BERITA TERKINI
Ketegangan AS-Israel-Iran Picu Lonjakan Minat Mobil Listrik di Asia-Pasifik

Ketegangan AS-Israel-Iran Picu Lonjakan Minat Mobil Listrik di Asia-Pasifik

JAKARTA — Eskalasi konflik bersenjata yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu kepanikan energi di kawasan Asia-Pasifik, mendorong peralihan cepat ke mobil listrik (electric vehicle/EV) di kalangan pengendara maupun pelaku usaha.

Konflik yang terus memanas disebut nyaris menghentikan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz, rute sempit yang menjadi salah satu lintasan terpenting bagi distribusi energi global. Selat ini menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.

Dampaknya terasa paling kuat di Asia, mengingat lebih dari 80% minyak yang melewati Selat Hormuz ditujukan untuk pasar kawasan tersebut. Kondisi ini memperbesar tekanan akibat guncangan harga minyak global dan memicu upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Di Australia, negara dengan wilayah luas dan ketergantungan tinggi pada bahan bakar minyak, pergeseran itu tercermin pada data perbankan. National Australia Bank (NAB), bank terbesar kedua di negara tersebut, mencatat lonjakan pengajuan pinjaman untuk EV sebesar 100% sepanjang Maret 2026.

Permintaan kredit EV dari perusahaan juga meningkat 88%. Eksekutif Perbankan Bisnis NAB, Shane Ditcham, menyatakan pihaknya melihat semakin banyak usaha kecil dan menengah (UKM) serta operator besar mengeksplorasi penggunaan EV untuk mengelola biaya operasional di tengah volatilitas harga bahan bakar.

Indikasi lain terlihat dari aktivitas pencarian kendaraan listrik di situs jual-beli mobil Australia yang dilaporkan naik tiga kali lipat pada bulan lalu. Dalam periode yang sama, lebih dari 50% populasi disebut kini serius mempertimbangkan EV.