Universitas Islam Majapahit (UNIM) menggelar pemutaran dan diskusi film sejarah Sang Kyai di Jabon, Mojoanyar, Mojokerto, Rabu, 25 Februari 2026. Kegiatan ini memadukan semangat kebangsaan dan keagamaan dalam format edukatif, dengan tujuan mengenalkan strategi perjuangan kemerdekaan Indonesia dari perspektif pesantren kepada generasi muda.
Acara tersebut diikuti sekitar 150 peserta yang terdiri dari civitas akademika UNIM serta tamu dari luar kampus, yakni siswa-siswi SMKN 2 Kota Mojokerto. Kehadiran para pelajar dimaksudkan agar nilai sejarah lokal dan nasional dapat disampaikan secara lebih interaktif melalui media film.
Diskusi menguat saat memasuki sesi analisis film yang dipandu Syaifudin dan Afkar sebagai fasilitator. Dalam pemaparannya, Syaifudin mengulas esensi Resolusi Jihad yang disebut menjadi semangat utama perlawanan rakyat Surabaya. Ia menjelaskan, menurut hukum fikih pada masa itu, jihad dinyatakan wajib bagi setiap Muslim yang berada dalam jarak dua marhalah atau sekitar 94 kilometer dari titik serangan musuh di Surabaya.
“Dalam situasi perjuangan itu, batas pemisahnya sangat jelas. Orang-orang yang pergi berjihad adalah contoh dari mereka yang beriman dan mencintai tanah airnya, sementara orang yang enggan atau takut untuk berkontribusi ketika bangsa sedang dalam ancaman bisa disebut sebagai orang yang pengecut,” ujar Syaifudin.
Selain membahas Resolusi Jihad, Syaifudin juga menyoroti kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari yang dinilai memiliki wawasan dan visi yang jelas. Menurutnya, tokoh tersebut tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga menempuh pendekatan persuasif melalui diskusi dan negosiasi dengan pemimpin militer serta politik. Ia menyebut strategi non-kekerasan dan diplomasi “meja makan” menunjukkan ketajaman kecerdasan, kekuatan mental, dan kesabaran yang dapat menjadi alat perjuangan.
Rangkaian acara ditutup dengan sesi tanya jawab. Para siswa SMKN 2 Kota Mojokerto tampak antusias mengajukan pertanyaan, termasuk mengenai relevansi nilai jihad di tengah perkembangan zaman modern.
Melalui kegiatan ini, UNIM berharap peserta tidak hanya menonton film, tetapi juga membawa pulang semangat moderasi beragama serta rasa cinta tanah air yang ditunjukkan para pendahulu bangsa.

