BERITA TERKINI
Top Aces Perluas Layanan Pelatihan Tempur Udara ke Asia-Pasifik, Bawa Armada 100 Jet Tempur

Top Aces Perluas Layanan Pelatihan Tempur Udara ke Asia-Pasifik, Bawa Armada 100 Jet Tempur

Perusahaan pelatihan tempur angkatan udara asal Kanada, Top Aces, mulai memperluas penawaran layanannya ke kawasan Asia-Pasifik setelah 26 tahun beroperasi dengan kehadiran kuat di Amerika Utara dan Eropa. Ekspansi ini ditandai dengan promosi perdana Top Aces ke negara-negara Asia-Pasifik, termasuk partisipasi pertamanya di Singapore Airshow 2026 yang baru berakhir.

Top Aces merupakan perusahaan swasta yang tercatat memiliki total 150 pesawat, dengan sekitar 100 di antaranya berupa jet tempur berbagai jenis yang telah dimodernisasi. Beberapa platform yang dioperasikan antara lain Lockheed Martin F-16A (termasuk eks Israel), Douglas A-4N Skyhawk, dan Dornier Alpha Jet. Selain itu, perusahaan juga menerbangkan Bombardier Learjet 35A serta pesawat turboprop seperti Pilatus PC-7.

David Bradshaw, Direktur Pengembangan Bisnis Top Aces, menyatakan perusahaan memiliki rekam jejak keselamatan yang telah melampaui 150.000 jam terbang tanpa kecelakaan hingga saat ini. Ia juga menekankan kemampuan teknis pesawat yang digunakan untuk mendukung pelatihan, termasuk pada armada F-16 yang dilengkapi Sistem Misi Agresor Tingkat Lanjut milik perusahaan, radar active electronically scanned array (AESA), sistem pencarian dan pelacakan inframerah, serta tautan data Link 16.

Menurut Bradshaw, paket tersebut dirancang untuk memberikan simulasi pertempuran yang kompleks bagi pilot angkatan udara. Salah satu keuntungan yang ditawarkan adalah pengurangan keausan dan akumulasi jam terbang pada jet milik angkatan udara pelanggan, karena sebagian skenario latihan dapat dialihkan menggunakan pesawat Top Aces.

Bradshaw juga menyebut aspek biaya sebagai pertimbangan. Ia mengatakan biaya menerbangkan pesawat agresor milik Top Aces dapat berada di kisaran 25–30% dibandingkan biaya mengoperasikan jet pelanggan yang lebih baru dan lebih canggih. Di sisi lain, penggunaan layanan agresor eksternal dinilai dapat membuat pilot militer lebih fokus pada peran inti sebagai “pesawat biru” (penyerang), alih-alih harus bergantian memainkan peran “pesawat merah” (musuh) dalam latihan.

Dalam latihan berskala besar, Bradshaw menggambarkan sekitar 30% pesawat dan pilot biasanya dialokasikan untuk berperan sebagai pihak musuh. Dengan dukungan Top Aces, seluruh pilot dapat berlatih dalam peran utama mereka. Top Aces juga menyatakan mempekerjakan pilot dan teknisi yang telah pensiun, serta mengklaim mampu mereplikasi platform atau kekuatan yang ingin disimulasikan oleh pelanggan.

Dari sisi bisnis, Top Aces baru-baru ini mengumumkan kemenangan kontrak lanjutan selama 10 tahun senilai 490 juta dolar AS untuk mendukung Bundeswehr Jerman. Perusahaan juga memiliki kontrak besar dengan Angkatan Udara Kerajaan Kanada dan Angkatan Udara Amerika Serikat untuk menyediakan kemampuan anti-udara.

Di kawasan Asia-Pasifik, Top Aces sebelumnya pernah menyediakan layanan udara musuh kepada Angkatan Udara Australia pada 2017–2019 dengan mengoperasikan beberapa Alpha Jet, namun upaya tersebut disebut tidak berlanjut karena kendala anggaran. Untuk peluang lanjutan di Australia, Top Aces menandatangani perjanjian kerja sama eksklusif dengan Milskil pada Maret 2025 guna mempromosikan solusi pelatihan generasi kelima bagi militer Australia.

Bradshaw mengatakan partisipasi Top Aces di Singapore Airshow 2026 memunculkan minat yang sangat besar. Sementara itu, literatur perusahaan yang berkantor pusat di Montreal menekankan profil para penerbangnya sebagai kelompok elite yang kerap dijuluki “The 1% of the 1%”. Hampir seluruh pilot direkrut dari mantan penerbang militer dengan kualifikasi tinggi, termasuk para instruktur lulusan sekolah penempur terkemuka seperti United States Navy Fighter Weapons School (Top Gun), USAF Weapons School, MAWTS-1, serta Fighter Weapons Instructor Course (FWIC) di Kanada dan NATO.

Selain kemampuan manuver, sejumlah pilot disebut merupakan veteran perang dengan pengalaman tempur di berbagai konflik, seperti di Timur Tengah atau Balkan. Mereka rata-rata memiliki sedikitnya 2.000–3.000 jam terbang pada jet tempur garis depan dan pengalaman sebagai Flight Lead dalam operasi skala besar.