Tim Antasena dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menorehkan prestasi dalam ajang Shell Eco-marathon (SEM) Asia Pacific and Middle East 2026 yang digelar di Qatar pada 21–25 Januari 2026. Antasena meraih dua penghargaan pada kategori inovasi mobil hemat energi berbasis hydrogen fuel cell, sekaligus mengamankan tiket untuk mengikuti SEM Global Championship 2027.
General manager sekaligus pengemudi tim, Fauzil Adhim, mengaku tidak menyangka Antasena meraih juara pertama pada kategori Technical Innovation Award. “Waktu di pengumuman off-track, yang bikin kami tidak menyangka ya itu. Dapat juara satu di Technical Innovation Award,” ujar Fauzil yang akrab disapa Azil.
Pada sesi awarding, Antasena meraih juara 1 Technical Innovation Award serta juara 2 kategori Prototype Hydrogen Fuel Cell. Hasil tersebut menempatkan Antasena sebagai satu dari empat delegasi terbaik dari wilayah Asia Pasifik dan Timur Tengah yang berhak melaju ke SEM Global Championship 2027.
Penentuan tiket ke kejuaraan dunia didasarkan pada akumulasi poin sesuai regulasi kompetisi. Nilai efisiensi di lintasan (on-track) memiliki bobot 70 persen, sedangkan penilaian teknis (off-track) menyumbang 30 persen.
Azil menyebut pencapaian itu merupakan hasil riset ilmiah dan kerja keras tim selama hampir satu tahun. Antasena mengandalkan Falcon 3.0, mobil hemat energi berbasis hidrogen versi terbaru yang dibangun dari nol, bukan sekadar modifikasi dari bodi lama.
Falcon 3.0 bernomor lambung 203 dirancang dengan bentuk pipih, bagian depan runcing dan ramping. Secara keseluruhan, desainnya disebut menyerupai “mata ombak” untuk membelah hambatan udara secara ekstrem. Ground clearance yang sangat rendah juga ditujukan untuk meminimalkan hambatan udara di bawah kolong kendaraan.
Dari sisi tampilan, bodi mobil didominasi warna putih dengan motif batik Parang berwarna ungu-putih pada bagian samping. Tim menyertakan identitas budaya Indonesia sebagai bagian dari presentasi di panggung internasional.
Sejumlah pembaruan dilakukan pada aspek mekanis, antara lain sistem transmisi belakang dan geometri kaki-kaki depan (vehicle dynamics). Tim juga memperkuat sistem elektrikal dengan menambahkan sensor suhu, kecepatan, dan kelembapan.
Inovasi yang paling menonjol adalah penerapan internal humidifier untuk menjaga kelembapan membran pada fuel cell, sehingga reaksi kimia hidrogen menjadi listrik dapat lebih stabil. Dengan pengembangan tersebut, efisiensi mobil disebut meningkat dari angka 300-an pada kompetisi sebelumnya menjadi 498 kilometer per liter.
“Di bengkel, kami fokus mengerjakan proyek mobil, mengolah data, dan persiapan test drive sebelum hari-H,” kenang Azil. Ia mengatakan tim tetap melanjutkan pengembangan riset bahkan saat masa libur semester dan hari libur.
Richard Wijaya Santoso yang menjabat technical manager menekankan pentingnya saling mendukung di dalam tim. “Kami saling menyemangati satu sama lain kalau kami bisa,” ujarnya.
Setelah perakitan dan uji coba selesai, tim sempat menghadapi kendala keberangkatan karena perubahan jadwal penerbangan. Non-technical manager, Damaila Fayza Larashati, menyebut tim nyaris batal bertanding sebelum akhirnya masalah teratasi dengan maskapai alternatif berkat bantuan berbagai pihak.
Setibanya di Doha, Antasena langsung menuju lokasi kompetisi untuk pemeriksaan teknis kendaraan. Falcon 3.0 dinyatakan lolos inspeksi pada hari kedua. Setelah penilaian on-track dimulai, Azil memikul tanggung jawab sebagai pengemudi saat mobil melaju di lintasan.

