Tradisi Buka Luwur di Jepara berlangsung meriah dan khidmat pada Kamis sore, 9 April 2026. Prosesi kirab yang mengambil rute dari Pendopo Kartini dan berakhir di Masjid Astana Sultan Hadlirin menghadirkan nuansa perayaan sekaligus mengangkat nilai sejarah yang kuat, tidak hanya bagi warga setempat tetapi juga bagi wisatawan mancanegara yang hadir.
Sepanjang rute kirab, jajaran Pemerintah Kabupaten Jepara dan para pejabat setempat tampak mengenakan pakaian adat tradisional. Iring-iringan turut dimeriahkan pertunjukan tari-tarian daerah yang menarik perhatian, sementara wisatawan asing terlihat membaur bersama masyarakat menyaksikan jalannya prosesi.
Salah seorang pengunjung asal Tanzania, Sarah, mengaku terkesan dengan upaya pelestarian budaya yang ditampilkan dalam acara tersebut. Ia menyebut pengalaman mengikuti kirab sebagai momen yang jarang ditemui dan berharga.
“Menurut pengalaman saya, dalam waktu singkat saya mengikuti acara ini, saya merasa ini sangat keren dan menyenangkan. Saya melihat orang-orang di sini menampilkan budaya mereka. Cara mereka menari sangat berbeda dari negara saya,” kata Sarah.
Selain suguhan visual, Sarah juga menyoroti aspek historis yang melekat dalam rangkaian kegiatan. Menurutnya, rute kirab memberikan gambaran tentang latar sejarah kepemimpinan di Jepara, termasuk kisah perjuangan emansipasi yang disampaikan melalui narasi acara.
“Kami juga melihat latar belakang sejarah tentang raja dan ratu, khususnya seorang pahlawan wanita yang mekawan kolonialisme. Mereka menyampaikan pesan bahwa baik pria maupun wanita memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang sama,” ujarnya.
Di penghujung acara, sajian tumpeng yang dihidangkan juga menjadi perhatian. Sarah menilai penyajian nasi tumpeng dalam jumlah banyak sebagai hal yang unik dan berbeda dari pengalaman kuliner di negara asalnya.
Ia juga mengapresiasi pertunjukan tari yang menggambarkan sistem pemerintahan masa lampau. Menurut pengamatannya, detail properti yang digunakan dalam tarian tampak menyerupai alat ekonomi atau perkakas tradisional, dan dibawakan dengan ekspresi yang serius.
“Ada tarian yang mencontohkan kehidupan dan perjuangan ratu zaman dahulu. Mereka memegang alat-alat, gaya berpakaiannya sangat berbeda dan unik, serta mereka menari dengan sangat serius,” tuturnya.
Bagi Sarah, tradisi ini mencerminkan cara masyarakat Jepara merawat ingatan kolektif dan mewariskannya kepada generasi berikutnya, sekaligus memperkenalkannya kepada tamu dari luar negeri.
“Masyarakat di sini suka terus mengekspresikan momen-momen sejarah itu kepada orang asing dan anak-anak yang sedang belajar. Ini adalah bentuk cinta tanah air dan cinta budaya di antara penduduk asli. Mereka ingin melestarikan apa yang telah dilakukan nenek moyang agar generasi mendatang dapat memperoleh manfaat dan melanjutkan hidup mereka,” katanya.
Pelaksanaan kirab Buka Luwur kali ini kembali menunjukkan bahwa tradisi lokal yang terawat dapat menjadi ruang perjumpaan lintas budaya, sekaligus memperkuat peran kebudayaan sebagai jembatan diplomasi di mata pengunjung internasional.