BERITA TERKINI
UNDIP Jadi Tuan Rumah International Fisheries Symposium 2025, Diikuti 350 Ahli dari 16 Negara

UNDIP Jadi Tuan Rumah International Fisheries Symposium 2025, Diikuti 350 Ahli dari 16 Negara

Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Fakultas Ilmu Perikanan dan Kelautan (FPIK) menjadi tuan rumah The 13th International Fisheries Symposium (IFS) 2025 bertema “ASEAN Fisheries and Marine Resources for Global Sustainability”. Kegiatan ini diselenggarakan FPIK UNDIP bersama ASEAN Fisheries Education Network (ASEAN FEN) dan Ikatan Sarjana Oseonologi Indonesia, serta berlangsung pada 6–9 Oktober 2025 di Muladi Dome Gedung Serba Guna UNDIP, Semarang.

Simposium tersebut diikuti sekitar 350 ahli bidang kelautan dan perikanan dari 16 negara. Pada pembukaan hari pertama, 6 Oktober 2025, turut hadir rektor dari Mindanao State University (Filipina), Laguna State Polytechnic University (Filipina), dan National Taiwan Ocean University (Taiwan).

Dalam pembukaan acara, Dekan FPIK UNDIP Prof. Agus Trianto, S.T., M.Sc., Ph.D. yang mewakili Wakil Rektor Riset, Inovasi, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik menyampaikan sambutan kepada peserta. Ia menekankan peran akademisi dalam menjaga sumber daya untuk masa depan melalui riset yang menghasilkan solusi pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan.

Ketua ASEAN-FEN, Prof. Ir. Mochammad Amin Alamsjah, M.Si., Ph.D., menyebut IFS 2025 sebagai katalis peningkatan industri kelautan dan perikanan di kawasan ASEAN. Ia menjelaskan sejumlah kategori riset yang dibahas, meliputi kesehatan laut dan konservasi biodiversitas, dinamika laut dan dampak perubahan iklim terhadap sumber daya, pengelolaan sumber daya perikanan, inovasi dan keberlanjutan perikanan tangkap, akuakultur dan teknologi perikanan, serta teknologi produk perikanan terkait nilai tambah, inovasi, dan keamanan produk.

Ketua Panitia IFS 2025, Wiwiet Teguh Taufani, S.Pi., M.Si., Ph.D., mengatakan simposium internasional tahunan ini menjadi bentuk komitmen bersama untuk generasi mendatang sekaligus ruang jejaring bagi para ahli untuk bertukar ide dan pengalaman.

Hari pertama IFS 2025 juga diisi pengumuman dua penerima ASEAN-FEN Outstanding Young Fisheries Scientist Award 2025. Ketua juri Prof. Dr. Emilia Encarnacion, S.Yap. dari University of the Philippines memberikan penghargaan kepada Asst. Prof. Dr. Abdul Aziz Jaziri (Universitas Brawijaya) dan Assoc. Prof. Dr. Iris Ann. G. Borlongan (University of the Philippines Visayas).

Rangkaian pembukaan dilanjutkan dengan sesi talk show yang menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Prof. Matsuishi Takashi Fritz, Ph.D. (Hokkaido University, Jepang), Dr. Pavarot Noranarttragoon (Department of Fisheries, Thailand), dan Assoc. Prof. Dr. Noor Faizul Hadry Bin Nordin (International Islamic University, Malaysia). Sesi ini dipandu moderator Dr. Tita Elfitasari, S.Pi., M.Sc. dari Universitas Diponegoro.

Dalam paparannya berjudul “From Growth to Sustainability: The Future of Capture Fisheries of Southeast Asia”, Prof. Matsuishi menyoroti peningkatan konsumsi sumber daya perikanan sejak 2018, namun masih diiringi persoalan overfished dan underfished. Ia menyebut sekitar 28% nelayan berasal dari Asia Tenggara karena faktor geografis yang dekat dengan garis pantai. Menurutnya, kawasan ini memiliki peluang besar bila pemanfaatan sumber daya dilakukan secara maksimal dengan monitoring, pengendalian ekspor, pengendalian tenaga kerja, peningkatan sumber daya manusia, serta memperhatikan biodiversitas laut.

Sementara itu, Dr. Pavarot Noranarttragoon membahas “New Approaches to Assessing and Managing the Multispecies Fishery in Thai Waters of the Gulf of Thailand”. Ia menjelaskan pemanfaatan laut di Thailand terdiri dari sekitar 40% perikanan budidaya (udang, kerang, ikan bersirip) dan 60% perikanan tangkap. Untuk menghindari ancaman over-eksploitasi, kerusakan habitat, sampah, dan dampak perubahan iklim, ia menekankan perlunya mengikuti aturan Maximum Sustainable Yield (MSY) sebagai pembatasan maksimal jumlah sumber daya yang dapat dipanen agar populasi tetap tumbuh dan berkembang.

Adapun Assoc. Prof. Dr. Noor Faizul Hadry Bin Nordin mengangkat topik “The Empowerment of Community-Driven Stewardship for Sustainable ASEAN Marine Resources”. Ia menjelaskan pengelolaan berbasis komunitas mencakup partisipasi masyarakat lokal, integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi, pemberdayaan, rasa kepemilikan, serta keberlanjutan. Ia menekankan kekuatan pengelolaan sumber daya laut berada pada masyarakat pesisir yang hidup dari laut dan tumbuh bersama laut.

IFS 2025 dijadwalkan berlanjut pada hari kedua, 8 Oktober 2025, dengan agenda pembicara kunci lainnya dan awarding ceremony. Penyelenggaraan simposium ini juga disebut mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan, khususnya SDGs #14 Life Below Water, #13 Climate Action, dan #3 Good Health and Well-being.