Ibadah umroh kerap dimaknai sebagai perjalanan spiritual yang personal. Namun ketika pengalaman itu disandingkan dengan penelusuran jejak sejarah Islam di Habasyah—wilayah yang kini dikaitkan dengan Addis Ababa—perjalanan berubah menjadi ziarah makna yang lebih luas. Bukan semata rangkaian thawaf dan sa’i, melainkan juga napak tilas episode awal perlindungan terhadap umat Islam di Afrika.
Dalam tahun-tahun awal kenabian, tekanan terhadap kaum Muslim di Makkah semakin berat. Pada masa inilah sebagian sahabat diperintahkan untuk hijrah ke Habasyah (Abyssinia), negeri yang saat itu dipimpin Raja Najashi (An-Najasyi). Habasyah dikenal memiliki penguasa yang adil dan tidak menzalimi pendatang.
Peristiwa tersebut dikenal sebagai Hijrah ke Habasyah, yang disebut sebagai gelombang migrasi pertama dalam sejarah Islam—bahkan sebelum hijrah ke Madinah. Dalam literatur sirah, delegasi Quraisy sempat datang untuk meminta agar para sahabat dipulangkan. Namun Ja’far bin Abi Thalib membacakan ayat-ayat dari Surah Maryam di hadapan Raja Najashi. Sang raja dikisahkan tersentuh, menolak menyerahkan para Muslim, serta memberikan suaka politik dan kebebasan beragama.
Secara historis, kisah ini kerap dipahami sebagai penanda bahwa sejak awal Islam telah berdialog dengan peradaban lain, bukan melalui relasi dominasi, melainkan dengan menekankan prinsip keadilan dan kemanusiaan.
Ikatan tersebut juga tercermin dalam riwayat sahih tentang wafatnya Raja Najashi. Ketika kabar kematian sang raja sampai kepada Nabi Muhammad SAW di Madinah, Rasulullah disebut menshalatkan jenazahnya secara ghaib bersama para sahabat. Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu dalil praktik shalat ghaib dalam fikih Islam.
Tindakan itu dipandang bukan sekadar penghormatan personal, melainkan simbol hubungan spiritual lintas benua: seorang raja Afrika yang melindungi kaum Muslim mendapat penghormatan langsung dari Nabi di Jazirah Arab. Narasi ini menegaskan solidaritas iman dan nilai keadilan yang melampaui batas geografis.
Bagi jamaah umroh yang melanjutkan perjalanan ke Ethiopia, rangkaian kisah tersebut dapat memberi perspektif berbeda: sejarah Islam tidak hanya bertumpu pada Timur Tengah, tetapi juga memiliki jejak penting di Afrika. Dalam konteks hari ini, Addis Ababa hadir sebagai simbol Afrika modern, sekaligus pengingat bahwa jejak sejarah keimanan pernah terhubung dengan wilayah itu sejak fase paling awal perkembangan Islam.

