Uni Eropa (UE) dan India disebut semakin mendekati penyelesaian kesepakatan perdagangan besar yang telah dinegosiasikan selama hampir dua dekade. Harapan itu menguat menjelang pertemuan para pemimpin UE dengan Perdana Menteri India Narendra Modi di New Delhi pada pekan depan.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pekan lalu menyatakan kedua pihak berada di ambang tercapainya kesepakatan perdagangan yang ia sebut bersejarah. Dari pihak India, Menteri Perdagangan Piyush Goyal menggambarkannya sebagai “kesepakatan terpenting hingga saat ini.” Kesepakatan ini dipandang berpotensi menjadi kemenangan besar bagi kedua pihak, yang sama-sama mencari pasar baru di tengah tekanan tarif dari Amerika Serikat dan kontrol ekspor dari Tiongkok.
Perwakilan Luar Negeri dan Keamanan UE, Kaja Kallas, menilai kedekatan UE dan India terjadi pada saat tatanan internasional berbasis aturan menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dipicu konflik, paksaan antarnegara, serta fragmentasi ekonomi. Praveen Donthi dari International Crisis Group menambahkan bahwa perang Rusia-Ukraina dan kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump turut mendorong penguatan hubungan India dan UE. Menurutnya, UE membidik pasar India sebagai kekuatan yang sedang bangkit, sementara India berupaya mendiversifikasi kemitraan dan memperkuat strategi multi-aliansinya ketika hubungan dengan AS memburuk.
Data UE menunjukkan perdagangan barang bilateral diproyeksikan mencapai €120 miliar (US$139 miliar) pada 2024, naik hampir 90% dibandingkan satu dekade sebelumnya. Perdagangan jasa juga tercatat mencapai €60 miliar. Namun, seorang pejabat UE mencatat kontribusi India saat ini baru sekitar 2,5% dari total perdagangan barang UE, jauh di bawah Tiongkok yang mendekati 15%. Perbandingan ini menyoroti potensi yang dinilai masih besar untuk dikembangkan melalui sebuah kesepakatan.
Analis Ignacio Garcia Bercero dari Institut Bruegel di Brussels, yang pernah memimpin tim negosiasi perdagangan UE dengan India, menilai produsen mobil, mesin, dan bahan kimia di Eropa akan menjadi pihak yang sangat diuntungkan apabila India melonggarkan hambatan masuk pasar. India disebut termasuk negara dengan tarif tertinggi di dunia, termasuk untuk banyak produk yang menjadi keunggulan kompetitif UE.
Di sisi lain, di tengah stagnasi ekonomi, 27 negara anggota UE mendorong pelonggaran pembatasan ekspor minuman beralkohol dan anggur, sekaligus penguatan regulasi kekayaan intelektual. India, yang termasuk negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, menginginkan akses pasar yang lebih mudah untuk produk seperti tekstil dan farmasi.

