WASHINGTON, 3 Mei 2026 — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah mempertimbangkan proposal damai terbaru dari Iran di tengah ketegangan hubungan kedua negara. Sikap itu membuka peluang bagi jalur diplomasi, meski opsi konfrontasi tetap disebut sebagai kemungkinan.
“Apakah kita ingin langsung menghabisi dan memusnahkan mereka selamanya atau kita ingin coba membuat kesepakatan?” kata Trump, dikutip dari laporan The New York Times pada Minggu (3/5/2026).
Proposal tersebut merupakan tawaran kedua dari Iran setelah usulan sebelumnya ditolak oleh pihak Amerika Serikat. Pemerintah Iran menyampaikan dokumen itu melalui Pakistan yang berperan sebagai mediator komunikasi antara kedua negara.
Media resmi Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), melaporkan bahwa proposal berisi 14 poin telah diserahkan untuk diteruskan kepada pemerintah AS. Namun, rincian isi dokumen itu belum dipublikasikan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan bahwa prioritas negaranya dalam negosiasi adalah menghentikan konflik dan membangun perdamaian jangka panjang. Pernyataan itu menegaskan posisi Iran yang mendorong penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan keputusan kini berada di tangan Amerika Serikat. “Sekarang bola berada di tangan Amerika Serikat untuk memilih antara diplomasi atau melanjutkan konfrontasi,” ujarnya, sebagaimana dikutip The New York Times.
Di sisi lain, Trump juga menyampaikan keraguannya terhadap proposal tersebut. Ia mengaku belum menerima detail lengkap dan baru memperoleh gambaran awal. Dalam beberapa kesempatan, Trump kembali menegaskan sikap tegas AS terkait program nuklir Iran yang dinilai tidak dapat diterima.
Isu pengembangan senjata nuklir menjadi salah satu titik krusial yang sebelumnya membuat negosiasi menemui kebuntuan. Iran tetap mempertahankan haknya dalam pengembangan nuklir, sementara AS menolak keras kemungkinan tersebut.
Meski pembicaraan sempat buntu, Trump diketahui telah memperpanjang gencatan senjata dengan Iran sejak 21 April 2026. Langkah itu diambil setelah adanya sinyal dari Iran mengenai penawaran baru yang dinilai lebih terbuka untuk negosiasi.
Perkembangan terbaru ini menempatkan Amerika Serikat pada persimpangan strategis: melanjutkan tekanan atau membuka jalan menuju kesepakatan damai melalui diplomasi.