Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan rencana kunjungannya ke China ditunda dan tidak lagi dijadwalkan pada akhir bulan ini. Ia menyebut kunjungan tersebut kemungkinan berlangsung dalam lima atau enam minggu ke depan, sekaligus menegaskan akan “menjadwalkan ulang” pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping.
Pernyataan itu disampaikan Trump pada 17 Maret saat bertemu dengan Perdana Menteri Irlandia Micheál Martin di Ruang Oval Gedung Putih. Dalam kesempatan itu, Trump mengatakan kedua negara sedang bekerja sama dan menyebut Beijing sepenuhnya setuju dengan rencana pertemuan tersebut. Ia juga menyatakan harapannya untuk bertemu Xi, seraya menambahkan bahwa menurutnya pemimpin China itu juga ingin bertemu dengannya.
Rencana kunjungan Trump ke China dipandang sebagai peluang untuk memperkuat gencatan senjata perdagangan yang dinilai masih rapuh antara dua negara adidaya tersebut.
Namun, penundaan terjadi di tengah keterlibatan AS dalam konflik di Timur Tengah. Setelah sebelumnya menyerukan agar China dan negara-negara lain mengirim kapal perang untuk melindungi Selat Hormuz, Trump mengatakan rencana kunjungannya ke China bergantung pada respons Beijing. Meski demikian, ia menambahkan bahwa AS tidak membutuhkan dukungan dari sekutu yang telah menolak tawarannya.
Dalam wawancara pada 15 Maret, Trump menyatakan ingin mengetahui apakah Beijing akan membantu memastikan keamanan Selat Hormuz sebelum ia berangkat ke China pada akhir Maret. Sehari kemudian, pada 16 Maret, ia mengatakan telah meminta penundaan kunjungan sekitar satu bulan.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, yang bertemu Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di Paris dalam putaran pembicaraan baru yang disebut membuka jalan bagi kunjungan Trump, menyatakan perubahan jadwal terjadi karena persoalan logistik. Bessent menegaskan penundaan itu bukan upaya Trump untuk menekan Beijing.

