JAKARTA — Sejumlah tokoh global menilai dunia sedang berada pada titik kritis transisi geopolitik. Mereka menyoroti kegagalan negara-negara adidaya dalam menjaga tatanan internasional, yang dinilai mendorong negara-negara kekuatan menengah (middle power) untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga stabilitas global.
Pandangan itu mengemuka dalam Middle Powers Conference 2026 yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa, 14 April 2026. Dalam forum tersebut, mantan Menteri Luar Negeri Australia Gareth Evans dan penasihat senior Kementerian Luar Negeri Mesir Ramzy Ezzeldin Ramzy menyampaikan penilaian mereka terkait kondisi sistem multilateral saat ini.
Evans melontarkan kritik terhadap perilaku negara-negara adidaya yang dinilai justru merusak sistem multilateral global. Ia menyebut sistem internasional kini berada dalam kondisi berisiko akibat tindakan negara-negara yang seharusnya menjadi penjaga tatanan tersebut.
Secara spesifik, Evans menyoroti Amerika Serikat yang dinilai mulai meninggalkan berbagai komitmen internasional, Rusia yang disebut bertindak destruktif di Ukraina, serta Tiongkok yang dinilai mengabaikan hukum internasional di Laut China Selatan. Menurut Evans, multilateralisme bukan sekadar konsep abstrak, melainkan instrumen penting untuk menjaga stabilitas ekonomi, keamanan, dan nilai-nilai kemanusiaan global.
Ia juga menyinggung mundurnya Amerika Serikat dari mekanisme penyelesaian sengketa Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) serta ancaman terhadap eksistensi NATO sebagai pukulan serius bagi sistem internasional. “Sistem multilateral saat ini telah hancur, bukan oleh musuh-musuh multilateralisme, tetapi justru oleh salah satu pencetus dan pendukung terpenting tatanan internasional liberal, yaitu Amerika Serikat sendiri,” kata Evans.
Sementara itu, Ramzy memperingatkan bahwa dunia sedang bergerak dari sistem pasca-Perang Dunia II menuju tatanan baru yang belum memiliki arah jelas. Ia mengingatkan risiko kembalinya pola “lingkaran pengaruh” ala abad ke-19, yang menurutnya dapat memicu ketidakstabilan global jika tidak diantisipasi.
Ramzy menilai lembaga internasional seperti Dewan Keamanan PBB saat ini mengalami kegagalan fungsi dalam merespons konflik global, sehingga membuka ruang ketidakpastian yang lebih luas. Ia mendorong negara-negara kekuatan menengah dari Utara dan Selatan untuk bekerja sama dalam reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui koalisi-koalisi kecil. “Kekuatan menengah dari Utara dan Selatan harus bekerja sama dalam konteks mereformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui koalisi-koalisi kecil,” ujarnya.
Ramzy mengidentifikasi enam bidang yang dapat menjadi fokus kontribusi negara kekuatan menengah, yakni transisi energi, mediasi krisis, keadilan ekonomi, pengendalian senjata, penegakan hukum kemanusiaan internasional, serta tata kelola digital. Ia juga menyoroti meningkatnya pelanggaran hukum kemanusiaan internasional dan diabaikannya putusan lembaga seperti Mahkamah Internasional (ICJ) dan ICC.
Selain itu, Ramzy mengingatkan bahwa perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan, membuat konflik modern semakin mematikan. Dalam konteks tersebut, ia menilai kerja sama lintas kawasan menjadi semakin penting untuk mendorong kepatuhan terhadap norma internasional dan memperkuat tata kelola global.
Evans turut menekankan perlunya negara-negara kekuatan menengah mengisi kekosongan kepemimpinan global melalui pendekatan niche diplomacy atau diplomasi ceruk. Ia mencontohkan kerja sama Indonesia dan Australia dalam mendukung proses perdamaian Kamboja sebagai bukti bahwa kekuatan menengah dapat memberi dampak signifikan tanpa bergantung pada kekuatan besar.
Evans juga memperkenalkan konsep “Dunia Multipleks”, yakni gambaran tatanan global yang semakin kompleks dan tidak lagi terpusat, di mana berbagai aktor beroperasi dalam dinamika yang berjalan bersamaan. Dalam situasi itu, Evans dan Ramzy sama-sama menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara kekuatan menengah lintas kawasan untuk menjaga stabilitas global dan mencegah keruntuhan sistem internasional yang ada.