WASHINGTON DC — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi ujian besar atas kebijakan pemblokiran kapal-kapal yang berafiliasi dengan Iran di Selat Hormuz. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya Washington memutus sumber pendapatan utama Teheran di tengah masa gencatan senjata.
Trump berharap tekanan ekonomi dari blokade tersebut dapat memaksa Iran menerima syarat-syarat AS dalam kesepakatan damai. Di sisi lain, Gedung Putih berulang kali mengeklaim telah menghancurkan angkatan laut Iran. Namun, Teheran diyakini telah lama menyiapkan strategi konflik asimetris, termasuk mengandalkan kapal-kapal cepat yang dinilai mampu mengganggu operasi blokade.
Sementara itu, perundingan damai AS-Iran yang digelar di Islamabad pekan lalu berakhir tanpa kesepakatan. Putaran kedua perundingan kini sedang disiapkan. Trump juga mengeluarkan peringatan baru terkait kemungkinan aksi militer jika jalur diplomasi kembali buntu.
Di tengah blokade yang masih berlangsung dan pembicaraan damai yang tengah digodok, muncul pertanyaan mengenai bagaimana kebijakan tersebut akan berakhir dan apa dampaknya terhadap kelanjutan perang. Mengutip laporan Newsweek, terdapat tiga skenario yang kerap dibahas.
1. Blokade terbatas
Skenario pertama adalah blokade yang mampu menekan ekonomi Iran, tetapi tidak sampai memicu kapitulasi politik. Pejabat AS menekankan bahwa pelayaran yang tidak berkaitan dengan Iran tetap diizinkan melintasi kawasan teluk, sehingga terdapat celah yang dapat dimanfaatkan Teheran.
Iran dikenal memiliki taktik penghindaran sanksi yang canggih, mulai dari transfer minyak antarkapal hingga penjualan melalui perantara. Dalam skenario ini, dampak ekonomi justru berpotensi kembali menekan AS. Ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu volatilitas pasar energi global yang mendorong kenaikan harga bensin dan inflasi, sehingga menciptakan jarak antara narasi politik Trump dan beban ekonomi yang dirasakan pemilih di dalam negeri.
2. Eskalasi dramatis
Skenario kedua dipandang lebih berbahaya karena membuka peluang eskalasi militer dan diplomatik. Risiko bentrokan langsung dapat meningkat apabila AS berupaya mencegat kapal-kapal pembeli minyak Iran, terutama dari China.
Situasi tersebut berpotensi memicu kembali ketegangan dagang AS-China atau mendorong Washington menjatuhkan tarif baru sebagai alternatif dari pencegatan fisik. Selain itu, Trump disebut mengancam akan menyerang infrastruktur Iran—termasuk jembatan dan pembangkit listrik—dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya apabila kesepakatan tidak tercapai.
Jika gencatan senjata berakhir, kedua negara berisiko kembali ke konflik terbuka yang dapat memicu lonjakan suku bunga serta memperparah penderitaan warga sipil.
3. Jalan keluar dibungkus “kemenangan”
Skenario ketiga dinilai paling masuk akal, yakni de-eskalasi melalui negosiasi sehingga kedua pihak dapat mengklaim kemenangan. Dengan saluran diplomatik belakang yang tetap terbuka, Iran disebut mungkin menawarkan konsesi teknis terkait inspeksi atau kebebasan pelayaran.
Trump kemudian dapat mempresentasikan hasil itu sebagai bukti bahwa strategi blokade berhasil. Meski demikian, tantangannya adalah kedua pihak telah menetapkan tuntutan maksimalis sebagai “garis merah”. Isu nuklir tetap menjadi batu sandungan utama: Iran bersikeras pada hak kedaulatan untuk melakukan pengayaan uranium, sementara AS menolaknya secara total.