengingatkan lonjakan harga minyak dunia berpotensi mendorong defisit anggaran Indonesia melampaui batas aman 3 persen jika tidak diantisipasi melalui kebijakan fiskal yang adaptif.
Dalam konteks itu, ia menilai prinsip politik luar negeri bebas aktif perlu ditafsirkan ulang. “Dalam situasi seperti ini, prinsip bebas aktif harus ditafsirkan ulang secara lebih berani. Indonesia tidak boleh terjebak dalam netralitas pasif, tetapi harus aktif membangun posisi strategis yang berpihak pada kepentingan nasional,” kata Bamsoet.

