Kunjungan CEO Apple Tim Cook ke Tiongkok kembali menyoroti ketergantungan perusahaan pada ekosistem manufaktur negara tersebut, di tengah ketegangan dagang dan persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Langkah Apple kali ini dipandang lebih menunjukkan kesinambungan strategi ketimbang pergeseran arah, meski wacana diversifikasi rantai pasok terus menguat.
Cook terlihat hadir di Apple Store Chengdu, Provinsi Sichuan, dalam rangka perayaan 50 tahun Apple. Dalam kunjungan itu, ia berinteraksi dengan pelanggan dan figur publik, yang sekaligus menegaskan upaya perusahaan menjaga relevansi di pasar Tiongkok—salah satu penopang penting pertumbuhan Apple.
Di saat yang sama, aktivitas operasional Apple di Tiongkok juga dilaporkan berlangsung intensif. Chief operating officer Apple, Sabih Khan, disebut mengunjungi pemasok utama seperti Foxconn dan Sunwoda, memperlihatkan fokus berkelanjutan perusahaan pada jaringan produksi di Tiongkok.
Konsistensi tersebut memiliki konteks yang lebih luas. Pada Oktober lalu, Cook bertemu dengan pejabat pemerintah di Beijing dan menyampaikan komitmen untuk meningkatkan investasi Apple di Tiongkok, meskipun tekanan geopolitik meningkat. Sikap ini mencerminkan perhitungan bisnis yang menempatkan stabilitas rantai pasok sebagai prioritas di tengah dinamika politik jangka pendek.
Dari sisi kinerja, kontribusi kawasan Greater China—yang mencakup Tiongkok daratan, Hong Kong, dan Taiwan—terlihat signifikan. Apple mencatat pendapatan rekor sebesar USD 25,5 miliar pada kuartal yang berakhir Desember. Sepanjang 2025, kawasan tersebut menyumbang USD 71,4 miliar, setara 16 persen dari total penjualan global perusahaan.
Namun, Apple juga menghadapi tekanan regulasi yang mendorong penyesuaian model bisnis. Perusahaan menurunkan komisi App Store di Tiongkok dari 30 persen menjadi 25 persen, serta menurunkan tarif bagi pengembang kecil menjadi 12 persen. Kebijakan ini muncul setelah keluhan berkepanjangan dari pengembang dan dorongan otoritas setempat untuk menciptakan ekosistem digital yang dinilai lebih kompetitif.
Di tingkat operasional, integrasi Apple dengan rantai pasok Tiongkok dilaporkan semakin dalam. Laboratorium riset terapan Apple di Shenzhen bekerja sama dengan hampir 200 pemasok di sekitarnya. Wakil Presiden Apple untuk Greater China, Ge Yue, menyebut kedekatan tersebut memungkinkan penyesuaian proses produksi secara langsung untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.
Meski tekanan diversifikasi terus menguat, hambatan struktural dinilai masih besar. Seorang analis industri yang dikutip Reuters menyatakan ketergantungan Apple pada Tiongkok bukan semata soal biaya, melainkan juga terkait kecepatan, skala, dan presisi manufaktur yang sulit ditandingi negara lain.
Situasi serupa disebut tidak hanya dialami Apple. Perusahaan teknologi besar lain seperti Alphabet Inc., serta bisnis milik Elon Musk—Tesla dan SpaceX—juga dilaporkan mengunjungi pemasok di Tiongkok tahun ini, terutama untuk komponen energi dan teknologi pendingin.
Pada akhirnya, kunjungan Cook dipandang bukan sekadar agenda korporasi rutin. Di tengah rivalitas global yang kian tajam, langkah tersebut menegaskan bahwa penguasaan rantai pasok tetap menjadi fondasi utama kekuatan industri teknologi, dan hingga kini Tiongkok masih menempati posisi yang sulit tergantikan.

