BERITA TERKINI
Tiga Nama Muncul sebagai Kandidat Mediator Dialog Uni Eropa-Rusia, Kremlin Tekankan Kemauan Politik

Tiga Nama Muncul sebagai Kandidat Mediator Dialog Uni Eropa-Rusia, Kremlin Tekankan Kemauan Politik

Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat mediator untuk membuka kembali dialog antara Uni Eropa dan Rusia. Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kepresidenan Rusia Dmitry Peskov menegaskan bahwa pada prinsipnya perwakilan Uni Eropa mana pun dapat terlibat dalam negosiasi, selama ada kemauan politik yang nyata untuk memulihkan komunikasi.

Pernyataan tersebut disampaikan Peskov kepada kantor berita RIA Novosti, merespons beredarnya nama-nama yang disebut-sebut dapat menjadi negosiator dari pihak Eropa. Menurut Peskov, situasi saat ini masih sebatas “mencari isyarat” melalui penyebutan figur-figur terkenal, tanpa diikuti langkah konkret.

Kremlin, kata Peskov, memandang syarat utama bukan terletak pada siapa yang ditunjuk, melainkan pada kesiapan politik negara-negara Eropa untuk duduk bersama dalam perundingan.

Setidaknya tiga tokoh disebut berada dalam sorotan sebagai kandidat mediator: Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, mantan Kanselir Jerman Gerhard Schröder, serta Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas.

Salah satu nama yang paling banyak dibicarakan adalah Frank-Walter Steinmeier. Presiden Jerman itu lahir pada 5 Januari 1956 di Detmold, Jerman Barat. Ia merupakan politisi senior Partai Sosial Demokrat (SPD) dengan pengalaman panjang di bidang diplomasi dan pemerintahan.

Steinmeier pernah menjabat Menteri Luar Negeri Jerman dalam dua periode, yakni 2005–2009 dan 2013–2017. Ia kemudian terpilih sebagai Presiden Federal Jerman pada 2017 dan kembali menjabat untuk periode kedua pada 2022.

Dalam perannya sebagai mantan menteri luar negeri, Steinmeier dikenal mendorong pendekatan diplomatik terhadap Rusia, termasuk mendukung proyek pipa gas Nord Stream 2. Sikap tersebut belakangan menuai kritik tajam setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Meski demikian, pengalaman Steinmeier dalam negosiasi multilateral serta posisinya sebagai figur yang dihormati di Eropa membuatnya dipandang berpotensi membuka jalur komunikasi. Majalah Jerman Der Spiegel pada 10 Mei melaporkan bahwa Berlin tengah mendiskusikan pencalonan Steinmeier.