Sehari setelah serangan militer Amerika Serikat ke Iran yang dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Donald Trump menyatakan kepemimpinan baru Iran telah menghubungi Washington untuk membuka jalur pembicaraan. Pernyataan tersebut muncul di tengah eskalasi konflik yang menambah ketidakpastian di kawasan Timur Tengah.
Dalam wawancara telepon dari Mar-a-Lago yang dilaporkan The Atlantic pada Sabtu (01/03), Trump mengatakan pihak Iran ingin berbicara dan ia menyetujui hal itu. Namun, ia tidak memberikan kepastian mengenai jadwal maupun format pertemuan yang akan dilakukan.
Situasi dinilai semakin kompleks karena sejumlah pejabat Iran yang sebelumnya terlibat dalam negosiasi dilaporkan turut tewas dalam serangan. Trump juga mengakui bahwa banyak pihak yang sebelumnya menjadi mitra pembicaraan kini sudah tidak ada, menurut laporan The Atlantic.
Di luar pernyataan soal diplomasi, Trump juga menyerukan warga Iran untuk bangkit melawan rezim yang berkuasa. Dalam pesan video yang diunggah sehari sebelum wawancara, ia mendorong rakyat Iran memanfaatkan momentum untuk mengambil alih kendali atas masa depan negara mereka, sebagaimana dilaporkan Seeking Alpha.
Ketika ditanya apakah AS bersedia memperpanjang kampanye militer untuk mendukung kemungkinan pemberontakan rakyat, Trump tidak menyatakan komitmen. Ia mengatakan keputusan akan bergantung pada situasi di lapangan, menurut The Atlantic.
Trump menyampaikan optimisme bahwa gelombang protes akan membesar. Ia mengutip laporan adanya perayaan di jalanan Iran serta aksi solidaritas diaspora Iran di New York dan Los Angeles. Namun, The Atlantic juga mencatat adanya protes anti-perang di sejumlah kota besar di AS, yang menunjukkan respons publik terhadap kebijakan pemerintah tidak sepenuhnya searah.
Tak lama setelah wawancara tersebut, pejabat militer AS mengonfirmasi tiga tentara AS tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam operasi itu. Laporan Seeking Alpha menyebutkan ini merupakan korban Amerika pertama sejak kampanye militer terhadap Iran dimulai.
Trump menyatakan serangan itu tidak akan mengganggu agenda ekonomi Partai Republik menjelang pemilu sela. Ia juga memperkirakan lonjakan harga minyak tidak akan separah yang dikhawatirkan sebagian analis, dengan alasan keberhasilan awal operasi militer dapat meredam gejolak ketika perdagangan minyak kembali dibuka, menurut The Atlantic.
Perkembangan konflik dan sinyal diplomasi ini turut menjadi perhatian pasar. Saham sektor energi seperti Exxon Mobil dan Chevron dipandang sebagai salah satu barometer sentimen ketika perdagangan dimulai, sementara saham pertahanan seperti Lockheed Martin dan Raytheon juga menjadi sorotan di tengah eskalasi yang masih berlangsung.
Arah konflik disebut masih terbuka. Keberhasilan jalur diplomasi akan dipengaruhi oleh siapa yang kini memegang kendali di Teheran dan seberapa serius kedua pihak mengejar kesepakatan.

