Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth disebut merasa kecewa dengan menguatnya upaya diplomasi untuk menghentikan konflik AS dengan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan salah satu menterinya menginginkan konflik berlangsung lebih lama, tanpa merinci alasan maupun konteks lebih lanjut.
“Pete Hegseth tak ingin perang ini berakhir dengan begitu cepat,” kata Trump, seperti dikutip Reuters. Pernyataan tersebut mengisyaratkan adanya dinamika internal di pemerintahan AS terkait arah kebijakan terhadap Iran.
Trump juga menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan negosiasi dengan Iran. Meski tidak memaparkan detail, ia menyebut sejumlah pejabat tinggi terlibat, antara lain Steve Witkoff, Jared Kushner, Vance, dan Marco Rubio.
Di sisi lain, Pakistan baru-baru ini menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah pembicaraan antara Iran dan AS. Pernyataan itu dinilai membuka peluang jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.
Namun, Iran sebelumnya membantah keras adanya negosiasi yang sedang berlangsung dengan AS. Teheran menegaskan tidak akan ada perundingan tanpa persetujuan Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Jika negosiasi benar-benar terjadi, dampaknya disebut dapat meluas hingga ke pasar global, terutama sektor energi yang terdampak disrupsi di Selat Hormuz. Selat tersebut menjadi sorotan karena merupakan jalur sekitar 20% pasokan energi dunia dan kerap dipandang sebagai salah satu instrumen tekanan geopolitik Iran.
Dalam skenario diplomasi menghasilkan kesepakatan, situasi itu berpotensi menurunkan harga minyak dan meredakan tekanan inflasi global.

