WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (10/10/2025) mengumumkan tambahan tarif sebesar 100 persen terhadap produk asal China. Pengumuman mendadak itu memicu kekhawatiran kembalinya perang dagang antara Washington dan Beijing, yang kali ini dipicu kebijakan ekspor China terkait mineral tanah jarang.
Selain tarif, Trump juga menyampaikan larangan ekspor Amerika Serikat atas seluruh perangkat lunak penting, yang akan mulai berlaku pada 1 November. Ia menyebut langkah tersebut sebagai balasan atas tindakan Beijing yang dinilainya “sangat agresif”, sebagaimana dilansir AFP.
“Sulit dipercaya China akan mengambil langkah seperti itu, tetapi mereka melakukannya, dan sisanya adalah sejarah,” tulis Trump di platform Truth Social.
Pasar saham AS langsung bereaksi negatif. Indeks Nasdaq turun 3,6 persen, sementara S&P 500 melemah 2,7 persen seiring meningkatnya ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia.
Saat ini, barang-barang asal China dikenai tarif AS sebesar 30 persen. Tarif itu diterapkan setelah Trump menuding Beijing terlibat dalam perdagangan fentanyl dan praktik dagang tidak adil. Sebagai balasan, China memberlakukan tarif 10 persen terhadap produk AS.
Dalam unggahan panjang di Truth Social, Trump juga menuduh Beijing mengirim surat ke berbagai negara untuk mendorong pembatasan ekspor mineral tanah jarang. Ia mengaku tidak memahami alasan China mengambil langkah tersebut.
“Beberapa hal aneh sedang terjadi di China. Mereka menjadi sangat bermusuhan,” ujar Trump. Ia menambahkan, sejumlah negara telah menghubungi AS untuk menyampaikan kemarahannya terhadap China.
Mineral tanah jarang merupakan komponen penting dalam pembuatan ponsel pintar, kendaraan listrik, peralatan militer, hingga teknologi energi terbarukan. “Tidak boleh ada alasan bagi China untuk menyandera dunia,” tulis Trump.
Trump juga menyatakan keraguan terhadap rencana pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping dalam KTT Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung akhir bulan ini di Korea Selatan.
“Saya seharusnya bertemu Presiden Xi dalam dua minggu di APEC, tetapi sekarang sepertinya tidak ada alasan untuk melakukannya,” ujar Trump.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah China terkait pengumuman tersebut.
Sebelumnya, Washington dan Beijing sempat terlibat perang tarif yang hampir menghentikan arus perdagangan pada awal tahun ini. Kedua pihak kemudian menyepakati penurunan tarif dan meredakan ketegangan, meski gencatan itu disebut berjalan rapuh.
Trump juga menyatakan akan menekan Xi terkait pembelian kedelai AS, setelah para petani AS—yang menjadi basis utama pendukungnya dalam kemenangan pemilu 2024—mengeluhkan dampak perang dagang terhadap sektor pertanian.
Sementara itu, China pada Jumat mengumumkan rencana menerapkan biaya pelabuhan khusus terhadap kapal yang dioperasikan atau dibuat di AS. Kebijakan itu diumumkan setelah Washington sejak April mengenakan biaya tambahan pada kapal yang terkait China.
Dalam perkembangan terpisah, Komisi Komunikasi Federal (FCC) AS menyatakan telah berhasil menghapus jutaan daftar produk asal China yang dilarang dari berbagai platform niaga daring. “Partai Komunis China tengah berupaya menyebarkan perangkat tidak aman ke rumah dan bisnis warga Amerika,” kata Ketua FCC Brendan Carr di platform X.

